Photobucket

Sunday, September 18, 2016


Creativity: A life beyond boundaries

Akhir-akhir ini gue banyak berpikir tentang kreativitas, mungkin juga karena gereja gue tema bulanannya tentang kreativitas, jadinya gue cukup banyak memikirkan isu ini juga. Justru karena gue memikirkan hal-hal itu, gue juga berpikir bahwa kreativitas yang sebenarnya itu, jauh melampaui kreativitas yang saat ini kita bayangkan.

Banyak yang bilang kreativitas itu hanya jadi milik orang-orang yang memiliki selera seni. Bagus pun sebenarnya kan itu relatif kalau di dunia seni, bahkan mungkin, segala sesuatu di dunia seni itu adalah relatif, tidak ada yang mutlak (mungkin ya). Tapi, apakah memang benar bahwa kreativitas itu hanya menjadi milik orang-orang yang berseni? Bagaimana dengan orang-orang akademisi, apakah mereka kemudian tidak kreatif? 

Dulu waktu SMP, gue itu pernah ulangan nggak belajar sama sekali tentang fisika. Gue lupa kenapa, tapi gue ngerti tentang dimensi. Misalnya, satuan kecepatan itu adalah satuan jarak dibagi dengan satuan waktu; percepatan, daya, gaya, gue tau semua dimensinya. Jadi, yang gue lakukan waktu itu adalah gue 'membuat' rumus sedemikian rupa, sehingga satuan yang di sebelah kiri (masalah) itu akan selalu sama dengan satuan di sebelah kanan (solusi). Hasil ujian gue waktu itu kalau nggak salah kepala 9 skala 10, karena gue melakukan hal itu. It's not bad lah, walaupun bukan 10, ya.Tapi, apakah kemudian gue nggak kreatif dalam hal itu, karena itu nggak ada seninya sama sekali?

Semenjak itu memang gue jarang banget belajar dengan cara seperti yang diajarkan di sekolah, dan gue mulai mengenal yang namanya konsep. Pengetahuan gue akan konsep ini lah yang kemudian mengubah cara gue belajar. Hampir semua mata pelajaran dengan hitung-hitungan, yang gue ingat hanya konsepnya. Jadi, kalau gue bisa mengerti sesuatu, itu artinya gue ngerti konsepnya, dan kalau lo ngerti konsepnya, lo akan bisa mengembangkan jauh lebih banyak dari yang sebenarnya ada.

Sebenarnya, kreativitas itu apa sih? Kalau gue google, creativity itu adalah act of turning new and imaginative ideas into reality. Artinya, apa pun ide yang ada di kepala elo, once elo memutuskan untuk mengerjakan ide itu supaya menjadi kenyataan, itu adalah masa di mana elo itu kreatif. Pasti waktu kalian membaca ini, kalian akan berpikir, "Masa sih? That simple?", karena gue berpikir demikian juga. Dulu, menurut gue, kreativitas itu tidak sesederhana itu. Untuk menjadi kreatif, menurut gue, upayanya banyak banget, dan tidak ada satu pun dari upaya itu yang gue ngerti bagaimana cara melakukannya. Tapi ternyata, as simple as that. Sebuah catatan lagi, karena ini adalah suatu konsep, maka untuk bisa menerapkannya, kita semua harus terima konsep ini.  

Seseorang bernama George Land di tahun 1968 mengadakan sebuah riset untuk menguji kreativitas dari 1600 anak-anak yang beragam umurnya, mulai dari 3 sampai dengan 5 tahun. Tes ini serupa dengan tes kreativitas yang ia buat untuk membantu NASA dalam memilih engineer dan ilmuwan. Hasil tersebut menyatakan bahwa kreativitas yang dimiliki oleh anak berumur 5 tahun adalah 98%; 10 tahun, 30%, 15 tahun, 12%, dan untuk orang dewasa, hanya mencapai 2%. Fakta ini yang kemudian membuatnya menyimpulkan bahwa perilaku yang tidak kreatif ternyata dapat dipelajari. Kalau yang tidak kreatif bisa dipelajari, berarti , perilaku yang kreatif pun juga dapat dipelajari.
Hasil penelitian itu juga yang membuat gue berpikir bahwa sebenarnya kita semua ini hidup di dalam sebuah boundary. Contoh, dulu waktu masih SD, diajarkan bagaimana menggambar itu harus ada di dalam sebuah kotak, kalau misalnya ada yang keluar dari kotak tersebut, maka nilai si murid akan dikurangi. Gue sih nggak terlalu pay attention dengan pelajaran menggambar waktu itu. Gue cuman inget, dulu guru gue cuman bilang, gambar lah sebanyak-banyaknya supaya bisa mendapatkan nilai. Tentu saja, gue end up dengan gambar pemandangan di mana ada satu gunung, matahari, satu rumah di kiri bawah, dan sawah di sebelah kanan. That's it; yang penting, gue dapat nilai.


Tapi, gue juga jadi teringat oleh sebuah cerita nyata, mengenai seseorang yang jenius di bidang matematika. Biografinya dituliskan dengan judul 'The man who knew the infinity', Srinivasa Ramanujan. Ramanujan adalah seseorang berkewarganegaraan India, yang cinta dengan angka. Walau demikian, dia tidak memiliki satu gelar pun, karena dia tidak pernah mengecap pendidikan mengenai matematika murni. Suatu hari, atas dorongan dari bos langsungnya, Ramanujan mengirimkan pembuktian rumus yang ia kembangkan, ke Inggris, mengalamatkannya kepada G.H. Hardy, salah seorang profesor matematika di Cambridge, tepatnya di Trinity College. Pada awalnya Hardy cukup reluctant untuk membawa Ramanujan ke Inggris, dikarenakan India masih merupakan jajahan dari Inggris pada saat itu. Namun, Hardy tetap memanggilnya ke Inggris. Di beberapa scene memang Ramanujan menolak untuk menerima kuliah, karena bagi dia, ia sudah mengetahui segala sesuatunya, jadi, kenapa harus repot? Walau demikian, Hardy yang memaksa Ramanujan untuk tunduk pada pengajarnya dan tetap belajar. Hardy juga ingin agar Ramanujan dapat membuktikan teori-teori yang sudah ia bangun sendiri, dengan menggunakan teorema-teorema baku yang berlaku di dunia matematikawan, agar teorema yang ditemukan oleh Ramanujan dapat dimengerti logikanya oleh kebanyakan orang.

Ketika salah satu temuan Ramanujan  diuji oleh teorema-teorema baku yang berlaku di dunia para matematikawan, beberapa dianggap salah. Namun, hal tersebut tidak pernah membuat Ramanujan menghilangkan cintanya kepada matematika. Ramanujan saat ini dikenal sebagai matematikawan India yang mempelajari matematika murni secara otodidak. Terlepas dari berbagai macam masalah yang dialami oleh Ramanujan pada masa itu, saat ini hampir seluruh teorema-nya terbukti benar, dan telah menjadi inspirasi bagi penelitian lanjut. Bahkan, salah satu teoremanya digunakan untuk membuktikan perilaku dari lubang hitam (black hole) alam semesta ini.

Waktu gue nonton filmnya, ada scene di mana Hardy menanyakan, "How did you know that?" kepada Ramanujan, terutama setelah mengetahui bahwa Ramanujan tidak memiliki pendidikan yang mendukung untuk profesi sebagai matematikawan. Jawaban Ramanujan adalah, "I don't know. I just know it's true." Walau demikian, dia kemudian menambahkan, "An equation for me has no meaning, unless it expresses a thought of god." Isn't it interesting, bahwa Ramanujan bisa keluar dengan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh matematikawan lainnya, karena dia berkomunikasi dengan tuhan-nya?

Kadang, kita nggak tau kalau kita itu kreatif. Kita cuman punya ide aja, lalu kita buat. That's it. Ramanujan adalah salah satu contoh orang jenius yang berpikir di luar kotak, namun, untuk dapat diterima, ia harus bisa membuktikan kejeniusannya melalui ilmu-ilmu orang yang ada di dalam kotak. Supaya bisa lebih dimengerti oleh orang-orang yang pemikirannya berada di dalam kotak.

Beberapa bulan yang lalu, gue dikasih tes, dan hasilnya bilang, gue itu adalah orang yang out of the box, dan yang harus dilakukan untuk gue adalah menaruh gue di dalam kotak. Tentu saja gue menolak untuk ditaruh di dalam kotak. It is solely my right to expand and generate my ideas. Kenapa gue kemudian harus di taruh di dalam kotak? Jadi, kalau kalian diuji talent dan kemampuannya, terus jawabannya begitu, jelas bisa bilang bahwa orang yang menguji kita itu nggak ngerti sama sekali tentang kemampuan orang dan bagaimana meningkatkannya. Why should we live in a box where we know that there are more in this life than a life in a box? Walau demikian, kita memang harus bisa menunjukkan kebenaran dari life outside the box dengan cara-cara yang dimengerti oleh orang-orang yang hidup inside the box.

Dari beberapa hal di atas, gue juga belajar bahwa kreativitas itu adalah tanggung jawab kita semua. Sadarkah kalian semua, bahwa manusia itu adalah ciptaan Tuhan, yang diciptakan serupa dan segambar denganNya? Jauh sebelum kita mengenal Tuhan sebagai Tuhan penyembuh, penyelamat, penyedia, kita mengenal Tuhan sebagai Tuhan yang mencipta. Harusnya, kalau kita diciptakan serupa dengan Dia, kita pun juga bisa mencipta. Bahkan mungkin, itu lah kekuatan kita yang sebenarnya. Itu sebabnya, kreativitas itu harusnya menjadi tanggung jawab kita, untuk kita lakukan tentunya, bukan hanya untuk kepentingan kita, tapi untuk kepentingan orang lain. Kita memang terbatas, tapi bukan berarti kita itu tidak kreatif, karena kreatif itu bukan milik satu domain sendiri.

Mengakui keterbatasan kita itu boleh, tapi bukan berarti kita tidak bisa mengimplementasikan ide-ide kita. Itu sebabnya pula, Tuhan menyediakan orang lain, yang memiliki kemampuan yang berbeda, namun dapat menunjang penerapan dari ide-ide kita. Makanya, bergaul lah, untuk bisa menajamkan dan juga untuk mengimplementasikan ide-ide yang ada di kepala kita. Ini juga lah yang menjadi art of collaboration, you simply can do much better if you collaborate.

Ramanujan memerlukan Hardy untuk bisa mempublikasikan temuannya, dan pada akhirnya, Hardy yang berjuang supaya Ramanujan bisa menjadi bagian dari Fellows of Royal Society di Inggris, yang merupakan kumpulan ilmuwan-ilmuwan terdepan. Hardy memerlukan Littlewood yang selalu mengingatkan Hardy mengenai potensi Ramanujan, dan juga untuk tidak menyerah pada potensi Ramanujan. No matter how good you are, you will always need somebody to make you better. And that is why, if your creativity is limited by people, then you may want to get out of there and find a much better environment to develop and expand your creativity. Your creativity can only be expanded with the right people and environment.  

So, live your life beyond boundaries, for you are creative.

ime'

Labels: , , , ,

0 Comments:

Post a Comment

<< Home