Photobucket

Monday, August 29, 2016


Dunia ini adalah Rumah Sakit

Beberapa minggu terakhir, gue banyak memberikan reward kepada diri gue sendiri dengan nonton serial film Korea (yang gue sadarnya telat banget tentang keseruannya hahahah...), setelah gue berhari-hari lembur, even di weekend. Lucunya, tanpa gue sadari - dan gue nggak baca reviewnya dulu memang - kebanyakan film yang gue tonton, ada hubungannya dengan kejiwaan seseorang. Pattern-nya juga mirip: cerita tentang orang yang berada (entah dari segi harta, posisi, atau tampang, hahahah...), banyak dikagumi orang lain, tapi ternyata, dia punya kelainan kejiwaan. Pattern yang sama dari film-film itu menunjukkan peran komunitas, atau teman-teman terdekat yang mendukung kesembuhan si pasien, sangat tinggi.

Beberapa kelainan kejiwaan yang gue temukan di film-film itu adalah dissociative identity disorder, narcissistic personality disorder, tourette syndrome, schizophrenia, dan antisocial personality disorder. Hampir semua kelainan ini disebabkan oleh kesalahan pertumbuhan (eh, gimana ya bilangnya?). Pokoknya ada hubungannya dengan masa kecilnya mereka, yang diakibatkan oleh  trauma atau stress yang dipendam sejak kecil, beberapa mengalami abused. Ada juga yang disebabkan karena merasa dicurangi oleh orang tua mereka, sehingga mereka melihat beberapa tindakan sebagai suatu tindakan pengkhianatan.

Salah satu film misalnya cerita tentang seseorang yang mengalami kelainan kejiwaan, sehingga ia menciptakan tokoh khayalan versinya dia, untuk meng-kompensasi perasaan bersalahnya kepada dirinya sendiri. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menjaga si tokoh khayalan tersebut. Ternyata, tokoh khayalannya itu adalah figur dia sendiri ketika dia masih muda, dan rentan untuk dipukulin sama ayahnya dan kakaknya sendiri. Itu sebabnya, dia berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya. Peak dari kelainan jiwa ini adalah, bunuh diri.

Funny thing adalah orang-orang yang mengetahui tentang orang lain yang mengidap penyakit ini, malah menjauhkan diri dari mereka.Atau, untuk para orang tua yang menyadari kelainan pada anaknya, yang dilakukan adalah denial dan memaksa anak-anak ini untuk hidup normal. Padahal, dari film-film itu, gue belajar bahwa, justru orang-orang yang seperti ini harus diterima dan diberikan kasih sayang yang sepadan untuk menyembuhkan kelainan ini.

Film yang baru aja selesai gue tonton malah memberikan impresi kepada diri gue, bahwa sebenarnya semua manusia di muka bumi itu 'sakit', dan yang sebenarnya mereka perlukan adalah kasih sayang dan perhatian dari orang lain; dukungan, penerimaan dan lain-lain. Dari film itu juga, gue keluar dengan judul dari postingan ini, 'Dunia ini adalah Rumah Sakit'. Gue juga menyadari dari film itu, bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya keluarga ideal; yang ada adalah keluarga yang mau saling terbuka dan mendukung satu sama lain. Ini, yang mungkin terlewat oleh kita. Gue juga menyadari bahwa tidak ada satu keluarga yang bisa berdiri sendiri, itu sebabnya kita juga perlu tetangga. Kita nggak pernah tahu latar belakang keluarga atau masa-masa pertumbuhan seseorang, what they've been through, yang pastinya membekas di kepala dan hati mereka, dan mungkin juga menimbulkan luka bagi mereka. We don't know that...

Namanya aja Rumah Sakit, pastinya ada dokternya dan ada susternya. Makanya kalau kalian perhatikan, ada banyak peran yang bisa dimainkan oleh manusia, sesuai dengan bakat yang diberikan; ada yang bisa jadi dokter, ada yang bisa jadi suster. Walau demikian, bukan berarti mereka yang menjalani peran sebagai dokter dan suster, pasti tidak mengidap salah satu penyakit kelainan jiwa di atas. 

Film lain lagi yang gue tonton bercerita mengenai seorang dokter bedah yang terkenal dengan persentase keberhasilan operasinya sangat tinggi, namun, ia punya kelainan kejiwaan dan itu adalah tidak memiliki empati bagi orang lain. Tapi, di dalam ruang operasi, dia bukan orang yang cepat panik, dan punya daya konsentrasi yang tinggi. Namun, di luar ruang operasi, dia dinilai sebagai orang yang jahat.

Film-film ini membuat gue semakin yakin bahwa gue itu nggak lebih baik dari orang lain. Film-film ini juga mengajarkan pada gue, bahwa selalu ada peluang kesembuhan  buat masing-masing kita, yang penting adalah bagaimana kita bisa menemukan komunitas atau kumpulan orang yang baik sama kita, siap mengingatkan juga. siapa yang mendukung kita. Gue juga belajar bahwa terbuka merupakan kunci untuk kita bisa mendapatkan kesembuhan yang kita perlukan. 

Gue merasa tertemplak juga dengan salah satu line yang diomongin di situ, katanya begini, bedanya ilusi atau halusinasi dengan kenyataan itu, terletak pada sinergi dan sinkronisasi logika. Artinya, ilusi dan halusinasi itu stagnan, tidak membawa kamu kemana-mana, tapi realitas, itu akan membawa kamu ke tempat yang berbeda dengan tempat kamu yang sekarang. Pastinya, suatu tempat yang merupakan kemajuan buat diri kita masing-masing. Idealnya.

How do you see yourself? Normal? Sick? Normal is definitely relative, but sick is absolute. How do you see your life? Stagnant or moving somewhere?

Tanda-tanda kita masih waras itu adalah we're moving somewhere and not being stagnant. Itu lah fungsinya teman, mereka yang biasanya mengajak kita berpindah ke suatu tempat. Biasanya, mereka membuat kita pindah ke tempat yang lebih menyenangkan, banyak ketawa-ketawanya, banyak belajarnya, banyak bahu-bahu yang tersedia when you're sad and cry, banyak tangan-tangan yang memberikan elo kehangatan when you jumped into a cold world. 

Dunia ini jelas adalah Rumah Sakit, tapi gue yakin, gue pasti bisa sembuh, karena gue punya teman-teman yang bisa menyembuhkan gue dengan luar biasa. And with them, I will enjoy the healing process.

Aren't you grateful for your friends?

ime'...
friends are your needs answered - Khalil Gibran

Labels: , ,

0 Comments:

Post a Comment

<< Home