Photobucket

Wednesday, September 28, 2005


A great story to think of ...

This story is writen by Ardhasena Sopaheluwakan. Check this out ...
*in Indonesian only*

- Ngantri -

Jam sebelas malam hari Jumat. Biasanya, sebagian besar orang sudah terlelap, tidur nyenyak entah itu diatas kasur spring-bed, kasur bulu angsa, kasur kapuk, ataupun hanya sehelai tikar lusuh. Memejamkan mata dan meluruskan badan, imbalan yang layak bagi tubuh yang telah lelah seharian bertarung dirimba beton Ibukota ...

Tetapi tidak hari ini. Hari ini tanggal 30 diakhir bulan. Pada saat malam sudah larut dan hari sudah hampir berganti tanggal masih banyak orang yang melek matanya dan ramai-ramai ada dijalanan.

Pak Samin dan istrinya Mak Ucih termasuk diantara orang-orang tersebut. Pasangan suami istri yang sudah berusia cukup lanjut itu sudah sejak sore hari pergi dari rumah. Berbekal tiga jerigen plastik kosong mereka ikut berdiri dengan lautan manusia didepan mereka, dan jejeran mobil-mobil disebelah kanan mereka.

Sorot lampu jalan membuat wajah keriput Mak Ucih tampak mengkilat karena keringat. Karena kelelahan, akhirnya dia terduduk di trotoar dan sesaat kemudian berujar pada suaminya, "Abah, kirang sabraha meter deui? Tebih teu?". [Terjemahan, sunda: Bapak, masih berapa meter lagi? Jauh nggak?]. Pak Samin menjawab, "Henteu Mak, kirang lima puluh meteran deui urang nepi ka Pom. Kinten satengah jam deui lah ...". [Terjemahan: Nggak Mak, kurang lima puluh meteran lagi kita sampe ke Pom. Kira-kira setengah jam lagi lah]. Mak Ucih pun naik kembali semangatnya ...

Sepuluh menit kurang dari tengah malam... Mereka sudah melewati gerbang Pom. Wajah Pak Samin terlihat tegang karena kurang dari sepuluh menit dia tahu kalau harga akan naik. Perlahan tapi pasti, barisan manusia merayap dan antrian bertambah pendek, Pak Samin bersemangat menggandeng istrinya yang sudah lesu.

Lima menit berikutnya berlalu tanpa ada kemajuan. Pak Samin keluar dari barisan dan melihat kedepan. Samar-samar terdengar grundel-an, dan gerutu-an dibarisan depan mereka. Lalu sosok dua orang laki-laki berseragam biru terlihat mengangkat papan besi dari pinggir, bergegas menuju gerbang Pom. Pak Samin penasaran, kemudian membuntuti mereka ke gerbang Pom, dan ia
membaca tulisan di papan besi: Mohon maaf, BBM habis.


Enschede, 260905.

Salam,
Sena


Fully quoted from Sopaheluwakan, Ardhasena, "Ngantri", Abeghe Mailing List, 2005

A reality that we should think of ... somehow ...

ime'...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home