Photobucket

Saturday, December 31, 2016


Sweet 2016 for a brighter 2017

Menjelang akhir tahun 2016, gue kembali reflect ke belakang. Tumben banget ya, setelah bertahun-tahun. Dulu, jamannya gue rajin, gue akan menghabiskan akhir tahun gue menuliskan semua cerita dalam setahun yang menurut gue itu adalah suatu momen yang tidak bisa gue tukarkan dengan apa pun, dan tidak bisa gue ulang. Tulisan itu kemudian gue kirimkan ke teman-teman gue yang terdekat, so they got to know me a bit better. Gue kemudian menemukan bahwa gue nggak punya banyak waktu lagi untuk menuliskan cerita-cerita itu, dan gue berhenti. Kali ini, gue berusaha untuk menuangkannya dalam blog.

Satu hal yang gue highlight di tahun ini adalah how to release stress dan bagaimana membangun jembatan. Gue bukan lah orang yang mudah untuk ditangani atau bahkan dipengaruhi. Tapi, gue orang yang mudah mendeteksi siapa yang perlu gue dengar dan siapa yang perlu gue turuti. Kealamian gue yang seperti itu nggak jarang membuat gue terbentur masalah, dan gue jadinya mengalokasikan cukup banyak tenaga dan pikiran untuk memikirkan masalah itu. Gue kemudian diperkenalkan sama beberapa drama korea, yang kemudian gue tonton, and I became a fan of it. Bahkan, gue sampai men-download lagu-lagu soundtrack-nya di iTunes. I like the feeling ketika gue nonton dan ketika gue dengarkan lagu-lagu soundtrack-nya, walaupun sering banget gue nggak ngerti. I always feel full of love and spirit setelah mendengar atau menonton serial-serial drama Korea. I don't know why. Gue jadi berpikir bahwa ada dunia lain yang gue nggak tau, dan kemungkinan besar, dunia itu jauh lebih parah dan jahat dari dunia di mana gue berada. Walau demikian, selalu ada cara untuk overcome semua itu. Itu, gue belajar dari drama Korea. I wonder kenapa gue nggak punya perasaan yang sama dengan sinetron-sinetron Indonesia ya?

Di tahun ini juga, gue merasa punya banyak energi dan kurang tergali. Gue merasa dibatasi oleh begitu banyak tembok di dalam kehidupan gue, dan jadinya banyak orang yang mengatur gue. Tembok-tembok itu bukan hanya politik 'pejabat', tapi juga financing, waktu, dan derajat kelelahan bin kemalasan. Padahal, gue diajarkan untuk memiliki kemauan bebas; bebas untuk berekspresi dan berkarya, tanpa harus memikirkan (terutama) isi kantong gue. 

Gue dibesarkan sebagai pemain basket, yang harus selalu bisa membaca lawan, merancang strategi, dan meyakinkan anggota tim lainnya, bahwa kita, sebagai tim, bisa melawan mereka. Lucunya, gue malah jauh sekali dari kehidupan tim seperti itu. Rasanya ada yang janggal, dan rasanya politik sudah mulai bermain apakah gue suka atau tidak. I got into the world yang sulit untuk bekerja secara tim, dan selalu ingin menjadi lebih baik dari teman-teman satu tim. Kompetisi yang ditimbulkan secara tidak sadar oleh masyarakat saat ini, juga menjadi tembok untuk gue bisa berkarya.

However, gue cuman bisa berpikir dalam diri gue sendiri, bahwa masih banyak hal yang sebenarnya bisa gue pelajari dan kerjakan, tanpa harus terpengaruh dengan sikut sana dan sikut sini. Gue juga belajar bahwa walaupun gue nggak punya duit, but as long as it is doable, so why not?

Hal lain yang gue coba lakukan di tahun 2016 adalah setidaknya seminggu sekali gue harus bisa ketemu dengan teman lama. Wow... yang ini, susahnya minta ampun. Antara gue yang nggak nemu waktu gue, atau ya memang teman-teman gue nggak bisa. Tapi, gue udah bisa get in touch dengan teman di Belanda, teman sebangku di SMA, temen-temen gym 6-7 tahun yang lalu, dan teman-teman backpacking gue. Asli, ini menyenangkan banget. However, I know that I need to work on it better. Harusnya, gue bisa memelihara pertemanan gue dengan yang lain. Gue juga masih belajar di dalam yang namanya pertemanan. Gue menyadari bahwa mendapat teman baru itu jauh lebih mudah ketimbang mempertahankan pertemanan yang lo punya secara sengaja. 

Dari semua yang di atas, gue cuman punya pemikiran ini: ada begitu banyak hal yang terjadi dan harus dicari, bisa dipelajari, dan betapa kecilnya kita dibandingkan dengan dunia ini. Tapi kenapa orang bisa begitu sombong dan arogan pada saat mereka membeberkan pengalaman mereka di depan orang lain? Bukan kah lebih berharga pertemanan atau persahabatan ketimbang prestasi? Dan yang lain lagi, apakah pertemanan itu hanya sebatas dari follower di instagram, facebook, path, atau yang lain-lain? Seberapa banyak grup whatsapp yang kita punya? But for me, friendship is beyond that. Lo nggak bisa mengajarkan orang lain tentang bagaimana caranya berteman; yang bisa lo lakukan adalah ya menjalani hidup bersama dengan orang lain, yang lo sebut dengan 'teman'.




Tahun 2017 sudah menunggu di depan pintu. Gue memutuskan untuk gue menutup semua cerita gue di tahun 2016, dan membiarkan itu semua menjadi kenangan yang terindah. Gue mungkin nggak akan bisa travel sebanyak gue travel di tahun 2016, tapi gue akan selalu ingat bahwa gue pernah ada di negara-negara yang sebelumnya gue tidak pernah pikirkan. Gue juga memutuskan untuk me-revive blog gue, supaya gue punya begitu banyak pengalaman untuk menulis. At the end of the day, yang gue inginkan adalah untuk bisa mengeluarkan publikasi demi publikasi; apakah itu artikel biasa, paper, report, apa pun. 

Ada banyak hal yang menurut gue belum bisa gue lakukan di tahun 2016. Gue tentu saja belum bisa menjadi orang yang disiplin; either gue punya banyak hal yang gue harus kerjakan, gue nggak punya waktu, gue pengen tidur, gue pengen nonton film Korea, atau yang lainnya. Gue cuman berharap, gue bisa make use of 2017 dengan lebih baik, setelah bercermin dari apa yang sudah terjadi di tahun 2016.

I found my 2016 is sweet, and I believe that my 2017 will be bright. 

Memang kita selalu tidak puas dengan apa yang terjadi di dalam hidup kita. Tapi, gue yakin, giving our best is the only measures untuk kita bisa menikmati hidup kita. Atau nggak?

Have a great new year, people. Expectant!!

ime'...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home