Photobucket

Thursday, July 20, 2006


I have a story to tell :)

Hey hey... gue punya cerita nih :)

Tadi malem, gue ada acara keluarga. Jadi, (mantan) guru piano (keluarga) gue, dateng dari Amrik and she invited us for dinner. Jadi, dari sore, semua udah mulai sibuk. Kakak gue yang paling tua mandi'in anak-anaknya, sedangkan anak-anak kakak gue yang ketiga mandi sendiri? Anak-anak gue??? Lagi berenang di Surga :D

Kakak ipar gue lagi tidur waktu itu, pas istrinya (kakak gue yang ketiga) nelfon terus nyuruh gue bilang'in ke kakak ipar gue, buat telfon kakak gue balik. I did that (walo' susahnya ampyuuuuuuuuuuunnnnnnnnnnnnnnn deeeeeeeeeeeeehhhhhhh!!!!!!!!!!!!!).

Afterwards, ya gue juga siap-siap dong.

Singkat cerita, we arrived at the restaurant. Rada pangling juga ketemu kak Lily (ya itu, mantan guru piano gue). Sebenarnya pangling itu yang kedua, malu yang pertama. Kenapa malu? Gini, kak Lily itu ngajarin gue main piano waktu gue masih umur mmmm... berapa yah? 4 ato 5 tahun kayaknya. Nah, di umur segitu, gue (guuueeeeeeeeeeeeee gitu loooohhhhhhhhhh) masih bandel-bandelnya (ampe' sekarang kayaknya... kekekekekekekk). Jadi, dulu itu, kalo' giliran gue yang harus belajar piano, gue sering banget ngebelakang'in kak Lily, and then, looking at her through my legs.... heheheheh.... kebayang gak? Dan gak cuman sekali, berkali-kali begitu. Makanya, lu kebayang gak sih, pas gue gede???? Malu suparalu :P

Waktu gue nyalam'in, gue mau bilang nama (in case dia lupa). Terus dia bilang gini, "Ini pasti Melda. Aku masih inget. Nggak berubah." Waktu dia ngomong gitu, gue sampai pada kesimpulan, bahwa kalimat itu punya dua arti. Either waktu kecil tampang gue ketuaan, ato sekarang tampang gue kemudaan (please be the second oneee...).

Anyway, tiba-tiba HP kakak ipar gue bunyi. Temennya ternyata ngelapor, kalo' Jakarta abis kena gempa sebesar (kira-kira 6.2 SR). Terus, kakak ipar gue teaaa... panikan. Dengan suara lantang, "JAKARTA TADI GEMPA!!!!" Mmmm.... kira-kira, respon lo gimana kalo' denger itu? Gue sih diem aja. Nggak tau mau ngomong apa, sambil berpikir gini, "Damn!!! I'm so lucky to be alive at this second..."

Kakak gue yang ketiga terusnya nyampe, dan she felt the shake, actually, in the middle of her meeting. She was somewhere in Sudirman, 11th floor.

Waktu kakak gue cerita, kakak ipar gue berkesimpulan, "Kita harus ngajar'in anak-anak kita on what they should do, kalo' ada gempa," *something like that :D*

Oh iya, anak-anaknya kakak gue yang ketiga ini, umurnya 8 tahun yang paling tua. Masih polos banget deh pokoknya.

Sampe' di rumah, kakak ipar gue manggil anaknya yang paling tua (yang 8 tahun itu), terus dia cerita tentang gempa dan apa yang harus Anto (anaknya itu) lakukan kalo ada gempa. Di luar dugaan, Anto nangis, keras banget. Gue nengok keluar (mereka ngobrolnya di teras depan gitu). "Kenapa?" gue tanya ke kakak gue. Terus kakak gue jawab, "Nggak, abis ngasih tau Anto tentang apa yang harus dia lakukan kalo' gempa,"

Anto waktu itu nangis, takut dia ternyata, terus dipeluk sama kakak ipar gue. Probably, itu yang memang seorang bapak akan lakukan pada anaknya yah... touching banget...

Kakak gue bilang gini, "Anto itu dikasih tau, terusnya dia takut. Terus dia bilang gini, 'Nanti Opa (bokap gue) gimana? Opa kan gak bisa lari...'..." gue dengernya... miris bin tiris boru isis. Asli, gue jadi sedih. Biasanya, Anto ini sama gue rada jarang akur. Udah penakut *cuman ngambil air ke dapur aja takut, padahal ade'nya (cewek) jauh lebih berani*, ngesel'in; tapi sebenarnya dia baik hati, suka share makanan *kekekekekekek...*, terus suka 'ngelayanin' Opa-nya kalo' Opa mau nonton (channel TV diganti'in, tempat kaki diambil'in, semuanya dikerja'in sama dia), baik memang.

Kakak ipar gue juga ngajak Anto ke belakang, tempat Opa biasanya suka baca koran, nunjuk'in kearah tempat dimana Anto harus ada (harus tempat lapang, gak ada plafon, dll). Terus dia bilang gini, "Terus, nanti rumahnya gimana, Pa? Nanti, kita gak punya rumah dong," sambil nangis. Nangisnya tuh menyayat hati, yang ngebuat gue memilih, mendingan gue ke kamar gue deh, kalo' gue nggak mau diliat nangis *actually, gue ngetik ini juga mata gue rada berkaca-kaca*. Sampe' di kamar, gue malah nangis, aneh yah??? Nggak sih... gue udah biasa begitu... kalo' gue nggak tega ngeliat sesuatu and beberapa orang, gue akan sangat mudah menangis. Kasian gitu lho...

Gue, waktu umur 8 tahun, sangat menikmati hidup. Gue main dan feel secure. Ada my older brother, older sisters, (had) Mom and Dad. Masa kanak-kanak gue jauh dari ketakutan banjir, gempa bumi atau bencana alam lainnya. Tapi sekarang, gue ngeli'at anak kecil yang mainnya terbatas (pada TV dan TV dan TV, menurut gue lhooo...), terus harus menghadapi 'kemarahan' alam, berupa bencana alam.... sedih banget...

Kayaknya... apa yah...
Kasihan aja...

yah... gitu sih... ada banyak pelajaran spiritual yang gue belajar. Kalo' di gue, kita manusia harus seperti anak kecil di hadapan Tuhan. Dulu, gue diajar'in untuk being polos dan lain sebagainya. Tapi tadi malem, gue belajar satu hal, being a little kid itu (untuk lebih spesifik) juga untuk mengakui ketidakmampuan kita, mengakui ketakutan kita, mengakui kesalahan kita, mengakui segala sesuatu yang kita rasakan (senang, sedih, kesal, pedih) sama Tuhan. Heheheh... yah gitu...

It was indeed a great evening (day malah :D) i had, walaupun mungkin situasi tidak benar-benar literal berada dalam konteks GREAT and FUN day (gempa bumi gitu looohhh). Kenapa? Karena gue bisa belajar dan gue juga tau gimana gue harus berlaku di kemudian hari :)

Itu aja cerita gue hari ini, have a great day, everybody ;)


ime'...

15 Comments:

Blogger merlyna lim said...

Ime.. pernah belajar piano... berarti bisa dong?

1:31 PM  
Blogger Ophi said...

Imeee hugs and kisses to Anto..
he is so sweeeeettttttttttttttt

:ikut bergelas gelas: hiks!

1:49 PM  
Blogger ime' said...

[teteh merlyn]
kalo' lagu 'Cincang Babi', ime' bisa teh :D... hehehehe... tapi mungkin, kalo' belajar lagi bisa kali :D

[OP]
huhuhuhuhu... iya yaahhh... sweeeetttt... nanti coklat jatah gue dari kak Lily, gue kasih deh :P

1:55 PM  
Blogger FLaW said...

tadi pagi gue nonton metro tv ada berita anak umur 8 taun yg ibu bapaknya meninggal kena tsunami di pangandaran. di pengungsiannya di atas gunung, pas ada gempa lagi rabu kmr itu dia sgt trauma dan lari-lari smp akhirnya dia ketabrak motor. Udah gitu pun dia masih menolak utk dibawa ke puskesmas krn letaknya di bawah. dia takut turun dari gunung. Kasiaaaaaaaaaan banget..hiks...gue smp terisak-isak nonton-nya (ini gue berkaca2 lagi inget berita itu). bener me', dulu waktu kecil kita ga harus khawatir dg gempa, banjir, dsb. anak2 kecil sekarang harus ngadapin itu semua. Kita (gue) aja takut, apalagi mereka.
Mudah2an dibalik semua ini kita bisa ambil hikmahnya. Spt kata lu, emang sll ada yg bisa dipelajari. :)

2:29 PM  
Blogger RealMuhy said...

ooow.. bisa piano-an toh?
gak tau saya......

btw, komen ttg inti ceritamu, itu lah... kita ini tinggal dan hidup asal tinggal dan hidup saja, tidak sadar sebenarnya apa yang ada di sekeliling. hehe. jadinya, kalo ada kayak gitu, seperti mimpi, tapi seharusnya hal spt itu harus di ketahui dan di hadapi, serta di antisipasi. dalam konsep disaster management, evry body should know what they are facing dan konsekuensi nya. itu dalam bahasa yang sederhana. nah, gimana supaya ketahuan? yah tugasnya pemerintah. pemerintah (lokal) harusnya tahu bahaya apa yang ada. kan sudah banyak ahli-ahli kita, dan hubungan2 dengan pihak luar yang bisa membantu. hanya kurang berjalan dengan baik saja. ekor2nya, anak2 kecil yang notabene termasuk kaum paling rentan terhadap bencana (termasuk orang tua dan org2 yang sakit) harus di-aware dan di beri pendidikan dasar yang cukup.... mmmm... bisa jadi panjang nih, ya sudah gitu dulu, saya mau maen piano lagi. intinya, hidup pendidikan!

condolence for indonesia.... skrg orang tau kita bener2 berada di ring of fire.. tiap hari aku memandangi poster peta tektonik dunia dan indonesia di depan ku, ngeri sebenarnya jika mengerti ttg tektonik. yah, termasuk bandung dan kota palu.... bukan berdoa, tapi teoritikally, kedua kota itu bakal parah banget jika yang dibawah itu (dan yang DIATAS) itu mengamuk, atau apapun istilahnya. anyway, science, feeling dan society ternyata harus sepadan. apa sih??? hehehe...

2:58 PM  
Anonymous vidya said...

duh Me', ponakanmu sensitif banget ya orangnya. ga kebayang deh anak seumur gitu begitu penuh empatinya...

8:02 PM  
Blogger ime' said...

[flaw]
iya... ternyata, anak kecil itu, walau girang girang, tapi sebenarnya hatinya sensitif banget...

yah segala sesuatu di dunia ini diciptakan untuk balance, itu yang ideal. jadi, segala sesuatu itu ada hikmahnya, yang baik dan yang buruk. even the worst thing ever happen in this earth has its own goodness... :)

[muhy]
memang pendidikan itu perlu. tapi, ada satu hal yang kurang dari (kebanyakan) pendidikan, yaitu PRACTISING THEORY. kebanyakan sih, orang bakalan meng-underestimate the PRACTISE cause they thought they are MASTERING THE THEORY.

[vidya]
hehehehe... waktu jamannya busung lapar, gue juga bilang sama dia, "Anto, liat tuh, dedenya kelaperan." terus dia bilang, "Mmmm... nanti, kalau aku punya makanan yang banyak, aku kasih ke mereka, biar mereka gak kelaparan..." touching yah?

well, dia memang suka share makanan, tapi dia juga suka banget makan :P kalo' sama ade'nya, abis dia bagi makanannya, dia bilang gini, "Nanti kalo' Lingkan (nama adiknya) gak habis, buat aku yaaa..." kekekekekekekk :P

8:21 AM  
Blogger Spedaman said...

walah waktu umur8 taun, spedaman lagi seneng2nya main bmx keliling desa! hahaha,,,
soale dijakarta masih sepi... dan ga sepolusi sekarang:D

10:47 AM  
Anonymous firman said...

waaa.iyah,kata org ada gempa,tapih sayah ga ngerasaa...aduhh,kumaha inih.

7:23 AM  
Blogger Dhonatneth said...

mel.. kalo ngomong soal gempa, emang nih bikin kawatir banget deh...
kalo ngomong soal anto... wahh cowo tapi hatinya selembut sutra yah... sensitive banget yah...

Ps: Gw ngakak abis pas baca bagian "Ini pasti Melda. Aku masih inget. Nggak berubah." ....hahahhahaha...

10:17 PM  
Blogger clodi said...

kesimpulannya,
elu bisa maen piano nga sekarang me??? hehehehe.. gue dulu waktu kecil juga pernah diajarin organ ama guru yang dateng ke rumah.. tapi sampe sekarang, gue bisanya cuman maenin lagu2 anak2 doang, huehehehehehe.. tida berkembang!

4:54 PM  
Blogger Madame Butterfly said...

Naah gue paling suka kalo ime udah nulis gini nih....

"Hey hey... gue punya cerita nih :)"

Pasti slalu menarik [ada sisi lucunya], berkesan dan punya nilai sendiri.

9:26 AM  
Blogger ime' said...

[dhani]
huhuhuhuhu... gue 8 tahun lagi dimana yah??? kayaknya dah di jakarta deh. yang gue inget masa kecil gue cuman main, main dan main :P mainnya bisa main apa aja :))

[firman]
hayoooo... gimana loooo... hayo loooohhhh....

[dhonaneth]
heheheheh... iya emang. yah makanya, kita cuman bisa ngejalanin idup doang :D

[clodi]
hehheh clod, gara-gara gue bandelnya setengah mati sama kak lily itu, gue langsung di-les'in orgen, tapi bukan privat, di taro di kelas gitu :)):)) abis, gue bandel banget.

kalo' main orgen gue bisa, asal ada bukunya :P tapi, gue mah mendingan main gitar lah =))=))=))=))

[juragan kupu-kupu]
kekekekekekek... iya yah, gitu yah? waaaaa... lu mesti baca 'autobiografi' tahunan gue dong :P gak ada lucu-lucunya :)):)):))

1:01 PM  
Blogger ruth said...

hikhik..terharu pas baca ttg bgmn anak kecil...punya kemampuan untuk
mengakui ketidakmampuan kita, mengakui ketakutan kita, mengakui kesalahan kita, mengakui segala sesuatu yang kita rasakan (senang, sedih, kesal, pedih) sama Tuhan.

it means juga ga ada gengsi dong kalo kita mau jadi anak kecil di hadapane Tuhan... :D...
hehe...

thanks 4 supporting me,
gbu

11:03 AM  
Blogger ime' said...

[ruth]
hehehehe... iya... soalnya, gue suka gak apa adanya sih :)):))

paling kalo gue jadi orang yang apa adanya didepan Tuhan itu adalah... gue... pelupa :)):)):))

hehehehhe... gue yang harusnya thanking you :P

don't mention it ;) that's what friends are for, right???

9:01 AM  

Post a Comment

<< Home