Photobucket

Sunday, June 18, 2017


Kamu punya mimpi?

Heiho!!

Hari ini, gue pengen cerita soal mimpi. Gue punya mimpi; dan menurut gue, seorang yang hidup, pasti punya mimpi. Dulu, gue berpikir bahwa mimpi itu adalah sesuatu yang di awang-awang, dan nggak penting apakah tercapai atau nggak. Tapi sekarang, gue menyadari bahwa mimpi itu adalah sesuatu yang sudah seharusnya dan sudah sepantasnya kita gapai, bukan cuman sesuatu yang menjadi topik pembicaraan aja. 

Dulu waktu kuliah, kita dituntut untuk tau apa yang mau kita buat, apa yang kita punya; dan dari situ, baru kita akan men-design prosesnya. Itu yang selalu menjadi pola pikir gue setiap hari dari sejak kuliah: gue mau jadi apa, gue mau punya apa, gue mau menghasilkan apa. Hal kedua yang gue pikirkan: gue punya apa. Baru yang ketiga, gue harus gimana. Kalau gue pikir-pikir, memang seharusnya kan begitu, kita harus tau, kita maunya apa. Main basket juga begitu kan: gue pengen score sebanyak-banyaknya, gue punya tim dengan komposisi kemampuan yang berbeda-beda. Jadi, strategi atau pola yang mana yang harus gue pakai, akan menyesuaikan dengan kondisi gue.

Boleh dibilang tahun 2017 ini adalah tahun yang cukup menantang gue untuk keluar dari zona nyaman gue. Banyak perubahan-perubahan di mana gue harus melakukan penyesuaian untuk diri gue sendiri, ketimbang mengeluh terhadap perubahan-perubahan yang bersifat pasti ini. Hampir melewati setengah tahun 2017, gue rasa, gue cukup bisa bertahan. Banyak sekali keputusan yang harus gue ambil sendiri, karena gue tau, gue mau ke mana. 


Banyak orang berpikir bahwa mimpi adalah hal-hal yang sulit bahkan mustahil untuk dapat kita capai. Bagi gue, kalau belum dicoba, berarti itu mitos.

Tahun ini juga gue belajar tentang persistensi dalam mencapai apa yang kita mau atau cita-citakan. Nggak gampang, banyak banget momen di mana gue rasanya pengen menyerah. Tapi, di situ gue bersyukur punya teman-teman yang mungkin secara tidak sadar, mereka membantu gue untuk mendiversifikasi pemikiran gue, sehingga mampu mengaktifkan saraf-'enjoy your today, because it won't come for the second time' gue. Gue juga diajarin bahwa, segala sesuatunya akan berakhir dengan indah. Jadi kalau belum indah, berarti itu bukan akhir.

Tapi, sadar nggak sih kalian, bahwa ketika kita berjuang untuk menggapai mimpi kita, ada begitu banyak hal yang muncul entah dari depan atau dari samping, bahkan dari belakang kita, yang berusaha untuk menjauhkan kita dari jalan kita yang sebenarnya? Pernah juga nggak terpikirkan kalau saat berjuang menggapai mimpi, ada masa-masa di mana kita sama sekali nggak bisa bergerak, dan maunya antara duduk aja, atau tidur aja? Atau mungkin bisa bergerak, tapi kitanya yang nggak mau? Either karena merasa cape', bosan, marah, atau hal-hal lainnya. Tapi tahu nggak, kalau misalnya kita diam saja secara berkepanjangan, itu sebenarnya kita malah 'mematikan' diri kita sendiri?



Gue tadi baru posting sebuah lagu tentang mimpi, yang saat ini gue suka banget. Lagunya adalah soundtrack dari sebuah drama Korea. Buat gue, lagu itu membuat gue merasa kayak pisau yang menusuk ke dada kiri gue, diputar-putar, terus lukanya tersiram air lemon. Lemes, karena kayaknya itu menggambarkan gue yang sedang bingung, cape', kesal, merasa tertekan untuk menggapai sesuatu, tapi sekeliling gue gelap sangat. Gue kemudian merasa sesak, karena gelap, takut, dan bingung. Gue sadar, gue punya dua pilihan: merasa sesak dalam kegelapan ketidakpastian yang membuat gue nggak mau bergerak karena takut ada apa-apa, atau gue jalan aja terus, terlepas dari kegelapan yang ada di sekeliling gue, percaya bahwa pasti ada cahaya yang menunggu gue di depan. Mungkin gue tersandung, jatuh, dan harus berhenti. Tapi kalau pun gue harus berhenti, gue akan memilih berhenti sejenak saja dan beristirahat, terlepas dari kegelapan yang ada. Karena dengan berhenti sejenak, gue sebenarnya membiarkan diri gue mendapatkan tenaga baru.

Hidup kita adalah perjalanan. Sesekali akan melewati terowongan gelap yang terkesan tak berujung.

Memang lebih enak kalau misalnya kita melakukan perjalanan bersama dengan teman-teman yang memang memiliki pandangan yang sama dengan kita: satu visi dan satu tujuan. Karena, di tengah perjalanan yang banyak ketidakpastiannya, kita bisa saling menguatkan satu sama lain. Dalam setiap perjalanan gue, gue selalu merindukan adanya orang-orang seperti ini ada di sekeliling gue. Gue pun, berusaha untuk menjadi pendukung yang baik bagi orang-orang yang bervisi. Apalagi kalau visinya sama. Gue juga menyadari, bahwa sebagai manusia, kita adalah mahluk sosial yang juga membutuhkan orang lain. 


Kalau kalian sedang berupaya untuk mengejar mimpi kalian, visi kalian, pastikan kalian nggak menyerah, dan coba lah untuk membagi visi kalian dengan yang lain, terutama yang mengerti kalian. Memang tidak selamanya mereka ada untuk kita, tapi setidaknya, ada orang-orang yang berdoa agar kita baik-baik saja, dan selalu semangat dalam mengejar mimpi kita. 


"All of us have dreams. To achieve it, sometimes (probably even most of the time), it takes more than hard work and willingness. We can't be too careful either, as we will be afraid to try new things, that who knows, might be our small chance to find the right path. We might be desperate along the way, where we left with two choices: suffocated with our current condition and die, or keep moving forward through the current uncertainties because we believe that there is a bright light down this small path that we take. Both choices have risks; but life is full of risks, anyway. So, don't argue about the risks when you have to decide; rather, argue about where would you be after you take that risks, to decide. Would you be closer to your dreams or farther?"

Cemungud!!

ime'...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home