Photobucket

Sunday, April 24, 2016


Menulis adalah...

Menulis adalah, bagi gue, suatu kegiatan yang aneh tapi nyata untuk membuat gue lebih banyak berpikir; bahkan berpikir ulang. Itu sebabnya, dulu, ketika seorang teman yang sepertinya melihat potensi menulis di dalam diri gue, kemudian membuatkan gue blog ini (trima kasih, Nggo). Gue gak bisa berbuat banyak untuk mengedit tampilan blog ini memang, bukan karena nggak bisa, tapi karena mungkin gue masih ragu untuk mulai masuk dalam dunia blog design, either takut ketagihan dan tidur terlampau malam, atau karena takut frustrasi kalau nggak jadi. 

Perjalanan menulis gue sepertinya tidak terasa, tapi cukup panjang. Karena gue dibesarkan menjadi orang yang terkadang sangat introvert, gue merasa bahwa menulis adalah satu-satunya aktivitas yang bisa membuat gue mengekspresikan diri gue. Waktu SMP, gue pernah mencoba untuk membuat cerpen. Anehnya, gue nggak pernah bisa membuat a good ending dari semua cerpen-cerpen gue. Dan dulu, karena gue nggak kepikiran untuk buat tulisan di komputer, jadinya gue menulis tangan. Hahahha... cape', kali ya... gue nggak ingat. Kuliah, gue mulai menulis tapi ya acak adut. Baru ketika gue ke Belanda, gue mulai mengecap yang namanya internet super cepat, dan gue bisa menulis berjam-jam.


Funny thing, gue nggak pernah punya konsep untuk menulis. Jadi, walaupun gue bisa menulis cepat, editing is another problem for me. Gue sampai ditegur sama supervisor gue waktu di Belanda, untuk setidaknya mulai mengalokasikan waktu untuk mengedit. Surprisingly, ketika gue edit, my reports are way better than before, lebih bermakna dan tentu saja, jauh lebih berguna. 

Gue sempat menjadi jurnalis basket sebelum gue ke Belanda. It was different, antara lo menulis dengan angan-angan lo, dengan personal findings lo, dan ketika lo harus ketemu orang, dan meminta orang tersebut menjadi narasumber. It was a big failure for me sebenarnya, karena gue takut sama orang. Tapi, gue ternyata bisa sekarang menjadi salah seorang jurnalis di salah satu gereja terbesar di Jakarta. Bertemu dengan orang lain, saat ini, sudah tidak menjadi ketakutan lagi buat gue. Kesenangan gue kemudian berganti menjadi bagaimana 'mengorek' orang dengan menyusun pertanyaan-pertanyaan yang standar.

Sekarang gue mulai mencoba untuk activate my blog, karena sebuah drama Korea yang barusan gue tonton (apparently gue tonton berulang-ulang), yang bercerita mengenai kehidupan orang-orang yang bergerak di majalah. Ada dateline, ada artikel yang harus dikejar, dan bagaimana meeting jurnalis itu dilakukan untuk menentukan konten dari majalah itu. Di situ juga diceritakan bahwa salah satu dari jurnalis itu (in the end), apparently adalah seorang penulis buku yang luar biasa, dan dia bekerja di majalah tersebut, untuk menyembunyikan identitasnya. Di satu season dalam hidup dia, dia memutuskan untuk melakukan coaching pada satu orang junior di tempat itu (yang sebenarnya dia suka, ini tambahan informasi gak penting sebenarnya... hahahah), mengenai bagaimana caranya untuk membuat sebuah artikel yang baik. Dia bilang, kalau lo gak bisa membuat first paragraph itu menjadi menarik bagi pembaca, then artikel itu tidak akan pernah bisa menarik perhatian orang.

Salah satu tulisan gue tentang travel untuk salah satu majalah di Jakarta

Gue pernah beberapa kali menulis tentang travel untuk sebuah majalah di Indonesia. Sebenarnya, tulisan gue itu diminta oleh teman gereja gue, almarhum, yang dulu adalah editor gue. It was fun waktu gue menulisnya, bayarannya memang tidak seberapa, tapi, what I like was the feeling. I can do anything dengan tulisan gue without anything to loose. Recalling those moments, sepertinya gue jadi semakin merindukan masa-masa itu.

Salah satu kepuasan gue dalam menulis adalah melihat nama gue tercantum sebagai penulis

Gue juga jadi ingat tentang buku gue yang dulu sempat gue tulis. Buku itu sebenarnya ditarik dari pengalaman gue sekolah di Belanda, dan mengenai persahabatan. Kenapa persahabatan, karena gue punya 2 orang sahabat yang luar biasa, yang bahkan ketika gue harus melepas mereka di bandara, paska itu gue nangis nggak berhenti (sekelibat cerita tentang mereka, bisa dilihat di sini ). Sayangnya, buku itu tidak selesai, karena gue malas ngeditnya. Dan tau nggak, ternyata, nulis sendirian untuk menggambarkan perasaan 3 orang yang berbeda-beda itu, susah bingids, brader!!!

Gue kembali menulis di blog ini pun, sebenarnya karena drama Korea itu. Seperti, mengembalikan gue ke state yang semula. Suka menulis. Hanya saja, this time, I want to do it right. Gue pengen punya scrapbook yang bisa membantu gue dalam menulis. Salah satu mantan bos gue (dia tukang nulis juga), pernah bilang begini, "Me', otak lo itu kalau nulis tumpah, jadi lo harus menstrukturkan tulisan elo...". Sekarang juga gue ngerti kenapa dulu waktu pelajaran bahasa Indonesia tentang mengarang, kita itu harus buat yang namanya kerangka karangan. Itu sebenarnya untuk menuntun kita aja, mau nulis apa. 

At this moment, kebanyakan pekerjaan gue adalah menulis. Tapi, gue ingin melakukannya dengan baik, efektif, indah, dan bisa give a 'punch' buat orang-orang yang membacanya. However, gue memang memerlukan suasana yang sesuai. Background lagu Korea may help, suasana sepi, nggak ada teriakan-teriakan di luar ruangan lo, dan gue harus mengakui, bahwa rumah bokap gue adalah tempat ternyaman untuk gue bisa menulis dan berkarya dengan baik.

Gue juga menyadari kenyataan bahwa, bukan berarti gue punya komunitas untuk jurnalis, kemudian gue bisa melakukannya simply karena gue selalu menulis. Sepertinya, gue jadi punya konsep yang salah tentang menulis jika berpikir demikian. Justru, setiap hari, gue harus mulai berpikir mengenai apa yang mau gue tulis, kerangkanya, bahannya dari mana, dan lain sebagainya. Gue ingin menulis banyak, pastinya. Tapi, gue juga belajar, bahwa untuk menjadi penulis itu, gue harus punya waktu untuk membaca dengan baik dan tenang. 

Sudah bertahun-tahun gue menulis, dan variatif. Tapi, tidak pernah sekali pun juga, gue merasa gue adalah penulis yang baik. Masih ada ruang untuk improvement, whenever it comes to writing.

Jadi, menulis adalah? Menstrukturkan ide dan pikiran kita, memformulasikannya dalam sebuah scrapbook, dan mengelaborasikannya menjadi sebuah cerita yang mengubahkan hidup orang lain. Something like that...

ime'...

Labels: , ,

0 Comments:

Post a Comment

<< Home