Photobucket

Friday, March 06, 2015


(2/52) I'll See You 'There'

Tiga hari ini bukanlah rangkaian hari yang menyenangkan buat gue. Gue kehilangan seorang teman, editor, guru, teladan, you name it. Gue kehilangan salah satu figur orang yang suka dan menikmati untuk menjadi dirinya sendiri. Gue kehilangan seorang Titan Harinda.

Gue kenal Titan waktu dulu diajak nge-band dengan nama 'Most High' di kisaran tahun 2005-2006-ish, sepulang gue dari sekolah di Belanda. Orangnya dulu diem banget, orang majalah, tapi mainannya gitar listrik. Dulu, bagi gue, Titan itu menakutkan; diem-nya itu lhooo... gak nahan. Tapi, Titan yang itu, sangat jauh dari gue. Mungkin juga karena gue dibesarkan menjadi orang yang takut dengan orang lain, gue merasa nggak bisa untuk bisa kenal seorang Titan lebih dekat lagi. 

Most High kemudian bubar, gue lupa kenapa. But life goes on. 

Gue ketemu Titan lagi di tahun 2009, di mana gue memutuskan untuk bergabung dengan tim BREAKING (sekarang namanya ALIVE), sebuah majalah bulanan salah satu gereja di Jakarta. Gue bergabung dengan majalah itu, mungkin karena portfolio gue yang sering di nulis blog (BLOG INI! hahahha) dan juga karena gue modal 'nekat'. Kenapa 'nekat', karena seperti yang gue bilang sebelumnya, gue besar menjadi orang yang takut pada orang lain. Gue takut buat salah, dan gue udah kenyang dimarah'in sedari kecil. Tapi, di tahun 2009 itu, gue sadar bahwa ada di 'comfort zone' gue, yang takut sama orang lain itu, nggak akan membuat gue kemana-mana. Jadilah, gue apply ke majalah itu sebagai tenaga sukarela simply untuk 'memperbaiki' persepsi gue tentang orang lain dan menang atasnya.

Setelah menunggu 3 bulan, gue akhirnya ditelepon, dan gue bisa bergabung dengan majalah itu, di bawah supervisi seorang Titan Harinda. Awalnya, gue kayak ngelengos, "E buset... dia lagi???", tapi, gue inget lagi niat gue di awal, I wanna come out from my comfort zone. Terserah siapa yang jadi team leader gue.

Rubrik yang harus gue tulis cukup menantang dan baru dibuat; idenya Titan. Jadi gue pikir, itu kesempatan buat gue untuk menjajaki, gue bisa apa, dan bentuk artikelnya gimana. It's a good thing, gue gak perlu terintimidasi dengan hasil tulisan orang lain. 

Waktu berlalu, dan rubrik gue pun evolve, karena kebutuhan supaya orang gak bosan. Seiring dengan evolusi rubrik yang terus gue tulis, komunikasi gue dengan Titan pun berevolusi, karena selalu terpicu oleh adanya kebutuhan untuk 'merombak' konten, tujuan, dari rubrik itu. Sudah hampir 6 tahun gue melayani, rubrik itu tetap ada; namanya Ministry Life. Bukan cuman itu, dia push gue beyond my limit, untuk menuliskan artikel-artikel tentang travel yang gue lakukan, untuk dimuat di majalah. 

 Komunikasi gue pun berubah dari yang bos-bawahan, menjadi teman, sahabat, kita even nemu istilah baru, Galau Rohani. Biasanya dibuka dengan sedih, pedih, dilanjutkan dengan melankolis, dan diakhiri dengan ketawa-ketawa super yang membuat kita bangun dari sedih, pedih, bin melankolis.

He's like a big brother to me. Pemimpin yang selalu mengingatkan gue, "Apa yang membuat elu pertama kali jatuh cinta sama Tuhan, hingga kemudian mau terjun ke Ministry ini?" Dan percaya deh, pertanyaan itu sangat powerful untuk membawa level kekuatan elo dari nol sampai maksimal. Ibaratnya di game, ada satu komponen yang harus lo ambil dan konsumsi, supaya lo bisa dapat ekstra nyawa. Gue belajar, itu lah gunanya komunitas; we share, we care, thus we dare. Itu, gue dapat dari Titan.

Sekitar bulan Oktober 2014 lalu, waktu gue lagi di Barbados, gue dapat WA dari istrinya Titan, Frisca, kalau Titan masuk rumah sakit. I was shocked; Titan gak pernah mengeluh sakit apa pun. Titan masuk rumah sakit, itu aneh buat gue. Setelah itu, I found out kalau Titan paska itu harus cuci darah secara reguler. Pada saat itu juga, gue punya rasa sungkan sama Titan, kalau-kalau dia merasa terganggu kalau gue ganggu.

He never changed. Dia adalah orang yang sama baik pada saat dia sakit atau pun sehat. Titan is Titan.

Awal Januari 2015, gue mengajukan pertanyaan sama Titan, tentang sebuah formulir yang gue dapatkan di bulan Desember 2014 waktu gue ada di Peru. Titan menjawab, "Itu dari gue sih (gue yang masukin nama elo). Yang gue liat dimana pun elu berada, tetap submit artikel. Banyak kasus kan pas elu di luar negeri. Terus selain itu, elu cenderung selalu kasih ide-ide baru yang kreatif. Good initiative." Dia bilang juga, "It's a blessing me. People are judging you, not you are seeing yourself" (gue ngerti lah ya maksudnya). Gue adalah orang yang senang dengan facts. Kalau lo mau puji orang, kenapa; kalau lo mau cela orang, kenapa? Kalau misalnya ketemu dengan alasannya, lo jadi tau apa yang harus lo pertahankan dan tingkatkan, dan mana yang harus lo perbaiki. Titan, adalah orang yang bisa lihat itu. Dia bisa lihat potensi elo, kesungguhan hati elo, tanpa basa-basi atau pun dibuat-buat. Dia fair.

Minggu, tanggal 1 Maret 2015, gue yang lagi asik dengan eksperimen grilled potato and melted cheese, kemudian mencoba untuk membuatnya. Gak sempurna sih, cheese-nya kurang melted, dan potatonya kurang brownish-grilled. Sedih, tapi gue makan juga. Tidak lupa, fotonya gue publish di path gue. Titan nyeletuk di path dan bilang, "Gue suka potato! Lo harus bawa'in gue, hari Kamis, pas Build Night!". Gue ketawa, menyadari bahwa potato gue gak sempurna, gue cuman bilang, gue work on it first, then I'll give it to you.



Selasa, 3 Maret 2015, Titan ngirimin lagi undangan untuk ke Build Night tanggal 5 Maret 2015. Gue udah jauh-jauh hari save the date untuk itu. Gue even membatalkan perjalanan dinas gue yang harusnya dari tanggal 2-5 Maret 2015 ke Bangkok. Selasa malam itu, gue gak bisa tidur ...

Rabu 4 Maret 2015 dini hari, gue terbangun setengah 1 malam, menyadari ada WA masuk ke gue, kasih berita kalau Titan mau masuk ICU. I prayed. I slept. But not that much...

Jam 4 pagi, an updated news tentang Titan...

Jam 1 siang, katanya Titan passed away, I was in the middle of my meeting. Tapi kemudian, setelah jantungnya di-pompa, Titan balik lagi. And I put a status on my path, "C'mon Titan!!!" I wanted him to live.

I went there after my meeting. Kata bos gue, "You're very close to him ya... Kelihatan dari mukanya..." Gue cuman ngangguk. Jadi, bos gue memberikan gue ruang untuk gue bisa lihat Titan since then.

5 PM-ish gue masuk ke ICU, lihat Titan. Nafasnya pakai ventilator, and he was grasping for air. Gue sempat kesal lihat 2 AC pas di atas tempat tidurnya. Rasanya pengen marah. I frowned. Entah kesal karena AC itu, atau karena gue pengen Titan bangun dari tempat tidurnya. 

I went back at 7.30 PM makan dulu sama beberapa teman lain, dan catched kereta jam 9.30 PM. 

Thursday morning, 5 Maret 2015. I went to my office. WA kosong, gak ada kabar. Percaya kalau Titan membaik. Mendadak gue nangis pagi-pagi di kantor. I want him to live. Untuk menghilangkan semua ke-melankolis-an, gue paksa diri gue untuk mengerjakan apa yang harus gue kerjakan, dan jadi galak sama diri gue sendiri. Gue pergi ke Kedutaan Korea untuk apply visa. OB yang gue mintain tolong untuk antar jam 11, malah keluyuran tempat lain. Berusaha untuk gak emosi, gue bilang, "Ya udah, anterin saya yah..." Sampai di Kedutaan Korea, udah tutup, gue gak bisa apply, harus besok. Jengkel sih sama OB-nya, tapi terus gue pikir, ya udah lah, pasti ada sesuatu yang baik dari ini semua. 

Sampai di kantor, gue lagi briefing orang admin, pelan-pelan untuk menyampaikan mau gue. Supaya gak kelihatan kesal. Dan HP gue berdering... Suara Rere baru bilang, "Ime'... udah dapet kabar..." dan selebihnya, gue gak mau dengar lanjutannya. Rasanya mau marah sama Rere. Rasanya mau marah sama yang lain.

Titan udah gak ada. Dan gue nangis sendirian di ruangan gue.

Dan Kamis malam, 5 Maret 2015, waktu di mana seharusnya kita ikutan build night di Upper Room, kita ada di Rumah Duka RS Cikini untuk Titan. Funny, karena paginya, gue grilled potato, tanpa cheese, untuk makan siang...

--

He's gone, now I can accept that. Gue yakin, Tuhan itu baik, seperti yang seringkali dikatakan Frisca, istri Titan, sepeninggalan Titan.

Kata Gembala gue, "Kalau kamu tidak menemukan teladan yang kamu cari, be one." Sama aja kayak gue pernah bilang sama domba-domba yang dipercayain sama gue, "Kalau gak bisa nemuin satu aja kebaikan Tuhan dalam hidup elo, make one."

Gue masih menghabiskan beberapa jam dari waktu gue untuk melihat sesi-sesi galau rohani yang pernah gue punya sama Titan. Sesi melankolis K-pop Rohani (hahaha), sesi menceritakan mimpi, dan gue lihat gimana kita bisa jadi seperti anak-anak saat kita bicara soal Tuhan, soal Yesus, dan kuasaNya yang kita percaya. Mirip deh sama anak-anak kecil yang bangga sama Papanya, bilang kalau Papanya itu Superman! 

Dan gue rindu itu semua. Tapi gue belajar, gue harus bisa membagikan apa yang udah pernah dibagikan Titan ke gue. How it changed my life and my perspective. Gembala gue bilang bahwa Tuhan itu bisa pakai semua kehilangan kita, brokenness kita, untuk membantu kita menemukan tujuan hidup kita.

Melalui ini, gue juga yakin, kalau Tuhan itu punya maksud yang sangat baik buat kita semua yang ditinggalkan. Gue juga belajar bahwa kita nggak perlu menunggu orang untuk meninggal dulu, baru kita puji-puji. Compliment people while they're alive. Let them know, how valuable they are to you. I learned that. Titan taught me.

Terima kasih, Titan. I'll see you 'there'.



Cheers,

Ime'...

PS: save me God's grilled potato with melted cheese, will you??? 


Labels: ,

0 Comments:

Post a Comment

<< Home