Photobucket

Thursday, July 28, 2005


Pilkada 2005 : Salah Satu Cermin Kehidupan Bernegara

- Indonesian version only, since it is only for Indonesian, sorry guys :) -

Entah apa yang dipikirkan oleh Pemerintah ketika dulu mencanangkan Pemilihan Kepala Daerah. Pemerintah Daerah sekarang berangsur-angsur dipilih oleh masing-masing warga daerah dan bukan dari dari Pemerintah Pusat. Tapi, jujur, apakah ini adalah suatu cara yang memang terbaik ? Mungkin memang, secara teori, benar-benar adalah yang terbaik. Tapi, bagaimana secara praktik ?

Hampir (tapi tidak semua) seluruh daerah di Indonesia yang tengah mengadakan pilkada, hampir dipastikan berakhir dengan protes dimana-mana, demo di depan kantor KPU atau di depan gedung DPRD, dan tak jarang pula berakhir dengan aktivitas yang - bukan berbau lagi, tapi amat sangat - Anarki. Sekarang, apa sih sebenarnya yang terjadi ? Mungkin nggak ada satu pun dari kita yang tahu, kecuali dari pihak KPU sendiri.

Memang begitu banyak kecurangan-kecurangan yang (mungkin) terjadi, namun kita nggak tahu secara pasti. Contoh saja, adanya 200 orang yang sebenarnya adalah warga negara Filipina ikut memberikan suara di Pilkada yang lalu, di sebuah daerah di Indonesia. Kemudian, ada lagi kasus dimana anak-anak kecil disuruh memberikan suara di Pilkada. Seorang gadis berumur 11 tahun kemudian bersaksi karena kejadian itu. Saya rasa, masih banyak lagi kejadian yang lainnya.

Bagaimana dengan respon masyarakat disebuah kabupaten di Indonesia, yang beberapa hari yang lalu membakar rumah dinas Bupati (koreksi saya kalau saya salah), kemudian gedung DPRD, dan lain sebagainya, sehingga Kapolda (kalo' nggak salah juga, koreksi saya kalau salah) pernah menghimbau masyarakat lewat salah satu media dengan melontarkan sebuah pertanyaan yang pendek namun dalam. Ia berkata, "Sebenarnya apa sih yang ingin dicapai dari Pilkada ini ? Pembangunan ? Atau Pengrusakan ?". Sekali lagi, tolong koreksi saya untuk setiap pernyataan dan kegiatan-kegiatan yang tengah berlangsung berkenaan dengan Pilkada ini.

Saya kemudian berpikir, karena saya sungguh setuju dengan Kapolda yang menghimbau pertanyaan kepada masyarakat setempat. Saya mencoba berpikir, dan mungkin ... mungkin ... analisa saya bisa 'kena' juga. Kalau nggak kena, ya udah, nggak pa-pa, saya cuman berusaha untuk memaparkan pemikiran saya.

Pertama, dari calon-calon Bupati. Tahu nggak sih apa artinya menjadi seorang kandidat ? Sebuah tanggung jawablah yang menanti anda, bukan 'hadiah-hadiah'. Saya berani jamin, kalau yang anda inginkan adalah 'hadiah-hadiah', anda akan keluar masuk ruangan psikiater seminggu tujuh kali. Sakit maag akut, dan selang endoskopi menunggu anda di rumah sakit. Guys, those people won't leave you alone, until they've got what they want and (they think) they deserve as a person.

Masih ada juga yang bagi-bagi uang saat kampanye, dengan alasan bahwa itu adalah uang ganti transportasi. Hey, listen to me, jika anda adalah pemimpin yang luar biasa, rakyat nggak perlu dibayar uang transportasi untuk memilih anda !!! Mereka dengan rela hati mengeluarkan sejumlah uang untuk mendukung anda. Masalahnya adalah, anda layak apa nggak ?

Saya jujur, masih nggak ngerti, kenapa begitu banyak orang yang ingin menang menjadi seorang Bupati. Mau taro' di CV ? Maaf, saya tidak berpikiran seperti anda atau bupati-bupati yang lain, mungkin … ada yang bisa menjelaskan ?

Kalau anda bilang, 'Elo tau nggak sih ? Gue kan banyak mimpi buat daerah gue. Gue mo' bangun ini itu, dst ...'. Ok, that's great !! Tapi, tahu nggak, mimpi kamu akan jadi kenyataan, nggak selalu dengan menjadi seorang Bupati. Kalau memang kamu layak menjadi seorang Bupati, biar masyarakat yang menentukan. Nggak perlu mengejar sesuatu yang sebenarnya nggak perlu kamu kejar. Masalahnya sekarang, kamu punya nilai lebih nggak ?

Kedua, buat masyarakat. Saya kurang tahu yah, gimana kalian bisa 'memvonis' bahwa pasangan (yang biasanya menang), itu nggak lebih baik dari pasangan yang kalian calonkan (yang biasanya kalah). Kalau kalian punya sumber yang memang terpercaya, silahkan berdemo, tetapi, haruskah dengan segala tindakan yang anarkis, yang umumnya menular ? Apakah kalian nggak berpikir, jika 'jagoan' kalian menang, dan jagoan yang lain kalah, maka massa dari jagoan yang lain tersebut akan menyerang 'jagoan' kalian juga ? Oh iya, satu lagi, hati-hati sama provokator. Udah terlalu banyak provokator yang mendalangi aksi-aksi anarkis. Masih belum belajar juga yah dari sejarah kita dijajah belanda ? Itu karena provokator juga, diadu domba.

Ketiga, buat orang-orang yang merasa orang-orang KPU. Hey, diantara mereka berdua, sebenarnya kalianlah yang lebih tahu. Siapa-siapa saja yang berhak memilih, definisi politik uang itu apa, dan segala macam yang lainnya. Nggak taukah kalian, bahwa kalian itu adalah orang-orang yang 'seharusnya' bersikap netral. Please dong ah, jangan 'mengadu domba' antara keduanya.

Kita semua masih belajar dalam hidup berdampingan satu sama yang lain. Hidup berwarga negara. Saya juga masih belajar. Saya juga nggak menuding siapapun. Saya hanya memberikan sebuah analisa dari sudut pandang saya sendiri. Tetapi yang sebenarnya bisa menjawab, adalah kalian semua. Saya nggak bisa jawab, karena untuk masalah ini, saya hanyalah orang yang mengamati dari luar.

Tapi please dong, kita jadi masyarakat yang dewasa, terutama buat calon pemimpin. Kalau udah berani jadi kandidat, tolong tunjukkan kedewasaan dan kesportifan kalian semua. Tolong diatur para supporter kalian. Tunjukkan bahwa kalian adalah kandidat yang pantas dengan menunjukkan kesportifan kalian, dan jangan racuni rakyat dengan janji-janji surga atau yang lebih parah lagi, dengan uang.

Maaf kalau ada salah-salah kata, karena saya hanyalah seseorang yang buta politik, namun rindu mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan bangsa saya ini, terutama di bidang politik.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home