Photobucket

Sunday, June 28, 2015


(7/52) Rumah...

Rumah bagi saya adalah sebuah tempat di mana saya bisa beristirahat, minim tanggung jawab, dan mendapatkan kebebasan saya untuk melakukan segala macam hal yang saya mau. Kebanyakan kalau di rumah, saya nonton film, baca buku, masak, dan tidur. Saya jarang banget nonton TV di rumah. Kalau sudah sampai rumah, I wanna have time for my mind to not think of the outside world. Semenjak kecil juga, terutama sejak mama saya meninggal, saya diajarkan untuk memberikan ruang bagi anggota keluarga untuk mengistirahatkan pikiran mereka. If we're going to do something fun, we'll do it di luar rumah, pergi ke mana kek. Tapi tidak di rumah.

Kemudian saya sampai di sebuah gereja yang banyak orang bilang tidak biasa. Tidak ada kantong persembahan yang diedarkan, kalau memberi ya memang karena mau memberi, bukan karena disodorin kantong. Dan hari ini, saya belajar konsep lain lagi: gereja adalah rumah. Memang di gereja ini saya dapat banyak banget insight tentang bagaimana harusnya hidup. Dan buat saya, insight itu hanya bisa saya dapatkan ketika pikiran saya beristirahat. Berapa banyak kali saya mendapatkan ide ketika pikiran saya beristirahat. 


Banyak banget orang yang nggak bisa menerima orang yang apa adanya. Tapi masalahnya, saya nggak bisa pura-pura. Sudah semenjak lama, saya berpikir bahwa berpura-pura itu cape' banget. Kebanyakan kita berpikir bahwa jadi orang Kristen itu HARUS baik. Well, saya belajar, baik itu adalah buah dari benih apa yang kita tanam di dalam hati dan diri kita. Saya belajar bahwa menjadi 'baik' yang prosedural tanpa tau mengapa atau bagaimana, itu nggak akan tahan lama. Tapi 'baik' yang merupakan buah dari benih yang ada di dalam hati kita, itu akan tahan lama. Kita nggak perlu paksa, ada musimnya; yang kita perlu adalah memeliharanya, memupuknya. 

Di gereja ini saya mendapatkan rumah. Saya memiliki Bapak Rohani dan kakak-kakak rohani lainnya, dari siapa saya selalu diberikan makan tiap bulannya lewat pertemuan-pertemuan khusus, sedangkan di hari minggu, saya bisa mendapatkan makanan lainnya. 


Di gereja saya belajar untuk mengambil tanggung jawab dan keputusan. Saya bersedia (waktu itu dengan terpaksa) untuk menjadi salah satu pemimpin di gereja ini. I had no idea what to do, actually. I had nothing. Karena saya nggak bisa bilang 'nggak' aja, jadinya saya ambil. Tapi ternyata, keputusan itu membawa saya pada hal-hal yang saya nggak pernah bayangkan sebelumnya. Saya harus jadi seorang pemimpin yang memimpin orang yang lebih senior dari saya, pernah juga saya 'dimarahin'. Saya harus jadi pemimpin untuk orang-orang yang sudah menikah, how in the world can I do that? Saya harus menjadi pemimpin untuk salah satu single parent yang kemudian memiliki masalah finansial, again, how in the world can I do that? Belum lagi yang single-single yang pikirannya 'gimana caranya dapat pasangan hidup', di kala ada begitu banyak hal lain yang bisa dipikirkan, gimana juga memimpin orang-orang yang pikirannya konvergen ke situ aja, tanpa even bother dengan talenta dan potensi yang mereka miliki dan bisa kembangkan?

I learn bahwa jadi pemimpin di gereja itu bukan karena kemampuannya, tapi karena kebersediaannya. Pergerakan saya di kantor tidak sebebas pergerakan saya di gereja. Saya belajar bahwa pemimpin itu bukan orang yang kerjanya nyuruh-nyuruh, pemimpin itu kerjanya memfasilitasi orang supaya bisa menikmati hal-hal terbaik. 

Definisi rumah bagi saya nggak berubah; bukan hanya tempat, tapi juga suasana untuk berpikir. I can be in anywhere and still feel at home, karena saya meluangkan waktu untuk mengistirahatkan pikiran saya untuk sesuatu yang baru. Tapi, satu hal yang saya tahu, rumah adalah tempat di mana kita juga bertemu dengan orang-orang yang membuat kita kuat dan berharga. Sehingga kita yang lemah, bisa bilang kalau kita itu kuat, dan kita yang miskin bisa bilang bahwa kita itu kaya. Karena kita punya rumah, yang isinya nggak perlu barang mewah, tapi orang-orang yang bisa dukung kita no matter how sucks our surroundings are...

Thank you, my second home...

ime'...

Labels: , ,

0 Comments:

Post a Comment

<< Home