Photobucket

Tuesday, October 10, 2017


Media sosial: good or bad?

Heyho, temans! Gue lagi cerewet nih masa-masa gini. Kayaknya lagi banyak aja yang mondar-mandir di kepala gue… hahahah… hari ini, gue mau cerita soal media social. Tapi, sedikit banyak, ini akan ada hubungannya dengan postingan-postingan gue yang sebelumnya. Seperti biasa, postingan gue bertujuan supaya kita bisa melihat kembali kehidupan kita, supaya kita nggak jatuh ke lubang yang sama.

Media sosial: apa sih itu?
Mungkin kita berkenalan dulu dengan DEFINISI dari media social. Gue terus terang nggak tau banyak soal media social, karena mungkin karena gue nggak terlalu banyak waktu aja untuk nongkrongin media social. Bagi gue, ngobrol langsung sama orang is much much better, daripada timpal-timpalan komen. Gue juga nggak keberatan untuk menjadi orang terakhir yang tahu tentang sebuah isu, dan bukan jadi yang pertama. Tapi, tendensi yang gue perhatikan adalah banyak banget orang yang merasa ‘kecil’ banget kalau tau sebuah isu belakangan.




Anyway, media sosial kalau menurut Wikipedia itu adalah teknologi-teknologi yang computer-mediated, sehingga dapat memfasilitas penciptaan informasi, sharing informasi, ide, minat karir, dan bentuk-bentuk ekspresi lainnya, melalui komunitas virtual dan jaringan. Dulu mungkin masih tergantung sama laptop ya, tapi sekarang, hampir semua HP sudah dapat dikategorikan dengan smartphone (walaupun mereka nggak smart-smart amat sih menurut gue), sudah memungkinkan kita semua untuk menggunakan media sosial, tanpa terkoneksi dengan computer.

Memang sebenarnya media sosial ini jangkauannya lebih luas ketimbang dengan TV atau pun radio, dan mungkin karena media sosial sangat interaktif, jadi orang lebih suka menggunakan media-media ini, ketimbang media satu arah seperti TV atau radio. Gue juga belajar bahwa, kehadiran media sosial juga meningkatkan kemampuan setiap orang untuk bisa mengkritisi dan beropini. Bagus juga sih menurut gue.

Tapi, setelah beberapa tahun munculnya media sosial, gue ternyata bisa bilang bahwa, gue lebih menikmati pembicaraan in person, rather than via media sosial. Bagi gue, nggak penting banget ada komen yang tulisannya, “Pertama!!” di account gue.

Isi dari media sosial
Apa sih sebenarnya isi dari media sosial kalian? Gue punya beberapa akun media sosial. Isinya adalah hal-hal yang menyita pikiran gue, sehingga gue bisa memikirkannya lebih dalam. Kalau untuk Instagram, biasanya adalah hal-hal yang nggak biasa gue lihat, atau misalnya kenangan-kenangan yang menggila dengan teman-teman gue.

Tapi gue juga melihat, ada banyak media sosial yang isinya adalah BT sama orang di kantor, dipampang di media sosial yang bisa dilihat segambreng-gambreng orang. Atau, pernah juga nih, suami-istri atau kakak-adik, berantem di media sosial. Ini, gue gagal paham sama sekali. Itu masalah kapan selesainya ya? Mungkin malah menumpuk masalah dan nggak akan pernah bisa diselesaikan sama sekali. Kenapa nggak langsung datang ke orangnya, dan selesaikan masalahnya bersama di saat itu juga. Bukankah itu lebih enak?

Terus nanti implikasinya adalah pencemaran nama baik. Nah ya, kalau udah begitu, mau gimana lagi?
Sebenarnya, kalau misalnya kita marah sama orang, mendingan jangan dipampangin di media, deh. Bisa-bisa, kita malah memberikan contoh yang nggak baik untuk orang lain. Gimana coba kalau misalnya orang jadi terinspirasi untuk melakukan hal yang sama dengan lingkungannya? Kan jadi aneh ya dunia ini jadinya…

Jadi, coba dilihat deh, kira-kira isi media sosial kalian itu apa aja. Think before we post.

Dampak media sosial terhadap kita dan lingkungan kita
Gue sering banget dibanding-bandingin, entah apa sebabnya. Tapi, gue sekarang berusaha untuk berpikir realistis aja: apa yang nggak bisa gue lakukan, tidak akan gue lakukan. Kalau ada orang yang malah BT karena gue nggak bisa melakukan apa yang diinginkan untuk gue lakukan, ya biasanya gue coret orang itu dari ring terdekat gue. Ada pepatah yang bilang, “Kita tidak pernah bisa menyenangkan semua orang,” dan itu bener banget. Kalau belajar dari prosedur keselamatan yang ada di pesawat-pesawat, maka gue lebih baik akan mengikuti nasihat tersebut: selamatkan diri kamu sendiri terlebih dahulu, sebelum kamu bisa menyelamatkan orang lain. Jadi, lebih baik membuat diri kamu bahagia dulu, baru kebahagiaan kamu akan bisa menular dan membuat orang lain bahagia. Iya nggak sih?

Seorang bijak pernah bilang begini ke gue (ke banyak orang sih, tapi nancep di gue), suka atau nggak suka, kita pasti akan dibeda-bedakan oleh sekeliling kita. Tapi, bagaimana kita merespon hal tersebut, itu yang harus kita pastikan untuk memberikan dampak positif bagi diri kita dan sekeliling kita.
Gue sebenarnya nggak pernah merasa dibanding-bandingkan sih. Mungkin karena gue dari dulu main basket, dan pelatih-pelatih gue itu nggak pernah ngebanding-bandingin gue dengan yang lain-lain. Justru mereka malah sibuk mencari kekuatan gue, dan gue di-drill terus di area itu. Gue juga nggak merasa gimana-gimana banget kalau misalnya ada orang lain yang punya teknologi lebih canggih dari yang gue punya.

Gue itu baru punya HP di tahun 2002 kayaknya. Itu pun dipinjamkan teman gue, karena dia kesal berat gue nggak bisa dihubungin terus. I was so comfortable dengan diri gue at that time, jadi gue juga biasa aja. Waktu gue kerja, jamannya BBM gitu, gue mungkin adalah orang terakhir di kantor yang punya BBM. Itu pun karena gue harus ikutan program di Amerika, dan having BBM itu memudahkan gue sangat. Bagi gue, teknologi itu adalah sesuatu yang harus gue gunakan, dan bukannya teknologi yang menggunakan gue.

Gue terus terang juga nggak tau kenapa gue harus segininya ya. Mungkin juga karena didikan orang tua gue yang selalu bilang kita itu harus mencukupkan diri kita sendiri, sebanyak apa pun uang yang kita punya. Bukan karena kita punya uang, kemudian kita harus menghabiskannya untuk sesuatu yang nggak bermanfaat.

Gue juga suka travel. Tapi gue kalau travel juga mikir, gue hitung biayanya, dan gue lihat ketersediaan uang gue berapa. Destinasi gue untuk travel tidak ditentukan dari suara orang-orang yang ada di sekeliling gue sih. Tapi destinasi gue untuk travel itu ditentukan dari gambar apa yang gue mau ambil, secara gue juga suka moto. Kalau pun gue pengen ke satu negara gitu ya, biasanya muncul sekali, abis itu hilang seminggu kemudian… hahahah… Gue kalau travel pada umumnya itu adalah motret dan refleksi diri gue. Kecuali untuk travel yang serombongan.

Tapi gue nggak tau, do we have the same principle? Mungkin juga gue terlalu ignorant ya…
Gue mungkin karena terbiasa hidup sendirian dari kecil ya, jadi gue appreciate banget yang namanya hubungan personal dan real, ketimbang jumlah follower di media sosial gue. Dan dari dulu, gue lebih suka memberikan kejutan buat banyak orang, gue suka kalau semakin banyak orang yang nggak bisa menebak gaya hidup gue, seberapa pintar gue, dan lain-lain. Gue lebih senang dianggap biasa-biasa aja di awal, sampai orang bisa menilai gue sendiri sesuai dengan apa yang mereka lihat. Jadi bukan dari gelar gue, kekayaan gue, atau popularitas gue.

I don’t mind follower gue nggak banyak. Itu membuat gue jadi lebih bebas untuk posting hal-hal yang menurut gue cuman boleh diketahui sama orang-orang terdekat gue.

Oh well

Bagaimana kamu menggunakan media sosial kamu?
Kalau kamu, kenapa kamu punya media sosial? Apa yang kamu unggah di media sosial?
Gue belajar bahwa seiring dengan berjalannya waktu, gue nggak terlalu excited lagi dengan media sosial. Kalau gue pakai media sosial, paling terbatas. Kadang hanya untuk menyebarluaskan tautan blog gue aja… yah, narsis ya? Hahahha… Itu pun gue nggak setiap hari nge-blog. Tahu kah kalian, kalau nulis itu susah? Hahahha…

Gue juga merasa bahwa media sosial itu sebenarnya tidak mendidik kita untuk membaca tulisan-tulisan panjang, misalnya buku. Berapa banyak saat ini orang-orang disajikan dengan tulisan-tulisan yang sangat singkat, untuk menyampaikan pendapat mereka? Bagus sih, tapi kalau terlalu banyak, akan kah kita bisa membaca dan memiliki kemampuan untuk berimajinasi, sebagaimana yang ditawarkan kepada kita, ketika kita membaca buku (bukan komik yaa…). Gue sampai berpikir, sampai sejauh mana nanti tulisan-tulisan akademis akan bisa berkembang?

Gue masih pakai media sosial juga kok, tapi gue juga memutuskan untuk tetap bisa membaca buku dan menulis panjang. Kan nggak semua orang yang berpikir seperti gue.

Memang benar media sosial itu membuat jaringan kita sangat luas. Namun, seluas apa pun jaringan gue di media sosial, gue tetap mengapresiasi ketemuan langsung dengan masing-masing individu. Gue berusaha banget untuk nggak banyak berinteraksi dengan HP gue, dan juga meminimalkan membuka media sosial di laptop. Secara kerjaan gue banyak banget. Kalau misalnya gue perlu untuk relieve stress gue, yang gue lakukan adalah juggling hahahha… tahukah kalian bahwa aktivitas fisik itu membuat aliran darah kita menjadi lebih lancar, dan otak kita jadinya mendapatkan aliran darah segar senantiasa?

Menggunakan media sosial sekali-sekali juga nggak apa-apa kok. Gue cuman pengen menyalakan alarm aja, early warning system lah. Beberapa komponen EWS gue adalah yang di bawah ini:

-              Keranjingan sama media sosial itu buang-buang waktu banget. I better hire a person to work on that, rather than spending my time for that.

-              Pakai smartphone itu mata gue nggak sehat, dan jempol gue pegel. I rather meet the person by myself, rather than using virtual communications. Lagipula, Bahasa tulisan itu sangat berbeda dengan Bahasa sebenarnya. Jangan sampai orang malah salah tangkap karena statement kita di media sosial, padahal kita nggak bermaksud begitu.

-              The more media sosial yang gue pakai, the more memory required for my phone. Gue cuman install yang penting-penting aja, dan untuk hal-hal lain, I better go meet them in person. Semakin banyak memori yang dibutuhkan oleh telepon gue, semakin gue pengen HP yang memorinya lebih gede. Jreng! Mahal bener, broohh!!

-              Gue menemukan bahwa banyak orang yang kemudian membandingkan apa yang mereka miliki dengan apa yang orang lain miliki, sedikit banyak disebabkan oleh pengaruh dari media sosial. Bagi gue, mendingan gue nggak punya apa-apa, daripada gue punya hutang. I would rather buy things that I afford dan gue butuh, daripada gue harus berhutang. Gue nggak mau kemudian keluarga gue harus kesulitan karena gue berhutang, cuman gara-gara gue pengen satu barang yang juga dimiliki sama orang lain. What’s in it for us?

Gue nggak tau bagaimana kalian menggunakan media sosial. Tapi gue berharap, jangan sampai media sosial itu menghancurkan hubungan, kebiasaan baik, dan hal-hal positif lainnya yang kita punya, hanya demi sebuah kata: eksistensi, untuk bisa diterima oleh sekeliling kita.

Pakai media sosial itu boleh, tapi awas, ada efek sampingnya.

Have a lively life, people!


ime’…

Wednesday, October 04, 2017


Apalah arti sebuah CV

Heyho!! Apa kabar semua???

Gue hari ini mau cerita sedikit aja deh. Mungkin untuk meluruskan segala sesuatunya.

Gue hari ini mau cerita soal CV.

Gue paling kesal kalau orang itu suka banget bawa-bawa pengalaman sekolah mereka. Kenapa, karena dari situ orang akan mengkotak-kotakan elo, dan mulai punya ekspektasi dari elo. Seumur hidup gue, gue sering kali menemukan bahwa orang pintar itu, nggak selalu terpancar dari gelarnya. Seringkali bahkan gelar sama kepintaran itu berbanding terbalik. 

Gue sudah menemukan orang-orang yang gelar-less, tapi memiliki pemikiran yang luar biasa, yang bahkan orang-orang bergelar S3 pun, akan tunduk saat mereka berkata-kata. Jadi, buat gue, gelar itu cuman sebuah formalitas. Apalagi buat gue, yang dari dulu sekolah terus, tapi gue nggak pernah merasa bahwa gue punya motivasi yang purely untuk belajar. Gue sekolah terus itu karena gue dapat beasiswa, pengen banget tinggal di luar negeri, dan tentu saja, gue pengen banget jalan-jalan di luar negeri dan dibayarin. What's wrong with that? Gue digaji gede pula.

Gue nggak menyangka bahwa sampai dengan saat ini, orang take it seriously tentang gelar mereka, dan bukannya tentang isi dari diri mereka sendiri.

Hal yang paling gue benci adalah ketika orang menilai gue karena gelar gue, dan bukan karena diri gue sendiri. Gelar itu statis, dia nggak perlu penyesuaikan sesuai dengan keadaan, tapi kalau diri kita sendiri, apa pun keadaan yang kita hadapi, kita harus mau selalu menyesuaikan. Kebanyakan orang berpikir bahwa karena mereka doktor, kemudian mereka akan selamanya ada di atas. Padahal excellence for today is not the same as yesterday's. Then why do we have to brag on our achievement in the past and still think that we're on the top of the world today?

Bagi kalian yang masih menganggap gelar itu adalah segalanya, think again. Mencapai gelar itu hanyalah salah satu jalan, aja. Setelah lo mencapai gelar itu, you have to move on. Don't stuck in your past. Kamu nggak akan pergi kemana-mana.

Okay?

ime'...

Sunday, October 01, 2017


Insecurity dan segala ketidakpentingannya...

Mungkin kalau misalnya melihat judul dari postingan ini, kesannya bakal serius banget. Well, memang serius sih. Gue juga nggak ngerti kenapa akhir-akhir ini gue terus menerus belajar soal insecurity, dan kali ini, gue akhirnya bisa mengetahui kebenaran dari pernyataan seorang bijak, yang bilang bahwa 'what you understand, cannot be taken away from you'

Beberapa waktu lalu, kantor gue buat sesi tentang knowledge management. Paska sharing yang waktu itu dilakukan di kantor gue tentang knowledge management, gue jadi mengerti maksudnya sang orang bijak tersebut. 

Knowledge management sharing yang sebenarnya dibagikan waktu itu dibuka dengan membedakan tentang knowledge atau pengetahuan. Jadi, pengetahuan itu terbagi atas 2: explicit knowledge dan tacit knowledge. Explicit knowledge itu adalah hal-hal yang bisa diekspresikan dengan mudah, apakah itu dalam bentuk tulisan, video, atau apa pun yang lainnya. Tapi beda banget dengan tacit knowledge. Tacit knowledge ini adalah seluruh knowledge yang tidak terlihat, dan pada umumnya embedded di satu orang saja. Seringkali tacit knowledge ini diterjemahkan sebagai wisdom

Kalau digambarkan, knowledge ini ibarat iceberg, di mana explicit knowledge adalah sesuatu yang kita lihat di atasnya, sedangkan tacit knowledge adalah segala sesuatu yang ada di bawah. Umumnya yang di bawah ini lebih besar, dan lebih dahsyat. Pernah nonton Titanic kan? Nah, dia nabrak yang di atas, walaupun itu iceberg-nya kecil. Tapi dia nyangkut dan kerusakan kapal jadi luar biasa besar, karena apa yang ada di bawahnya. 

Tacit knowledge ini yang menurut gue serupa dengan apa yang dikatakan oleh sang orang bijak di atas, "What you understand, cannot be taken away from you."


Gambaran umum dari knowledge: explicit knowledge dan tacit knowledge

Gambaran ini sebenarnya ingin berkata bahwa, mau segimana pun kita mencoba untuk mengekspresikan pengetahuan kita, pada akhirnya, hanya kita yang tahu bagaimana caranya. It's pretty much the same dengan franchising. Kadang-kadang walaupun sudah dikasih tau resepnya, masakan A belum tentu rasanya sama dengan masakan B. Untuk beberapa kasus, bahkan design dan material dari peralatannya juga 'dijual' sebagai paket untuk franchise. Bahkan bumbu, kadang-kadang harus 'diimpor'. And you know what? People are desperately wanted to get that knowledge out of you, so they're willing to pay you high.

What works for me, doesn't work with others
Gue adalah orang yang paling membenci menghafal; tapi gue orang yang very good in conceptual thinking. Jadi, sekali gue understand the concept, I can remember anything in my own way. Nggak jarang juga, gue bisa menurunkan itu menjadi detail things. Gue juga baru menyadari tentang hal ini kayaknya pas tingkat 3 kuliah, dan gue sangat menyesali kenapa gue menyadarinya belakangan. 

Waktu SMP, pas ulangan fisika di kelas 3, ada masa-masa di mana gue sama sekali nggak belajar. Jadi gue nggak ngafalin rumus-rumus fisika itu. Tapi gue ingat satuan; yang ternyata juga dipelajari di kuliah. Gue hafal kalau Watt itu adalah Joule per detik, dan gue hafal kalau Joule itu adalah satuan gaya untuk memindahkan suatu barang di setiap jaraknya (walaupun pas gue nulis ini, gue harus google lagi apa yang namanya Joule). Tapi bagi gue, itu adalah konsep, yang menurut gue, konsep itu jauh lebih menarik daripada going into detail. Itu sebabnya, semenjak SMP, gue punya record yang cukup baik untuk hal-hal yang gue pahami konsepnya. 

But you know, what works for me, doesn't work with others

Ketika gue mempelajari soal tacit knowledge ini, gue jadi mengerti bahwa masing-masing kita punya cara kita sendiri untuk mendapatkan tacit knowledge. Kalau bahasa rohani-nya, mungkin ini yang disebut dengan rhema, suatu pengertian yang customized khusus buat elo, dan berlaku hanya untuk elo. Satu ayat bisa dibaca oleh lima orang yang berbeda, yang nggak kenal satu sama lain, namun bisa memiliki arti yang sama dalamnya, bagi masing-masing orang tersebut. Karena ketika ayat itu dibaca, kebutuhan mereka memang berbeda-beda. 

Mempelajari tacit knowledge membuat gue mengerti, bahwa semua orang di dunia ini sama pintarnya, tapi di area yang berbeda-beda, dan juga punya perspektif yang berbeda-beda. Adalah baik untuk kita semua exchange the knowledge to enrich us more, rather than comparing atau bahkan menuding siapa yang benar dan siapa yang salah. Ini, menurut gue, adalah konsep dasar dari security: bahwa masing-masing kita punya pengertian yang berbeda-beda akan sesuatu, dan pengertian itu tidak akan pernah bisa diambil dari kita. Pengertian itu juga yang membuat kita unik. Bukan berarti kita nggak perlu orang lain, lho, tapi sama seperti sapu lidi, kalau satu mudah dipatahkan, tapi kalau banyak lebih sulit dipatahkan.

However, yang gue temukan adalah bukannya kita memahami kekuatan kita masing-masing, yang ada kita malah membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, sehingga membuat diri kita semakin kecil. Apalagi pakai kata-kata kayak gini, "Apalah gue ya, dibandingkan sama dia...", dan berujung pada ngumpet di pojokan, merasa sangat tidak berdaya. 

Rumput tetangga lebih hijau: are you sure?
Ada kalimat yang bilang bahwa, "Memang ya, rumput tetangga itu memang lebih hijau." Salah satu orang bijak yang gue tahu, pernah bilang gini juga, "Rumput tetangga itu bisa lebih hijau, karena mereka pelihara. Kalau kamu dikasih rumput tetangga pun, ya kamu juga harus memelihara rumput itu, kalau nggak, mereka nggak akan hijau lagi." Makes sense kan? Kalau misalnya begitu, ngapain membandingkan rumput kamu sama rumput tetangga? Selama kamu nggak bisa pelihara rumput, untuk selamanya rumput tetangga akan lebih hijau.

Gue sering banget dibandingin whether I like it or not. Gue pernah dibandingin sama kakak gue yang diatas gue sama bokap gue, padahal, our paths are way different. Ada juga yang mungkin membandingkan elo dengan tujuan untuk memotivasi elo, tapi kalian percaya gak, gue pernah marah sama salah satu former boss gue, karena dia membandingkan gue dengan staff yang lain. Gue hanya bilang, don't compare me with others. If you want to motivate me, comparing me with others is not the way. 

Gue percaya bahwa masing-masing kita punya tugas dan tanggung jawab masing-masing. Pernah dengar kata 'passion' yang sempat membahana itu? That's your task and your responsibility in this world. To nurture it and to develop it. Jadi, kenapa harus mengeluhkan rumput tetangga lebih hijau? Your passion is your rumput. Belum tentu rumput tetangga itu jadi passion elo kan?

Sampai dengan hari ini, gue nggak ngerti kenapa kita harus membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. What's in it for us

Pernah ada kisah seorang raja bernama Saul. Dia juga seorang pemimpin perang, mengalahkan begitu banyak orang dan bangsa juga. Di jaman yang sama, hidup seseorang yang bernama Daud, yang awalnya adalah seorang gembala domba, namun karena dia mengalahkan lawan yang raksasa hanya dengan sebuah ketapel, dia jadi pahlawan baru. Saul sebenarnya lebih berpengalaman dari Daud. Tapi hanya karena perkataan segerombolan perempuan yang membanding-bandingkan keduanya, mengatakan bahwa Daud lebih banyak mengalahkan lawan daripada Saul, maka Saul kemudian jadi benci luar biasa pada Daud. Semenjak itu, ke mana pun Saul pergi, dia bawa tombak. 

Kalau kita insecure, kita bisa jadi seperti Saul, bawa 'tombak' kemana-mana, as if bilang, "Lu sebut nama itu lagi (orang yang kalian insecure with), ini tombak melayang ke jidat lu..." di saat sebenarnya masih banyak hal yang harus kita kerjakan untuk berkarya. 

Gue selalu teringat dengan perumpamaan cicak. Cicak itu hanya tau bahwa dia harus mengejar nyamuk. Nyamuk adalah passion-nya. Tapi tahukah kemana cicak itu kemudian pergi? Cicak itu bisa masuk ke Istana raja, hanya karena mengejar nyamuk. Itu artinya, the more busy you are with yourself and your passion, it will lead you to places yang kalian nggak pernah bayangkan sebelumnya. 

My point is, ada hal-hal di dalam diri kita yang cuman kita yang punya dan tahu, plus Tuhan juga sih; wong Dia yang nyiptain kita. Tapi, FYI, Tuhan bukan penjiplak, Dia buat masing-masing kita itu unik banget. Dia memberikan kepada kita berjuta-juta contoh kehidupan, yang seharusnya nggak luput dari kita. Cicak lah, semut lah, banyak deh, simply untuk bilang ke kita, bahwa kita ini luar biasa unik, so don't die as a copy

You are more than you think you are. So, let go semua insecurity dan segala ketidakpentingannya. Itu nggak bagus buat kesehatan kamu. Ingat, your passion is your rumput. Work on it so it will grow greener than tetangga's.

ime'...

Saturday, September 09, 2017


Enjoy the preparation for a fun journey...

Heyho!

Apa kabar kalian kah? Semoga baik ya.

Hari ini gue mau menulis tentang satu hal, yang kita semua punya, nggak ada yang kaya akannya, atau pun miskin akannya. Semua kita memiliki hal ini, sama besarannya; namanya 'waktu'. Setiap kita punya 24 jam setiap harinya. Bahkan pemimpin negara di berbagai belahan negara, memiliki waktu 24 jam setiap harinya.

Kita hidup di dunia yang memiliki batasan ruang dan waktu

Bedanya adalah untuk beberapa orang dari kita, waktu kita tidak semahal beberapa orang yang lain. Walaupun sebenarnya, kita punya besaran yang sama, 24 jam setiap hari. Postingan ini terinspirasi dari sebuah percakapan lepas yang spontan, yang memiliki tujuan untuk mengingatkan seorang anak SMA kelas 2, bahwa mengeluh itu tidak membawa kita kemana-mana. Apalagi mengeluh mengenai sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan untuk mencapai sesuatu yang kamu inginkan, sesuatu itu harus dihadapi.

Pernah kah kalian memiliki momen di mana kalian ngomong ke orang, untuk menegur atau menguatkan orang tersebut, namun pada akhirnya, perkataan tersebut lebih banyak ditujukan untuk kita sendiri? How does it feel? Agak dongkol gak? Hehehhe... Nah ya, itu yang terjadi dengan gue. Gue ternyata ngomong ke ponakan gue, untuk sesuatu yang sebenarnya perlu untuk gue cermati juga dalam hidup gue.

Salah satu orang di keluarga gue yang gue bisa bercanda amat sangat konyol adalah dengan keponakan gue, yang saat ini duduk di SMA kelas 2, perempuan. Mungkin karena dia generasi Z (millennial ++ kali ya?), jadi kadang menurut gue, pembahasannya itu menarik, kocak, dan hidup banget. Sepertinya, sangking menikmatinya gue dengan ponakan gue ini, kadang-kadang gue suka dititipin sama orang tuanya, untuk jaga'in dia. Padahal yang ada, dia yang jaga'in gue, tantenya.

Waktu itu hari Minggu; hari terakhir berleha-leha, ketika dia kemudian complain, "Ya ampun, besok udah mulai sekolah lagi," kata dia. Itu bukan sekali dua kali juga gue dengar dia ngomong begitu. Gue terus terang, punya masa-masa sekolah yang menyenangkan. Mata pelajaran yang gue kuasai, membuat gue sangat betah berlama-lama untuk menyelesaikan masalah matematika. Gue juga sangat aware dengan fakta bahwa, tidak banyak orang yang percaya bahwa gue suka banget matematika, secara gue secara konstan dapat ditemukan di lapangan basket SMA. Kalau hari Senin pagi, setelah upacara, nggak jarang gue ditemukan sedang lari keliling lapangan, karena gue nakal pas upacara; baca buku lah, ngobrol lah, apa lah. But, despite of begitu banyak setrapan yang gue terima waktu sekolah, gue enjoy my school time, dan gue gak akan ragu untuk kembali lagi.

Tapi ternyata, ponakan gue itu sebel banget dengan masa-masa sekolahnya. Terutama di sekolah dia yang satu ini, yang menurut dia amat sangat menyibukkan dia dengan pelbagai macam pelajaran.

Waktu gue mendengar hal itu, yang gue lakukan adalah memberikan kepada dia fakta, bahwa seharusnya dia menikmati masa sekolahnya, karena masa-masa inilah di mana dia dan teman-teman dekatnya, bisa bertemu setiap hari. "Kuliah nanti, belum tentu kamu ketemu mereka terus, de..." Dia kemudian terdiam, dan bergumam, "Bener juga ya..." yang didengar juga oleh kedua orang tuanya.

In a way, gue merasa bangga, karena bisa menegur keponakan gue, dan dia bisa reflect. Itu adalah sesuatu yang membuat gue senang, ketika orang itu mempertimbangkan usulan gue, sebagai sesuatu yang positif. 

Lucunya, paska gue ngomong begitu, tiba-tiba gue bertanya pada diri gue sendiri: adakah gue menikmati masa-masa gue saat ini, sehingga gue bisa meminimalkan complain gue sehari-hari? 

Life can be so rocky, that makes what's left in us are merely complaints

Sebenarnya pekerjaan gue merupakan pekerjaan yang gue suka. I got to meet people, gue bisa influence mereka dengan begitu banyak hal dari pengetahuan dan analisis gue, dan somehow, gue bisa berkontribusi akan sesuatu. Tapi, ada juga masa-masa di mana gue cape banget terlalu banyak jalan, atau punya aktivitas di luar kantor, yang membuat gue rasanya males banget. Karena gue juga suka nulis, jadi kayaknya kalau misalnya dalam satu minggu gue gak punya waktu untuk duduk diam di kantor dan nulis, gue bisa cranky banget. Kadang kalau dalam kondisi seperti itu, maunya gue adalah complain aja. Tapi, gue juga belajar, bahwa complain itu tidak memecahkan masalah gue. I still have to face that kind of situation, dan banyak banget yang jadinya nggak bisa gue lakukan. Walau gue gak complain, sering gue melakukan segala sesuatunya dengan terpaksa, dan gue tau, itu salah banget.

Gue tumbuh menjadi seseorang yang sangat aktif. Gue aktif banget main basket, sampai gue bisa berhari-hari gak ke sekolah, karena gue tanding sana-sini. Gue harus latihan basket juga, gue latihan club, banyak banget. Tapi, gue juga menyadari, bahwa waktu gue main basket, gue lupa kalau gue harus menjaga stamina gue, supaya gue siap pada saat gue harus tanding. Nah, gue benci banget sama persiapan-persiapan begini nih. Jadi, gue suka males banget latihan fisik sendiri. Bagi gue waktu itu, lebih baik gue duduk dan ngerjain soal matematika, ketimbang gue latihan fisik dengan cara lari keliling komplek. Itu akhirnya, gue sesali kemudian.

Sekarang kalau misalnya gue nengok ke belakang, ada satu hal yang gue sadari dan sesali, betapa gue tidak melatih disiplin gue dengan semestinya. Mungkin kalau misalnya gue latihan fisik, disiplin, dari dulu, gue nggak akan merasakan persiapan sebagai sesuatu yang menyebalkan. Jangankan gue masalah latihan fisik, sekarang aja gue kalau misalnya mau travel, gue males banget packing. Rem to the pong. Biasanya, either gue jadi bawa baju kebanyakan, atau ada aja yang lupa gue bawa.

I wish gue bisa lebih disiplin bangun pagi, tidur, dan yang paling penting, makan. Ketidakdisiplinan gue dalam makan, membuat gaya makan gue jadi berantakan, dan terakhir gue medical check-up, gue dimarahin sama dokter gizi.

Semuanya dimulai dari bagaimana kebiasaan kita untuk mengelola waktu kita.

Kalian pernah nggak sih waktu SD kalau nggak salah, pelajaran apa gitu ya, disuruh buat jadwal pribadi? Gue masih ingat, itu gue tempel di mana-mana. Tapi dasar gue kayak nggak mau dikekang sama waktu, jadi, jadwal itu hanya sebatas bagian dari PR aja, bukan sesuatu yang gue terapkan di dalam keseharian gue. Sekarang, udah umur segini, gue baru ngerti kenapa dulu kita belajar begituan.

Gue sekarang melihat waktu dari perspektif yang berbeda. Gue nggak menyangka gue bisa sesibuk sekarang, dan gue juga tau kapasitas gue pribadi. Gue perlu sesuatu untuk melepaskan tekanan yang ada di dalam kepala gue. Walaupun gue udah di umur yang sekarang, gue masih terus menerus struggle dengan mendisiplinkan diri gue untuk mengerjakan apa yang harus gue kerjakan. Gue juga volunteering di gereja gue, yang seringkali, gue memerlukan waktu tambahan untuk menyendengkan telinga gue kepada orang-orang yang perlu untuk didengarkan. 

Tapi gue juga jadi benar-benar belajar mengenai esensi, bagaimana kita perlu orang lain dalam hidup kita. Semakin ke sini, gue semakin menyadari bahwa gue bukan manusia super yang bisa segalanya. Jadi yang gue lakukan adalah distribute the labor. Gue delegate the issue. Gue share the dos and the don'ts, dan gue memberikan kesempatan untuk yang ada di bawah gue, supaya bisa belajar. Gue menyadari dengan begitu, tugas gue jadi jauh lebih mudah. Gue juga nggak ngerti kenapa ada begitu banyak orang yang mau melakukan segala sesuatunya sendiri, padahal sebenarnya lebih baik kalau misalnya bisa distribute the work. 

Gue belajar untuk sibuk menjadi diri gue sendiri, memperbaiki diri gue sendiri, dan gak mau rempong dengan kelakuan orang lain, terutama orang-orang yang kerjanya cuman bisa ngomongin orang. I simply don't understand why there are people who love to watch things, instead of doing thing or even creating things. Bukan kah life is more meaningful when we create things, than watch things?

Let's enjoy the preparation to make our journey as fun as possible

Anyway, statement yang gue kasih ke ponakan gue membuat gue berpikir ulang sebelum mengeluh. Gue mungkin nggak ada lagi masa-masa di mana gue bisa jalan-jalan, atau sharing knowledge yang gue punya, ke depannya. Gue mungkin nggak ada lagi masa-masa di mana gue bisa menikmati weekend di rumah, atau nggak bisa nulis blog, atau apa pun. Thus, gue memilih untuk menikmati segala sesuatu yang datang ke gue, bersyukur akannya, dan memanfaatkannya to build all the fun that I need for this life-journey I'm in.

Happy enjoying life.

Trust me, there are lots of joy, when you well prepared.

ime'...

Thursday, August 31, 2017


My story of 'support system'...

Heyho!!

Akhirnya gue memutuskan untuk duduk dan diam, untuk menulis blog. Sebenarnya udah lama gue mau niatin nulis di blog. Tapi, tau nggak sih? Kadang kita terlalu terpaku dengan estetika menulis blog; kudu ada gambarnya misalnya. Bener sih, tapi di kasus gue, mikirin estetika terlalu banyak berdampak pada, gue nggak nulis-nulis blog. Oyoy deh...

Anyway...

Kali ini gue mau cerita tentang salah satu pengalaman gue dalam seminggu terakhir.

Oh iya, gue baru pindah kerja, udah mau sebulan. Kenapa gue pindah kerja, salah satu alasannya adalah karena sudah terlalu lama di tempat yang lama, dan gue sangat menginginkan perubahan. Jadi, gue memberanikan diri untuk keluar dari comfort zone gue, dan voila... akhirnya gue pindah juga. Pindah kerja itu bukan suatu keputusan yang mudah. Gue harus berpikir sangat lama, sebelum akhirnya gue memutuskan. 

Nah, di tempat baru ini, gue ketemu sama orang-orang ajaib, yang gue baru tau kalo mereka exist hahahah.... I learn a lot, walaupun belum sebulan gue kerja di tempat baru ini. Banyaknya sih ketawa-ketawa ya, tapi gue jadi senang juga. Setelah gue bekerja hampir bertahun-tahun lamanya sendirian, sekarang gue punya orang-orang yang gue bisa ketawa with, dengerin kekesalan mereka yang dibuat lawakan, dan setiap hari, yang ada gue ketawa terus. Gue nggak bisa bohong, ternyata gue lebih suka kalo bisa bersinergi dengan orang lain. Mungkin karena gue main basket dari SD, yang mengajarkan gue untuk kerja tim. Nggak ada senioritas, yang ada adalah tim; berapa pun gap umur kita. I can go fast by myself, but I can only go far together; konon, katanya African proverb.

Salah satu teman baru gue, beberapa hari yang lalu mendadak menyodorkan gue kertas dan bilang begini, "Bayangkan elo ada di laut luas, sendirian, di tengah sampan. Gambarkan 3 item yang elo perlukan, selama ada di posisi itu. Oh iya, gak ada pakaian juga." Jadi, gue gambar lah. Kira-kira gambarnya seperti yang di bawah ini.


Pemikiran gue padahal sederhana banget waktu ngegambar ini. Jelas gue takut hiu, jadi gue gak mau berenang. Itu udah pasti. Kedua, gue gak mau kedinginan. Tadinya gue gambar baju, tapi gue ganti jadi selimut. Selimut itu kan anget banget. Lagian, gue gak perlu terlalu gimana banget kalo gue ada di kondisi kayak begitu. Ketiga, gue jelas banget harus minum banyak supaya gak cranky, jadi gue kudu air minum yang banyak. Dan yang keempat, karena gue gak mau berenang, jadi gue pengen ada pistol SOS yang pelurunya gak pernah habis, supaya gue bisa memanggil siapa aja.

For me, semuanya itu logis banget and so real. Gambar gue, kalau dilihat dari sisi persyaratan, sebenarnya amat sangat menyalahi persyaratan. Lah, yang diminta 3, tapi gue gambar air galon yang segambreng-gambreng, dengan tutup berbentuk kayak cangkir. Menyalahi banget deh pokoknya. Tapi ketika temen gue ngasih tau gue, apa arti dari gambar gue itu, gue kaget sekaget-kagetnya. Dia bukannya protes karena gue gambar tidak sesuai dengan persyaratan yang dia bilang di awal (padahal dia tukang protes), tapi dia malah ketawa.

Dia bilang, menarik banget bahwa gue nggak terpikir untuk menggunakan kekuatan sendiri untuk keluar dari sampan itu. Sampan itu diibaratkan sebagai my own problem atau challenges atau apa pun juga. Gambar gue menunjukkan bahwa, gue akan tetap ada di dalam problem gue itu, dan tidak akan mengandalkan kekuatan gue sendiri untuk keluar dari problem gue. Dia bilang, gambar gue menunjukkan bahwa gue punya support system yang kuat banget. Gue tanya lah, maksudnya support system itu apa? Dia bilang ya friends, keluarga, and those related. Then I was silent. I felt something hit me hard. Entah karena gue kurang menyadarinya, thus, gue jadi tidak mensyukurinya.

Gue merasa bahwa saat ini gue nggak berada pada kondisi terbaik gue. Gue mungkin berada di masa yang paling nggak enak dalam hidup gue, yang harus gue jalani. Gue dikritisi dari cara gue memilih teman. Gue sampai gak ngerti, kenapa ada yang bisa terpukul hanya karena gue merasa gue gak cocok berteman dengan satu orang. Kenapa gue jadi pihak yang disalahkan, ketika gue harus menyaring teman-teman gue? Emangnya gue punya apa gitu ya? I'm only a celebrity in my own life.

Ketika gue mulai memasuki masa-masa gak enak ini, tiba-tiba one totally stranger (at least for me), oh 2 bahkan, told me that they support me in everything I decided. Even strangers were sent only to tell me that they support me? Gue kayak bingung, kenapa ada begitu banyak orang-orang yang support gue, tanpa gue pernah tau bahwa orang-orang seperti ini beneran exist. You'll never know how loved you are, until you fall in the deepest valley of life.

Gue sering banget bertanya sama Tuhan, where did I go wrong, etc. Tapi, sekarang gue sadar, bahwa ada keadaan-keadaan yang mungkin sangat nggak enak buat kita, tapi sengaja diadakan, supaya kita punya perspektif yang berbeda. Just when you think that no one is there for you, Tuhan itu selalu akan meyakinkan elo, betapa elo itu sangat disayang, by sending more people for you. He's also there for you, but you just have to believe that He's there.

Menurut gue, support system gue yang terkuat adalah Tuhan sendiri. Despite of gue sering banget lalai melakukan hal-hal yang rohani, tapi gue yakin banget kalau Tuhan selalu ada buat gue. He's basically my best and coolest Friend. Banyak banget yang gue bisa testify tentang kebaikan Tuhan, dalam kehidupan gue sehari-hari. Hal pertama yang diberikan Tuhan ke gue adalah waktu. Kedua, yang Dia berikan adalah kemampuan untuk mengampuni orang lain. Hal ketiga yang Dia berikan ke gue adalah memberikan gue lingkungan yang jauh dari negativitas, mengijinkan gue untuk berpikir lebih jernih. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Salah satu support system gue juga gerombolan hari Rabu malam yang hobinya nongkrong, berbagi cerita, dan ketawa-ketawa di satu bilangan kawasan Serpong. Mungkin gak banyak jumlahnya, tapi bagi gue, mereka adalah one of my best support system ever. Keluarga gue juga lucu-lucu kok. Hal yang kemudian gue sadari setelah statement temen gue itu adalah kebaikan Tuhan yang terbesar setelah pengorbananNya buat gue adalah dengan menghadirkan dan membuat gue menyadari tentang keberadaan orang-orang yang lucu-lucu ini di dalam hidup gue. 

Gue gak pernah tau kenapa support system gue bisa sekuat ini. I'm just trying to be myself, be vulnerable in front of my trust ones, dan live my life gratefully. Karena gue nggak tau apa lagi yang bisa gue buat. Gue lelah menjadi orang lain, gue lelah menjadi sok kuat, dan gue lelah hidup terus menerus mengeluh. Menurut gue, support system akan terbentuk dengan kuat ketika kita menyadari dan memutuskan untuk nggak ja'im, dan menjadi diri kita sendiri.

Gue berharap kita semua menyadari, bahwa kita adalah mahluk sosial, yang perlu orang lain. Tapi kita juga mahluk yang diciptakan oleh Pribadi yang jauh lebih besar daripada kita. Gue rasa, hanya dari situlah kita bisa membangun support system kita, hingga menjadi kuat. If there's one thing that I can brag of, I'm pretty sure that is the foundation of my support system, my best and coolest Friend; God.

Have a great life!

ime'...


Sunday, June 18, 2017


Kamu punya mimpi?

Heiho!!

Hari ini, gue pengen cerita soal mimpi. Gue punya mimpi; dan menurut gue, seorang yang hidup, pasti punya mimpi. Dulu, gue berpikir bahwa mimpi itu adalah sesuatu yang di awang-awang, dan nggak penting apakah tercapai atau nggak. Tapi sekarang, gue menyadari bahwa mimpi itu adalah sesuatu yang sudah seharusnya dan sudah sepantasnya kita gapai, bukan cuman sesuatu yang menjadi topik pembicaraan aja. 

Dulu waktu kuliah, kita dituntut untuk tau apa yang mau kita buat, apa yang kita punya; dan dari situ, baru kita akan men-design prosesnya. Itu yang selalu menjadi pola pikir gue setiap hari dari sejak kuliah: gue mau jadi apa, gue mau punya apa, gue mau menghasilkan apa. Hal kedua yang gue pikirkan: gue punya apa. Baru yang ketiga, gue harus gimana. Kalau gue pikir-pikir, memang seharusnya kan begitu, kita harus tau, kita maunya apa. Main basket juga begitu kan: gue pengen score sebanyak-banyaknya, gue punya tim dengan komposisi kemampuan yang berbeda-beda. Jadi, strategi atau pola yang mana yang harus gue pakai, akan menyesuaikan dengan kondisi gue.

Boleh dibilang tahun 2017 ini adalah tahun yang cukup menantang gue untuk keluar dari zona nyaman gue. Banyak perubahan-perubahan di mana gue harus melakukan penyesuaian untuk diri gue sendiri, ketimbang mengeluh terhadap perubahan-perubahan yang bersifat pasti ini. Hampir melewati setengah tahun 2017, gue rasa, gue cukup bisa bertahan. Banyak sekali keputusan yang harus gue ambil sendiri, karena gue tau, gue mau ke mana. 


Banyak orang berpikir bahwa mimpi adalah hal-hal yang sulit bahkan mustahil untuk dapat kita capai. Bagi gue, kalau belum dicoba, berarti itu mitos.

Tahun ini juga gue belajar tentang persistensi dalam mencapai apa yang kita mau atau cita-citakan. Nggak gampang, banyak banget momen di mana gue rasanya pengen menyerah. Tapi, di situ gue bersyukur punya teman-teman yang mungkin secara tidak sadar, mereka membantu gue untuk mendiversifikasi pemikiran gue, sehingga mampu mengaktifkan saraf-'enjoy your today, because it won't come for the second time' gue. Gue juga diajarin bahwa, segala sesuatunya akan berakhir dengan indah. Jadi kalau belum indah, berarti itu bukan akhir.

Tapi, sadar nggak sih kalian, bahwa ketika kita berjuang untuk menggapai mimpi kita, ada begitu banyak hal yang muncul entah dari depan atau dari samping, bahkan dari belakang kita, yang berusaha untuk menjauhkan kita dari jalan kita yang sebenarnya? Pernah juga nggak terpikirkan kalau saat berjuang menggapai mimpi, ada masa-masa di mana kita sama sekali nggak bisa bergerak, dan maunya antara duduk aja, atau tidur aja? Atau mungkin bisa bergerak, tapi kitanya yang nggak mau? Either karena merasa cape', bosan, marah, atau hal-hal lainnya. Tapi tahu nggak, kalau misalnya kita diam saja secara berkepanjangan, itu sebenarnya kita malah 'mematikan' diri kita sendiri?



Gue tadi baru posting sebuah lagu tentang mimpi, yang saat ini gue suka banget. Lagunya adalah soundtrack dari sebuah drama Korea. Buat gue, lagu itu membuat gue merasa kayak pisau yang menusuk ke dada kiri gue, diputar-putar, terus lukanya tersiram air lemon. Lemes, karena kayaknya itu menggambarkan gue yang sedang bingung, cape', kesal, merasa tertekan untuk menggapai sesuatu, tapi sekeliling gue gelap sangat. Gue kemudian merasa sesak, karena gelap, takut, dan bingung. Gue sadar, gue punya dua pilihan: merasa sesak dalam kegelapan ketidakpastian yang membuat gue nggak mau bergerak karena takut ada apa-apa, atau gue jalan aja terus, terlepas dari kegelapan yang ada di sekeliling gue, percaya bahwa pasti ada cahaya yang menunggu gue di depan. Mungkin gue tersandung, jatuh, dan harus berhenti. Tapi kalau pun gue harus berhenti, gue akan memilih berhenti sejenak saja dan beristirahat, terlepas dari kegelapan yang ada. Karena dengan berhenti sejenak, gue sebenarnya membiarkan diri gue mendapatkan tenaga baru.

Hidup kita adalah perjalanan. Sesekali akan melewati terowongan gelap yang terkesan tak berujung.

Memang lebih enak kalau misalnya kita melakukan perjalanan bersama dengan teman-teman yang memang memiliki pandangan yang sama dengan kita: satu visi dan satu tujuan. Karena, di tengah perjalanan yang banyak ketidakpastiannya, kita bisa saling menguatkan satu sama lain. Dalam setiap perjalanan gue, gue selalu merindukan adanya orang-orang seperti ini ada di sekeliling gue. Gue pun, berusaha untuk menjadi pendukung yang baik bagi orang-orang yang bervisi. Apalagi kalau visinya sama. Gue juga menyadari, bahwa sebagai manusia, kita adalah mahluk sosial yang juga membutuhkan orang lain. 


Kalau kalian sedang berupaya untuk mengejar mimpi kalian, visi kalian, pastikan kalian nggak menyerah, dan coba lah untuk membagi visi kalian dengan yang lain, terutama yang mengerti kalian. Memang tidak selamanya mereka ada untuk kita, tapi setidaknya, ada orang-orang yang berdoa agar kita baik-baik saja, dan selalu semangat dalam mengejar mimpi kita. 


"All of us have dreams. To achieve it, sometimes (probably even most of the time), it takes more than hard work and willingness. We can't be too careful either, as we will be afraid to try new things, that who knows, might be our small chance to find the right path. We might be desperate along the way, where we left with two choices: suffocated with our current condition and die, or keep moving forward through the current uncertainties because we believe that there is a bright light down this small path that we take. Both choices have risks; but life is full of risks, anyway. So, don't argue about the risks when you have to decide; rather, argue about where would you be after you take that risks, to decide. Would you be closer to your dreams or farther?"

Cemungud!!

ime'...

Tuesday, January 24, 2017


Cerita tentang sekolah...

Sekolah bagi gue adalah pengalaman terbaik yang pernah ada di hidup gue. Gue even sempat berada pada titik di mana gue nggak mau bekerja, karena gue suka sekolah. Gue bisa berpikir apa saja, dan kemudian mencobanya, gue punya banyak teman, banyak kegiatan, dan hari-hari kita dihiasi oleh mimpi, dan nggak terlalu khawatir dengan hari esok. Kalau uang bulanan belum nyampe', ada teman-teman yang selalu buka kos-kosan mereka untuk makan bareng, walaupun hanya sekedar mie instan. Kalau misalnya lagi sedih, mereka bisa ditemukan di tempat biasa nongkrong bareng: kalau nggak perpustakaan, ya lapangan basket, atau unit. Sekolah bagi gue, adalah pengalaman terbaik, dan gue akan sangat senang untuk mengulanginya kembali. 

Pandangan gue tentang sekolah pun sebenarnya terbawa ke dunia kerja. Gue merasa bahwa gue ini bekerja dan bermain, seperti di sekolah. Ada masa ujiannya juga sih, tapi masa ujian di kerjaan nggak ada periode-nya. Macam kuis dari Profesor yang jahilnya luar biasa; datang tak diundang, pulang nggak bilang-bilang (kapan kuis pernah pulang?). Mereka datang seenak perut aja, jadi kalau kerja, setiap hari adalah belajar. Waktu gue cerita tentang pandangan gue ini, ternyata, banyak orang yang iri sama gue, karena mereka nggak bisa bilang bahwa bekerja itu kayak bermain. Gue juga jadinya suka kesal kalau orang bilang gue terlalu sibuk dengan pekerjaan gue, atau terlalu overwhelmed dengan kerjaan gue. Padahal, gue simply suka bermain; dan bagi gue, bekerja itu adalah mirip seperti bermain. You meet people, ngobrol-ngobol, curhat, gosip, tukar pikiran, ngerjain PR sama-sama, supaya nanti kalau ujian (ditanya'in sama team leader misalnya), gue bisa jawab. And I guess, am really blessed with those facts.

Akhir-akhir ini gue banyak nonton drama Korea tentang sekolah; sesuatu yang tidak pernah gue pikirkan ketika gue sekolah dulu di SD, SMP, atau bahkan SMA, atau bahkan lagi kuliah. Pemikiran itu adalah you are so well in school, but how are you outside of school? Gue menemukan dari drama-drama itu, bahwa ternyata ada begitu banyak orang tua yang sangat ambisius dan kompetitif, menginginkan anak-anak mereka untuk masuk ke sekolah yang bukan cuman terbaik, tapi lebih dari yang terbaik. Gue juga mengalami hal itu, tapi gue nggak pernah disuruh orang tua gue. Gue mau masuk ke perguruan tinggi terbaik, semata-mata karena gue emang pengen. It was like my dream kali (walaupun ternyata mimpi itu belum tentu indah juga ya kalau sudah terealisasi...)... tapi memang hal terbesar yang gue nggak pernah bisa jawab adalah, kalau besar, gue mau jadi apa?
  


Gue masih ingat dulu waktu masih SMP atau SMA gitu ya, kita suka diminta untuk ngisi diary temen kita, yang isinya macam-macam, termasuk cita-cita. Gue juga ingat persis, bahwa gue tulis cita-cita gue itu banyaknya luar biasa, semuanya gue sebutin. At the end of the day, waktu gue reflect back, memang ternyata gue menjadi orang yang merupakan gabungan dari apa yang gue tuliskan; tidak full melakukan profesi tersebut, tapi ada aktivitas-aktivitas yang memang gue lakukan.

Hal lain yang gue temukan adalah orang tua yang menyerahkan anak-anak mereka ke sekolah dan lepas tangan terhadap pendidikan mereka di luar sekolah. Kalau misalnya kita mendapati anak-anak tersebut nakal, gurunya yang kita salahkan. Gue sebenarnya nggak setuju dengan konsep bahwa guru itu bertanggung jawab bagi kedewasaan anak-anak. Bagi gue, anak-anak itu adalah tugas dan tanggung jawab orang tua. Mungkin, gue juga termasuk salah satu anak yang seperti itu ya. Pulang ke rumah, orang tua gue lagi kerja, awalnya nggak terlalu terasa, karena ya itu, gue anaknya suka main. Tapi, paska nyokap gue meninggal, kebutuhan akan orang tua itu semakin terasa. Gue jadi berpikir mengenai suatu pemikiran yang bilang bahwa anak itu paling butuh orang tua ketika masih bayi, tapi menurut gue, seorang anak itu membutuhkan orang tua mereka di sepanjang masa. Gue menyadari bahwa jaman sekarang, bisa sangat berbeda. Orang tua harus bekerja lebih keras lagi untuk mendengarkan dan mengarahkan anak-anaknya.

Sepertinya tahun lalu, gue mendapat cerita tentang seorang remaja putri di SMA, yang sampai masuk rumah sakit, hanya karena dia disirikin sama temannya yang lain perihal pacar. Jaman gue dulu, salah seorang yang gue kenal sampai meninggal karena ketusuk akibat tawuran. Teman gue juga ada yang nge-drugs waktu masih SMP. I have so many stories tentang kehidupan remaja baik di jaman gue dulu masih duduk di bangku sekolah, sampai sekarang ketika gue mendengar cerita-cerita dari banyak orang. What went wrong? Apakah tergantung dari jenis permainan yang kita mainkan? Gue dulu main karet dan bekel, dan congklak. Mungkin anak sekarang main yang lain, game online misalnya. Gue juga punya satu teman yang adalah orang tua, nangis dan kecewa karena anaknya ternyata terjerat dalam game online, yang ternyata bukan game biasa.

Beberapa film tentang kehidupan remaja yang gue tonton, memberikan gue insight bahwa kehidupan remaja itu adalah fase yang paling krusial dalam hidup masing-masing orang, sehingga sebenarnya merupakan fase yang paling berat. Apa yang lo tonton sebagai remaja? Informasi apa yang masuk ke kepala elo waktu remaja? How did you use your time ketika lo remaja? Itu yang sebenarnya menjadi buah dari kehidupan lo di masa sekarang. Somehow, gue merasa menjadi anak yang sangat beruntung memiliki orang tua yang cukup; tidak terlalu kaya dan tidak juga berkekurangan. Walaupun gue sempat kerja sambilan waktu kuliah untuk biaya gue juga, tapi, setidaknya gue masih cukup.

Gue juga bukan anak yang jalannya lurus; kadang gue belok, kadang gue jatuh, kadang gue salah arah, frustrasi, dan nyasar ke dalam kegelapan. Tapi, di situ gue menyadari, itu lah gunanya teman; dan gue baru menyadari, bahwa many times, friends are closer than a brother; membuat gue jadi bertanya, kalau gitu, mana yang lebih berharga, pertemanan, atau kekeluargaan? A wise man say bahwa orang yang bisa menyakiti elo paling dalam itu adalah orang yang paling dekat dengan elo. Jadi, wajar banget kalau misalnya ada anggota keluarga lo yang menyakiti hati elo. Tapi, banyak saat di mana when your family disappoints you, you still have friends who will carry you through. Gue rasa, sama juga kebalikannya. 

 

Gue merasa gue banyak teman, walaupun gue nggak banyak curhat sama orang. Nggak banyak curhat itu sebenarnya karena gue menyadari bahwa masalah yang gue hadapi, sebenarnya nggak banyak berubahnya. Salah seorang teman baik gue bilang bahwa kalau masalah kita nggak berubah, maka sebenarnya, hidup kita juga nggak berubah. Why do you have to exaggerate things yang sebenarnya selalu ada berulang kali? Haven't you learned? Gue juga merasa bahwa teman yang paling baik itu adalah teman yang bisa mengkritik dan memberikan gue masukan, apa adanya. Bukannya tanpa rasa pedih ketika menegur gue, dia sakit juga ketika dia memberikan kritikan yang menyakiti gue, tapi dia mau melakukan hal itu supaya gue bisa jalan di jalan yang seharusnya dan selayaknya. 

Ah... rasanya saya lebih suka dengan cerita hubungan persahabatan ketimbang dengan hubungan percintaan. Makanya saya selalu suka hubungan percintaan yang berawal dari persahabatan, dan terus bisa menjaga persahabatan itu. Lucky I'm in love with my best friend, I think its beauty is really true ...

Salah satu drama yang gue baru selesai nonton juga nggak bicara tentang percintaan, tapi tentang persahabatan. Sahabat means trust, pain, sharing, caring, loving, and everything in between. Gue juga belajar bahwa persahabatan itu tidak terjadi secara otomatis, tapi dia perlu effort. Effort untuk mengerti orang tersebut, effort untuk kerja fisik, tahan mental, for something that is thicker than blood. Salah satu lagu yang gue suka dari Project Pop adalah 'Ingatlah Hari Ini'. Gue bisa mendengarkan lagu itu berkali-kali, berulang-ulang, terutama di bagian: 'Kamu sangat berarti, istimewa di hati, slamanya rasa ini. Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini...'.

I cannot imagine what my life would be tanpa teman-teman gue; baik yang ada di Indonesia yang tercinta ini, maupun yang ada di internasional. Mungkin gue jadi laugh-less, nggak hore, nggak asik, nggak cihui, nggak merasa aman dan selalu menganggap curiga akan orang lain. Gue tumbuh memiliki banyak teman, yang selalu protecting me, walaupun mereka nakalnya luar biasa, mereka nggak pernah mengijinkan gue nakal. 

Kalau kembali ke cerita sekolah, maka gue akan bilang hal ini: sekolah itu bukan masalah  belajar, tapi sekolah itu adalah masalah bergaul dan bersosialisasi. Kakak ipar gue pernah bilang begini, kenapa orang harus sekolah, kalau misalnya kita bisa belajar dari internet? Dan kemudian, dia menjawab sendiri (mungkin karena tau gue gak bisa jawab yak), karena hanya di sekolah, kita berinteraksi dengan orang lain, mencari jawaban bersama dengan orang lain, berbagi, bersosialisasi, dan bekerja sama. Gue rasa, kita jadi kehilangan the true meaning of school, ketika nilai menjadi takaran yang melebihi kemampuan kita dalam bersosialisasi, atau ambisi kita untuk dapat masuk ke perguruan tinggi tertentu. Sama seperti yang ada di drama-drama Korea tentang sekolah yang gue tonton. Sekolah menjadi tidak masuk akal ketika kita hanya memikirkan angka dan prestasi. 

Bagi gue, orang yang kepintarannya hanya slightly di atas rata-rata (tetep nggak mau bilang biasa aja, hahahaha...), angka dan prestasi itu tetap bisa diperoleh ketika kita juga banyak bermain kok. Kalian nggak percaya? Gue adalah buktinya.

Makanya, bergaul lah... itu sehat buat jiwa kita dari remaja sampai kita tua nanti. 

Percayalah apa yang dikatakan sayah... :)

ime'...