Photobucket

Tuesday, April 19, 2016


Menjadi manusia...

Heyho!

Gue kembali lagi ke blog tercinta inih... simply karena gue pengen menceritakan apa yang ada di benak dan pikiran gue akhir-akhir ini. Lucunya, gue terpikir judul di atas, 'Menjadi manusia'. Mengapa? Nanti gue cerita'in.

Lately, gue suka banget sama drama Korea. Beberapa orang mungkin berpikir, kok ya gue memasuki season ini telat banget ya? Gara-garanya apa ya? Oh, gara-gara ada orang yang memperkenalkan gue sama N**f**x. Dari situ gue berkenalan dengan drama Jepang, Korea, dan kemudian waktu gue ke Korea, ternyata drama Koreanya beda sama yang bisa gue akses di Jakarta. Akhirnya, keterusan deh gue... Tapi, gue tipe orang yang selalu berpikir, bahwa segala sesuatu itu tidak pernah ada yang kebetulan, termasuk kenapa gue 'bertemu' dengan drama Korea ini. Gue udah nonton beberapa judul, dan setiap film itu, gue belajar sesuatu yang baru. Kalau dibuat diagram Venn-nya, semuanya itu berujung pada satu hal: menjadi manusia.

Gue nggak tahu berapa banyak dari kalian semua yang membaca tulisan ini, punya kemampuan untuk mendapatkan satu atau beberapa pelajaran dari kejadian dalam hidup masing-masing atau orang lain. Gue sampai dengan hari ini berpikir, bahwa gue bisa menarik pelajaran hampir dalam setiap hal kecil dalam hidup gue. Kenapa gue nonton drama Korea, kenapa gue harus datang ke meeting A, kenapa gue harus ikutan training B, kenapa gue harus ke Nepal, ke Korea, ke Paris, kenapa harus jatuh cinta, kenapa harus sakit hati, kenapa harus menunggu, kenapa harus pergi, kenapa harus berjalan, kenapa harus berlari, kenapa harus bertemu, kenapa harus berpisah. Pokoknya segala sesuatu pertanyaan gue yang diawali dengan 'kenapa', hampir semuanya gue bisa mengerti simply karena fenomena yang terjadi dalam hidup gue. Memang tidak dengan hasil yang sekali jadi, seringkali gue harus mengambil sample berkali-kali, melakukan ekstrapolasi, menguji, dan akhirnya mengerti. Everything is about a process.

Gue itu salah satu orang yang mendapatkan kepercayaan untuk memimpin beberapa orang di salah satu gereja yang cukup terkenal. Seringkali juga, orang melihat gue terlampau 'holy', hanya karena gue posting foto-foto tentang kegiatan-kegiatan gereja, atau posting quote 'rohani', atau bahkan check-in di gereja gue di hari Minggu, untuk menunjukkan kepada semua orang, gue ada di mana. Gue sebenarnya jarang banget check-in kalo' ke mana-mana. Biasa aja menurut gue. Kecuali kalau menurut gue, memang itu sesuatu yang perlu gue lakukan karena gue pengen orang tahu, gue bergereja di mana. 

Tapi, pandangan orang yang mengenal gue sebagai pemimpin rohani itu, kadang membuat gue risih tiada taranya. As if, karena gue pemimpin, kemudian gue menjadi kaku, terlampau holy untuk diajak ngobrol ngalur ngidul, gak bisa pulang terlampau malam, dan lain sebagainya. Hey, FYI, gue masih napak bumi, gue masih buat salah, dan gue adalah manusia. 




Gue nonton drama Korea, gue bangun kadang juga siang, gue masih bisa kesal sama orang, gue masih bisa meng-counter orang lain, gue masih punya perasaan dan egois, gue masih bernafas, dan gue masih berpikir waras. Gue masih nonton di bioskop, gue dengar lagu-lagu over melankolis, gue dengar lagu alternatif, bossanova, gue masih suka nyanyi-nyanyi lagu dangdut kalau bercanda. Gue masih bisa mencintai orang lain, gue masih bisa membenci orang lain, gue masih bisa sakit hati, tapi gue juga bisa menyakiti hati orang lain. Nggak semua hal gue terima, nggak semua hal gue tolak. Nggak semua hal dalam hidup gue adalah hitam dan putih, gue pun sering berjalan di area abu-abu. Bedanya dengan yang lain, justru dalam area abu-abu ini, gue membuka pembicaraan gue sama Tuhan yang gue percaya. Apakah kemudian gue salah kalau gue menjadi seorang manusia? Toh gue dilahirkan sebagai manusia kan?

Beberapa hal yang gue belajar dari beberapa film Korea yang gue tonton, untuk menjadi manusia itu artinya kita:

1. Menghadapi berbagai macam masalah, menghadapi berbagai pilihan: mau dongkol atau take things easy? Tapi gue belajar, justru satu penanda bahwa kita masih hidup itu adalah ketika kita menghadapi masalah. Jadi, harusnya kita celebrate, cherish masalah itu, bukannya disesali. We need to face it, rather than to complain about it. Kadang bahkan sebagai seorang pemimpin rohani, lo juga harus berhadapan dengan dosa yang lo buat. Dosa itu bagi gue gak ada yang besar dan gak ada yang kecil; dosa adalah dosa. Tapi, kesadaran bahwa elo harus menghadapi hidup ini, yang dipenuhi oleh dosa, menandakan bahwa lo itu masih hidup. Jadi, kenapa harus go down under, you simply need to accept, ask forgiveness and move on.

2. Love and care are most of the time, the medicine for living. Dari berbagai judul film yang gue tonton, gue bisa mengambil kesimpulan bahwa kita bisa mengampuni, karena kita menerima kelimpahan love and care dari orang-orang terdekat kita. Name it, family kek, pacar kek, teman kek; we survive karena their loving and caring. Pertanyaannya adalah: lo tuh dikelilingin sama orang-orang yang seperti apa? Loving and caring sincerely for you, or for your belongings?

3. We are the main character of our own movie of life. Seringkali kita merasa minder dengan orang lain yang kapasitasnya lebih luar biasa (menurut kita). Tapi, you know what, your life is your own movie and you're the main character of it. Jadi, kenapa terus elo harus minder sama orang lain? Bukan kah kita yang harusnya melukis di atas kanvas kehidupan kita, tentang apa yang kita mau untuk orang lain lihat? Then, why do you have to compare yourself with others?

4. Be yourself, everyone else is taken. Lo nggak perlu untuk ngikutin orang lain for the sake to be accepted. Maaannn, jadi diri sendiri aja susah, lo mau nambah-nambahin pula jadi orang lain. Mendingan energi lo itu dipakai untuk elo semakin menajamkan kekuatan elo. Why do you have to think about your weaknesses while you have strengths that need more of your attention?

5. Never be afraid to ask for help. Gue belajar mengenai being vulnerable to others, well ya mungkin gak semua orang ya, tapi being vulnerable itu membantu elo untuk bisa memperlihatkan sisi yang mungkin bagi orang lain cukup tabu untuk diperlihatkan. Dan being vulnerable itu adalah kondisi di mana elo paling menjadi manusia.


I do have problems dengan mind-set gue, hati gue, kadang ya. Gue pun harus mengakui bahwa gue seringkali greedy dan menginginkan begitu banyak hal, yang sebenarnya gue juga belum tentu mampu untuk bisa mengelolanya. But hey, again, I'm still human being, and I like to be human.



Gue senang dengan fakta bahwa kita punya segala sesuatu yang kita pernah perlukan untuk bisa mengobati dan menolong diri kita sendiri melewati banyak hal. Kita sering banget tidak bisa menemukannya, karena memang kita tidak mencarinya. Menjadi manusia bukan berarti hanya melakukan sesuatu untuk lari dari yang lain, tapi melakukan sesuatu untuk menghadapi hal-hal lain yang tidak pernah kita duga. 


Gue tidak pernah menduga bahwa hidup gue akan quite complicated. Tapi, semakin gue lari dari hidup yang complicated, semakin gue tidak hidup. Life is about facing difficult things bravely, and not running from it. Yang harus lo cari adalah apa yang bisa lo lakukan untuk bisa deal with things. Call a friend and listen to their cries, that can be done. Nonton film Korea dan belajar sesuatu, itu juga bisa. Nulis di blog, itu juga bisa. Apa lah pokoknya. Just make sure that you live this life and facing it to be mature and not to run away from it.

Anyway, hidup film Korea lah!

#apasih #randombanget

ime'... 

Labels: , ,

0 Comments:

Post a Comment

<< Home