Photobucket

Wednesday, December 28, 2016


Ada apa dengan bully?

Hellow yellow!

Pertama-tama, selamat Natal untuk yang merayakannya, dan selamat merenung untuk memasuki tahun 2017 yang tinggal sebentar lagi.

Di liburan ini, gue mengambil waktu untuk nonton banyak banget film. Gue nonton film Jepang 2 seasons, dan tadi gue baru selesai nonton sebuah film Korea, yang menginspirasi gue untuk nulis postingan ini. Film Korea yang baru selesai gue tonton dapat rating 9.4 di Viki (bener ya namanya itu?), dan membuat gue agak susah bergerak dari tempat duduk gue lah ya. 

Film ini cerita tentang dunia per-bully-an, yang impactnya itu bahkan sampai ke bunuh diri, dan juga kematian. I seriously like the story line, dan film ini membuat gue berpikir panjang. Salah satu indikator gue menilai film adalah seberapa dalam impact film tersebut pada gue. Apakah melalui salah satu kalimatnya, atau memang story line-nya yang inspiring. Film ini juga menceritakan betapa besarnya pengaruh sekeliling elo, untuk bisa menjadi orang yang dibully, membully, atau berjuang melawan bully. Dampak dari keluarga juga sangat tinggi, yang juga diperlihatkan di drama ini. Di drama ini bahkan memperlihatkan dampak dari keluarga yang tidak perduli pada anaknya (bahkan menganggap anaknya adalah orang gila), yang tentu saja tidak sehat. Dan tentunya, gue berharap, masih banyak guru-guru yang mau berjuang melawan perbullyan ini, seperti yang ditampilkan di film ini juga.


Bullying itu seperti daun yang berguguran; ia menggugurkan percaya diri




Menurut salah satu website yang gue lihat, www.stopbullying.gov , definisi dari bullying adalah unwanted, aggressive behavior among school aged children that involves a real or perceived power imbalance. Gue, terus terang, nggak ngerti kenapa orang membully orang lain. Kesannya kayak nggak ada kerjaan banget, gitu. Gue cuman berpikir bahwa orang yang membully itu nggak ada kerjaan, nggak punya teman, dan nggak punya kehidupan.

Film ini juga mengajarkan pada gue, bahwa setiap orang itu memiliki desire, keinginan, untuk diterima oleh orang lain; apa pun latar belakang mereka. Kebanyakan orang akan melakukan segala cara untuk bisa diterima oleh orang lain, apalagi kalau dia orang kaya. Cara-cara yang biasa dilakukan adalah dengan menggunakan uang mereka, menggunakan kekuasaan mereka, melalui ketakutan orang lain, pokoknya melalui berbagai macam cara. 

Gue tau beberapa orang di dalam hidup gue yang berusaha untuk diterima dengan uang: entah 'hobby'-nya traktir makan, atau apa pun. Mereka nggak salah sih... tapi, kalau nggak punya uang, terus mau gimana? Gimana caranya orang bisa mempertahankan hubungan mereka, di mana uang itu merupakan sumber daya yang tidak terbarukan (dengan anggapan bahwa laju pengeluaran kita jauh lebih cepat dari penerimaan kita). 

Gue juga nggak ngerti sih, kenapa gue concern banget soal bully-membully ini. Tapi, yang jelas, gue nggak pernah bisa melupakan tangisan keponakan gue beberapa waktu yang lalu waktu dia masih SD. Dia nangis sepulang sekolah, sangking dahsyatnya tangisannya dia, gue nggak ngerti dia ngomong apaan waktu itu. Tapi yang gue sadari selanjutnya adalah gue end up peluk dia, saying bahwa he's not what pembully dia katakan akan diri dia. Can you imagine, anak SD, udah di-bully? Pelajaran mental sedahsyat apa lagi yang harus mereka hadapi di usia dini?
 
Gue juga yakin, bahwa praktek bully membully ini nggak hanya berlaku untuk anak kecil, tapi juga untuk orang dewasa, di kantor. Why? Karena gue juga mendengar beberapa kali, ada temen gue yang merasa unwanted di kantornya, like, the whole kantor gitu nggak mau terima dia. Dia akhirnya stress berat, dan memutuskan untuk keluar dari kantornya. Begitu banyak hal negatif yang dia dapatkan, yang mungkin tidak bisa membuat dia bertahan selama yang diinginkan.

I seriously thought deeply soal ini. Gue kadang mikir, kenapa ya kalo' sebel sama orang harus gitu-gitu amat? Apa nggak buang-buang waktu aja ya? Why do you want to think about others' life when your own life is so difficult to manage? Gue juga pernah kesal sama orang, benci sama orang, tapi kayaknya nggak gitu-gitu banget sih.... It's too much menurut gue.

Gue jadi ingat salah satu komunitas di mana gue berada. Awalnya cuman ngetawain satu orang aja, tapi kemudian jadi viral untuk semua orang. Dan rasanya, setiap pertemuan kok ya jadi satu ajang ngetawain orang ini sampai sekarang. Padahal sudah berkali-kali gue bilang, bahwa ngetawain orang bisa membuat orang tersebut jadi nggak mau mengutarakan pendapat dia; dan pada saat hal itu terjadi, tidak ada lagi yang namanya keterbukaan. Sama bukan? Bully juga akan end up dengan hal itu?

Gue pun mungkin bukan contoh yang sempurna dalam masalah bully-membully. Tapi bagi gue, sedapat mungkin gue ingin menghormati dan mendengar apa yang menjadi pendapat orang lain. Karena gue sendiri mengalami masa-masa di mana mengutarakan pendapat itu adalah hal yang paling sulit dalam hidup gue. Gue pun tidak tumbuh tanpa perjuangan; gue tumbuh dengan perjuangan yang cukup besar menurut gue. Gue pun nggak punya rumus yang baku atau mantra ajaib yang bisa membuat gue overcome semua masalah pertumbuhan gue; yet, gue merasa bahwa, at the end of the day, orang akan bosan dengan kehidupan yang begitu-begitu saja, apalagi kalau mereka selalu berlindung di bawah ketakutan.

Menurut gue, bully mem-bully ini terjadi saat terjadi hal-hal ini: (i) Dari sisi pembully: merasa dirinya paling kuat dan berkuasa. Mungkin ini dialami sama anak tunggal yang dimanja sangat sama orang tuanya. Apalagi kalau orang tuanya selalu menuruti keinginan anaknya; (ii) Dari sisi yang dibully: antara takut melawan, atau memang karena sudah dimarginalkan di awal. Having said that, harusnya ada intervensi-intervensi yang relevan di dua pihak. 

Alone does not always mean lonely


Guru bagi gue bukan lah penanggung jawab 100% dari ini semua. Seharusnya, orang tua yang bisa mendidik anak mereka untuk nggak jadi orang yang selalu merasa superior, atau minder. I'm not a parent of any kids. Tapi yang jelas, gue jadi melihat peran orang tua yang semakin penting seiring dengan berjalannya waktu. Dan bukan kah saat ini banyak sekali orang tua yang 'menitipkan' anaknya di bawah care dari orang lain? Termasuk guru?

Gue merasa beruntung, lahir di jaman yang masih tergolong sulit, saat di mana komunikasi masih minim, dan kami tidak bisa di-reach any time. Dengan fasilitas yang seperti itu, gue belajar untuk melihat bahwa dunia itu tidak dengan cara yang instan. Karena dunia ini tidak terjadi dengan cara yang instan, ada yang mengerjakannya hari demi hari. Artinya, pertemanan juga bukan lah sesuatu yang bisa diperoleh secara instan; you really have to work on it. Gue tidak pernah diajarkan untuk menjalin pertemanan dengan menggunakan uang atau pun kuasa. Gue berteman simply karena kita punya value yang sama, dan kita punya rasa hormat satu dengan yang lainnya tentang bagaimana memandang hidup. Tidak semuanya yang dianut oleh yang satu, harus dianut oleh yang lain. Itu lah yang menurut gue menjadi sangat berharga.

Well, cerita perbullyan gue mungkin masih panjang. Gue juga belum punya ilmu yang cukup untuk mengerti soal dunia perbullyan. Tapi satu hal yang gue tahu, gue berharap gue bisa merespon perbullyan dengan baik dan benar, supaya gue benar-benar bisa menempatkan diri di tengah-tengah dunia ini.

ime'...

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home