Photobucket

Monday, December 05, 2016


Mazmur 21


Have a great life, everybody.

ime'...

Sunday, September 18, 2016


Creativity: A life beyond boundaries

Akhir-akhir ini gue banyak berpikir tentang kreativitas, mungkin juga karena gereja gue tema bulanannya tentang kreativitas, jadinya gue cukup banyak memikirkan isu ini juga. Justru karena gue memikirkan hal-hal itu, gue juga berpikir bahwa kreativitas yang sebenarnya itu, jauh melampaui kreativitas yang saat ini kita bayangkan.

Banyak yang bilang kreativitas itu hanya jadi milik orang-orang yang memiliki selera seni. Bagus pun sebenarnya kan itu relatif kalau di dunia seni, bahkan mungkin, segala sesuatu di dunia seni itu adalah relatif, tidak ada yang mutlak (mungkin ya). Tapi, apakah memang benar bahwa kreativitas itu hanya menjadi milik orang-orang yang berseni? Bagaimana dengan orang-orang akademisi, apakah mereka kemudian tidak kreatif? 

Dulu waktu SMP, gue itu pernah ulangan nggak belajar sama sekali tentang fisika. Gue lupa kenapa, tapi gue ngerti tentang dimensi. Misalnya, satuan kecepatan itu adalah satuan jarak dibagi dengan satuan waktu; percepatan, daya, gaya, gue tau semua dimensinya. Jadi, yang gue lakukan waktu itu adalah gue 'membuat' rumus sedemikian rupa, sehingga satuan yang di sebelah kiri (masalah) itu akan selalu sama dengan satuan di sebelah kanan (solusi). Hasil ujian gue waktu itu kalau nggak salah kepala 9 skala 10, karena gue melakukan hal itu. It's not bad lah, walaupun bukan 10, ya.Tapi, apakah kemudian gue nggak kreatif dalam hal itu, karena itu nggak ada seninya sama sekali?

Semenjak itu memang gue jarang banget belajar dengan cara seperti yang diajarkan di sekolah, dan gue mulai mengenal yang namanya konsep. Pengetahuan gue akan konsep ini lah yang kemudian mengubah cara gue belajar. Hampir semua mata pelajaran dengan hitung-hitungan, yang gue ingat hanya konsepnya. Jadi, kalau gue bisa mengerti sesuatu, itu artinya gue ngerti konsepnya, dan kalau lo ngerti konsepnya, lo akan bisa mengembangkan jauh lebih banyak dari yang sebenarnya ada.

Sebenarnya, kreativitas itu apa sih? Kalau gue google, creativity itu adalah act of turning new and imaginative ideas into reality. Artinya, apa pun ide yang ada di kepala elo, once elo memutuskan untuk mengerjakan ide itu supaya menjadi kenyataan, itu adalah masa di mana elo itu kreatif. Pasti waktu kalian membaca ini, kalian akan berpikir, "Masa sih? That simple?", karena gue berpikir demikian juga. Dulu, menurut gue, kreativitas itu tidak sesederhana itu. Untuk menjadi kreatif, menurut gue, upayanya banyak banget, dan tidak ada satu pun dari upaya itu yang gue ngerti bagaimana cara melakukannya. Tapi ternyata, as simple as that. Sebuah catatan lagi, karena ini adalah suatu konsep, maka untuk bisa menerapkannya, kita semua harus terima konsep ini.  

Seseorang bernama George Land di tahun 1968 mengadakan sebuah riset untuk menguji kreativitas dari 1600 anak-anak yang beragam umurnya, mulai dari 3 sampai dengan 5 tahun. Tes ini serupa dengan tes kreativitas yang ia buat untuk membantu NASA dalam memilih engineer dan ilmuwan. Hasil tersebut menyatakan bahwa kreativitas yang dimiliki oleh anak berumur 5 tahun adalah 98%; 10 tahun, 30%, 15 tahun, 12%, dan untuk orang dewasa, hanya mencapai 2%. Fakta ini yang kemudian membuatnya menyimpulkan bahwa perilaku yang tidak kreatif ternyata dapat dipelajari. Kalau yang tidak kreatif bisa dipelajari, berarti , perilaku yang kreatif pun juga dapat dipelajari.
Hasil penelitian itu juga yang membuat gue berpikir bahwa sebenarnya kita semua ini hidup di dalam sebuah boundary. Contoh, dulu waktu masih SD, diajarkan bagaimana menggambar itu harus ada di dalam sebuah kotak, kalau misalnya ada yang keluar dari kotak tersebut, maka nilai si murid akan dikurangi. Gue sih nggak terlalu pay attention dengan pelajaran menggambar waktu itu. Gue cuman inget, dulu guru gue cuman bilang, gambar lah sebanyak-banyaknya supaya bisa mendapatkan nilai. Tentu saja, gue end up dengan gambar pemandangan di mana ada satu gunung, matahari, satu rumah di kiri bawah, dan sawah di sebelah kanan. That's it; yang penting, gue dapat nilai.


Tapi, gue juga jadi teringat oleh sebuah cerita nyata, mengenai seseorang yang jenius di bidang matematika. Biografinya dituliskan dengan judul 'The man who knew the infinity', Srinivasa Ramanujan. Ramanujan adalah seseorang berkewarganegaraan India, yang cinta dengan angka. Walau demikian, dia tidak memiliki satu gelar pun, karena dia tidak pernah mengecap pendidikan mengenai matematika murni. Suatu hari, atas dorongan dari bos langsungnya, Ramanujan mengirimkan pembuktian rumus yang ia kembangkan, ke Inggris, mengalamatkannya kepada G.H. Hardy, salah seorang profesor matematika di Cambridge, tepatnya di Trinity College. Pada awalnya Hardy cukup reluctant untuk membawa Ramanujan ke Inggris, dikarenakan India masih merupakan jajahan dari Inggris pada saat itu. Namun, Hardy tetap memanggilnya ke Inggris. Di beberapa scene memang Ramanujan menolak untuk menerima kuliah, karena bagi dia, ia sudah mengetahui segala sesuatunya, jadi, kenapa harus repot? Walau demikian, Hardy yang memaksa Ramanujan untuk tunduk pada pengajarnya dan tetap belajar. Hardy juga ingin agar Ramanujan dapat membuktikan teori-teori yang sudah ia bangun sendiri, dengan menggunakan teorema-teorema baku yang berlaku di dunia matematikawan, agar teorema yang ditemukan oleh Ramanujan dapat dimengerti logikanya oleh kebanyakan orang.

Ketika salah satu temuan Ramanujan  diuji oleh teorema-teorema baku yang berlaku di dunia para matematikawan, beberapa dianggap salah. Namun, hal tersebut tidak pernah membuat Ramanujan menghilangkan cintanya kepada matematika. Ramanujan saat ini dikenal sebagai matematikawan India yang mempelajari matematika murni secara otodidak. Terlepas dari berbagai macam masalah yang dialami oleh Ramanujan pada masa itu, saat ini hampir seluruh teorema-nya terbukti benar, dan telah menjadi inspirasi bagi penelitian lanjut. Bahkan, salah satu teoremanya digunakan untuk membuktikan perilaku dari lubang hitam (black hole) alam semesta ini.

Waktu gue nonton filmnya, ada scene di mana Hardy menanyakan, "How did you know that?" kepada Ramanujan, terutama setelah mengetahui bahwa Ramanujan tidak memiliki pendidikan yang mendukung untuk profesi sebagai matematikawan. Jawaban Ramanujan adalah, "I don't know. I just know it's true." Walau demikian, dia kemudian menambahkan, "An equation for me has no meaning, unless it expresses a thought of god." Isn't it interesting, bahwa Ramanujan bisa keluar dengan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh matematikawan lainnya, karena dia berkomunikasi dengan tuhan-nya?

Kadang, kita nggak tau kalau kita itu kreatif. Kita cuman punya ide aja, lalu kita buat. That's it. Ramanujan adalah salah satu contoh orang jenius yang berpikir di luar kotak, namun, untuk dapat diterima, ia harus bisa membuktikan kejeniusannya melalui ilmu-ilmu orang yang ada di dalam kotak. Supaya bisa lebih dimengerti oleh orang-orang yang pemikirannya berada di dalam kotak.

Beberapa bulan yang lalu, gue dikasih tes, dan hasilnya bilang, gue itu adalah orang yang out of the box, dan yang harus dilakukan untuk gue adalah menaruh gue di dalam kotak. Tentu saja gue menolak untuk ditaruh di dalam kotak. It is solely my right to expand and generate my ideas. Kenapa gue kemudian harus di taruh di dalam kotak? Jadi, kalau kalian diuji talent dan kemampuannya, terus jawabannya begitu, jelas bisa bilang bahwa orang yang menguji kita itu nggak ngerti sama sekali tentang kemampuan orang dan bagaimana meningkatkannya. Why should we live in a box where we know that there are more in this life than a life in a box? Walau demikian, kita memang harus bisa menunjukkan kebenaran dari life outside the box dengan cara-cara yang dimengerti oleh orang-orang yang hidup inside the box.

Dari beberapa hal di atas, gue juga belajar bahwa kreativitas itu adalah tanggung jawab kita semua. Sadarkah kalian semua, bahwa manusia itu adalah ciptaan Tuhan, yang diciptakan serupa dan segambar denganNya? Jauh sebelum kita mengenal Tuhan sebagai Tuhan penyembuh, penyelamat, penyedia, kita mengenal Tuhan sebagai Tuhan yang mencipta. Harusnya, kalau kita diciptakan serupa dengan Dia, kita pun juga bisa mencipta. Bahkan mungkin, itu lah kekuatan kita yang sebenarnya. Itu sebabnya, kreativitas itu harusnya menjadi tanggung jawab kita, untuk kita lakukan tentunya, bukan hanya untuk kepentingan kita, tapi untuk kepentingan orang lain. Kita memang terbatas, tapi bukan berarti kita itu tidak kreatif, karena kreatif itu bukan milik satu domain sendiri.

Mengakui keterbatasan kita itu boleh, tapi bukan berarti kita tidak bisa mengimplementasikan ide-ide kita. Itu sebabnya pula, Tuhan menyediakan orang lain, yang memiliki kemampuan yang berbeda, namun dapat menunjang penerapan dari ide-ide kita. Makanya, bergaul lah, untuk bisa menajamkan dan juga untuk mengimplementasikan ide-ide yang ada di kepala kita. Ini juga lah yang menjadi art of collaboration, you simply can do much better if you collaborate.

Ramanujan memerlukan Hardy untuk bisa mempublikasikan temuannya, dan pada akhirnya, Hardy yang berjuang supaya Ramanujan bisa menjadi bagian dari Fellows of Royal Society di Inggris, yang merupakan kumpulan ilmuwan-ilmuwan terdepan. Hardy memerlukan Littlewood yang selalu mengingatkan Hardy mengenai potensi Ramanujan, dan juga untuk tidak menyerah pada potensi Ramanujan. No matter how good you are, you will always need somebody to make you better. And that is why, if your creativity is limited by people, then you may want to get out of there and find a much better environment to develop and expand your creativity. Your creativity can only be expanded with the right people and environment.  

So, live your life beyond boundaries, for you are creative.

ime'

Labels: , , , ,

Monday, August 29, 2016


Dunia ini adalah Rumah Sakit

Beberapa minggu terakhir, gue banyak memberikan reward kepada diri gue sendiri dengan nonton serial film Korea (yang gue sadarnya telat banget tentang keseruannya hahahah...), setelah gue berhari-hari lembur, even di weekend. Lucunya, tanpa gue sadari - dan gue nggak baca reviewnya dulu memang - kebanyakan film yang gue tonton, ada hubungannya dengan kejiwaan seseorang. Pattern-nya juga mirip: cerita tentang orang yang berada (entah dari segi harta, posisi, atau tampang, hahahah...), banyak dikagumi orang lain, tapi ternyata, dia punya kelainan kejiwaan. Pattern yang sama dari film-film itu menunjukkan peran komunitas, atau teman-teman terdekat yang mendukung kesembuhan si pasien, sangat tinggi.

Beberapa kelainan kejiwaan yang gue temukan di film-film itu adalah dissociative identity disorder, narcissistic personality disorder, tourette syndrome, schizophrenia, dan antisocial personality disorder. Hampir semua kelainan ini disebabkan oleh kesalahan pertumbuhan (eh, gimana ya bilangnya?). Pokoknya ada hubungannya dengan masa kecilnya mereka, yang diakibatkan oleh  trauma atau stress yang dipendam sejak kecil, beberapa mengalami abused. Ada juga yang disebabkan karena merasa dicurangi oleh orang tua mereka, sehingga mereka melihat beberapa tindakan sebagai suatu tindakan pengkhianatan.

Salah satu film misalnya cerita tentang seseorang yang mengalami kelainan kejiwaan, sehingga ia menciptakan tokoh khayalan versinya dia, untuk meng-kompensasi perasaan bersalahnya kepada dirinya sendiri. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menjaga si tokoh khayalan tersebut. Ternyata, tokoh khayalannya itu adalah figur dia sendiri ketika dia masih muda, dan rentan untuk dipukulin sama ayahnya dan kakaknya sendiri. Itu sebabnya, dia berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya. Peak dari kelainan jiwa ini adalah, bunuh diri.

Funny thing adalah orang-orang yang mengetahui tentang orang lain yang mengidap penyakit ini, malah menjauhkan diri dari mereka.Atau, untuk para orang tua yang menyadari kelainan pada anaknya, yang dilakukan adalah denial dan memaksa anak-anak ini untuk hidup normal. Padahal, dari film-film itu, gue belajar bahwa, justru orang-orang yang seperti ini harus diterima dan diberikan kasih sayang yang sepadan untuk menyembuhkan kelainan ini.

Film yang baru aja selesai gue tonton malah memberikan impresi kepada diri gue, bahwa sebenarnya semua manusia di muka bumi itu 'sakit', dan yang sebenarnya mereka perlukan adalah kasih sayang dan perhatian dari orang lain; dukungan, penerimaan dan lain-lain. Dari film itu juga, gue keluar dengan judul dari postingan ini, 'Dunia ini adalah Rumah Sakit'. Gue juga menyadari dari film itu, bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya keluarga ideal; yang ada adalah keluarga yang mau saling terbuka dan mendukung satu sama lain. Ini, yang mungkin terlewat oleh kita. Gue juga menyadari bahwa tidak ada satu keluarga yang bisa berdiri sendiri, itu sebabnya kita juga perlu tetangga. Kita nggak pernah tahu latar belakang keluarga atau masa-masa pertumbuhan seseorang, what they've been through, yang pastinya membekas di kepala dan hati mereka, dan mungkin juga menimbulkan luka bagi mereka. We don't know that...

Namanya aja Rumah Sakit, pastinya ada dokternya dan ada susternya. Makanya kalau kalian perhatikan, ada banyak peran yang bisa dimainkan oleh manusia, sesuai dengan bakat yang diberikan; ada yang bisa jadi dokter, ada yang bisa jadi suster. Walau demikian, bukan berarti mereka yang menjalani peran sebagai dokter dan suster, pasti tidak mengidap salah satu penyakit kelainan jiwa di atas. 

Film lain lagi yang gue tonton bercerita mengenai seorang dokter bedah yang terkenal dengan persentase keberhasilan operasinya sangat tinggi, namun, ia punya kelainan kejiwaan dan itu adalah tidak memiliki empati bagi orang lain. Tapi, di dalam ruang operasi, dia bukan orang yang cepat panik, dan punya daya konsentrasi yang tinggi. Namun, di luar ruang operasi, dia dinilai sebagai orang yang jahat.

Film-film ini membuat gue semakin yakin bahwa gue itu nggak lebih baik dari orang lain. Film-film ini juga mengajarkan pada gue, bahwa selalu ada peluang kesembuhan  buat masing-masing kita, yang penting adalah bagaimana kita bisa menemukan komunitas atau kumpulan orang yang baik sama kita, siap mengingatkan juga. siapa yang mendukung kita. Gue juga belajar bahwa terbuka merupakan kunci untuk kita bisa mendapatkan kesembuhan yang kita perlukan. 

Gue merasa tertemplak juga dengan salah satu line yang diomongin di situ, katanya begini, bedanya ilusi atau halusinasi dengan kenyataan itu, terletak pada sinergi dan sinkronisasi logika. Artinya, ilusi dan halusinasi itu stagnan, tidak membawa kamu kemana-mana, tapi realitas, itu akan membawa kamu ke tempat yang berbeda dengan tempat kamu yang sekarang. Pastinya, suatu tempat yang merupakan kemajuan buat diri kita masing-masing. Idealnya.

How do you see yourself? Normal? Sick? Normal is definitely relative, but sick is absolute. How do you see your life? Stagnant or moving somewhere?

Tanda-tanda kita masih waras itu adalah we're moving somewhere and not being stagnant. Itu lah fungsinya teman, mereka yang biasanya mengajak kita berpindah ke suatu tempat. Biasanya, mereka membuat kita pindah ke tempat yang lebih menyenangkan, banyak ketawa-ketawanya, banyak belajarnya, banyak bahu-bahu yang tersedia when you're sad and cry, banyak tangan-tangan yang memberikan elo kehangatan when you jumped into a cold world. 

Dunia ini jelas adalah Rumah Sakit, tapi gue yakin, gue pasti bisa sembuh, karena gue punya teman-teman yang bisa menyembuhkan gue dengan luar biasa. And with them, I will enjoy the healing process.

Aren't you grateful for your friends?

ime'...
friends are your needs answered - Khalil Gibran

Labels: , ,

Saturday, July 09, 2016


Another #randomthought of mine

Wahai temans yang budiman, kembali gue pengen menuliskan my #randomthought

Sebuah lagu 'Eternal Memory' yang lagi gue dengar ini membuat gue merasa gatal, ingin melakukan sesuatu yang baru. I mean, I have enough of all these. Gue tapi nggak tahu dimana dan bagaimana gue bisa menemukan sesuatu yang baru itu... #randomthought #nomorsatu

Kalian pernah berpikir untuk pindah haluan sejenak dari apa yang selama ini kalian lakukan? I'm thinking of that actually, but I just don't know what. Apakah perlu untuk gue melakukan traveling solo? #randomthought #nomordua

Gue sedang memikirkan sebuah perubahan dalam pekerjaan gue. Jelas banget gue nggak bisa stay di sini terus. Bukan masalah personal atau apa, tapi rasanya, memang sudah waktunya gue move on. Gue sedang memikirkan sebuah yayasan yang bergerak secara real ke lapangan, ketemu komunitas yang beneran, dan nggak main di daerah abu-abu. I want to be in that activities. Melihat orang yang lebih susah dari gue, sepertinya membuat gue lebih bangun dan jadi lebih bersyukur. Gue juga nggak bilang bahwa gue punya segalanya. It's just, gue merasa hidup gue kayaknya kurang meaningful ya...  I don't think I can comprehend any longer... #randomthought #nomortiga

Gue sempat bertanya-tanya, kenapa gue nggak seperti orang normal yang lainnya? Yang bisa santai-santai aja makan gaji buta, dan selalu punya kesibukan untuk menghabiskannya. At this moment, I'm actually tired... #randomthought #nomorempat

Gue bosan... #randomthought #nomorlima

ime'...

Labels: , ,

Friday, July 08, 2016


This #random thought of mine

Heyho! Long time no write.

Hari ini gue cuman mau buat #randomthought aja. Jadi, gue akan ngalur ngidul di postingan gue kali ini. Btw, gue nulis ini pakai  tab, tapi pakai bluetooth keyboard sama bluetooth mouse. Asik banget. Gue jadi berpikir untuk meninggalkan laptop gue di kantor, karena gue bisa kerja dari rumah tanpa laptop anyway. Hahahahhaa... #randomthought #nomorsatu

Gue memang mungkin telat untuk ngikutin drama Korea, dan kemarin, gue baru selesai nonton sebuah drama korea yang gue suka banget, judulnya Healer. OST-nya nggak gue temukan di iTunes, so i looked somewhere else. Gue menemukannya dan mulai men-download. I like the songs, terutama yang instrumental. It takes me somewhere out of this world, yang membuat gue jadi gundah gulana sendiri. Aneh. Gue dijinakkan sama drama Korea, bagi gue itu aneh... #randomthought #nomordua

Gue lately punya pemikiran untuk mencari pekerjaan yang lain. Well, sebenarnya pemikiran itu udah lama banget. But, everytime gue mau cabut, selalu ada sesuatu yang baru yang menantang gue, jadinya gue nggak jadi cabut. Kali ini, gue seriously memikirkannya. I have another option, tapi, gue lagi dongkol banget dengan option yang ini, karena semrawut dan gue nggak suka dengan orang yang suka merendahkan orang Indonesia. Apalagi kalau orang itu adalah orang bule. Gue mengerjakan isu ini udah bertahun-tahun, dan yang membuat gue kesal kadang-kadang adalah karena bagi orang luar, orang dari negara berkembang itu pasti tertinggal banget deh. Kalau dengan yang sesama negara berkembang, fakta kalau gue itu perempuan, kadang membuat mereka superior. Gue memang bukan tipe orang yang mau mengalah begitu saja, apalagi kalau kita bicara soal kemampuan otak, tapi kalau gue memang nggak ngerti, gue akan bilang gue nggak ngerti. Cuman, jangan setelah gue bilang gue nggak ngerti, kemudian dikait-kaitkan dengan fakta gue perempuan. Rasanya.... kesal.... #randomthought #nomortiga

Am still thinking of traveling solo. Gue rindu traveling, tapi yang gue sendirian, I want to enjoy the travel myself. Sebenarnya, mungkin bukan itu juga sih... Gue merindukan traveling solo, karena gue merindukan satu suara yang janjiNya tidak pernah tidak ditepati, dan suaraNya merdu sangath. Dan gue rindu itu... #randomthought #nomorempat

Gue rindu Amerika. Gue rindu Charleston, walaupun itu kota mahal bingits, gue rindu Washington DC, Atlanta, New York, San Fransisco. Gue rindu Central Park. It was the greatest moment of my life, walaupun saat itu gue harus menghemat luar biasa karena memang uang yang dikasih nggak seberapa. I love the feeling, I love the experience, and I love everything in between.... I don't know whether I can go back to America, but I wish I could.... Tuhan, can I go there, please? #randomthought #nomorlima

Gue rindu Korea. Sebuah negara yang setidaknya dalam setahun gue bisa dua kali bolak-balik. It feels like home whenever I go to Korea. Memang gue nggak pernah bisa melihat banyak kalau gue di sana, tapi, I like the feeling. I like the food, I like the fact bahwa gue harus jalan kaki atau naik kendaraan umum di sana, I like the cold in the winter, I like everything about it. Tapi masalahnya, gue nggak bisa bahasa Korea... #randomthought #nomorenam

Pada dasarnya, sebenarnya gue cukup bosan. Laporan yang gue kerjakan sangat berantakan, tidak terstruktur, dan gue harus mencari informasi lain di luar informasi yang ada. Gue nggak suka dengan cara Team Leader ini melakukan pekerjaannya. Faktanya adalah gue harus menyelesaikan laporan ini paling nggak hari ini atau besok, dan I'm not in the mood for that. Pilihannya adalah gue melakukan sesuatu yang gue suka, dan meninggalkan pekerjaan ini sejenak, lalu gue mulai lagi, atau ya gue kerjakan tapi dengan banyak complain.... Gue perlu sesuatu yang bisa get rid of this silly things from me... mungkin gue baca buku aja kali ya... #randomthought #nomortujuh

Gue rindu my curiosity. Lately gue merasa, gue nggak lagi curious. Gue lebih suka di rumah, karena gue malas buang uang di tempat lain. Bagi gue, there is no where comfortable than home, more specific, my room. I found my peace in here, and I feel safe, sesuatu yang gak bisa ditukar dengan apa pun juga. Ada lagi satu tempat, lounge sebuah hotel di Jakarta, namanya Morissey. Gue suka banget lounge di situ. Setiap gue malas kerja di kantor, gue akan pindah ke situ. Tapi masalahnya, makanannya mahal bingits, gue bisa abis lebih dari 200 ribu setiap gue ke situ, hanya untuk mendapatkan secangkir cappucino, kiwi mojito, dan satu porsi sandwich... I miss my curiosity.... #randomthought #nomordelapan

Gue pengen banget punya stamina untuk lari seperti dulu lagi, di mana gue bisa lari 10k, 11k. Sekarang susah banget buat gue lari non-stop 3k aja... I miss running, but the fact that I'm currently cannot run as good as previous days, it makes me really sad... #randomthought #nomorsembilan
Gue merasa saat ini gue lagi ada pada musim yang pengennya instant. Gue pengen semua kesedihan, kegalauan, dan semua ke-an lainnya, segera hilang... It breaks my mood, really... and I hate that, trully.... #randomthought #nomorsepuluh

I wish to know more things. I wish I understand more. I wish I can create more. I wish I know myself a little bit more. Rasanya, kok gue mentok ya.... ani... there must be something more than this... I know that for sure... #randomthought #nomorsebelas #closing

ime'

Labels: , ,

Saturday, April 30, 2016


The brief moment in which things are possible

... dan saya, kembali menulis di blog ini... senang!

Hari ini, gue pengen cerita tentang satu hal yang namanya 'opportunity' atau kesempatan. Lucu banget, karena gue mendapatkan pembelajaran tentang ini dari salah satu film Korea yang sudah gue tonton, tapi sering banget gue ulang berkali-kali. Soalnya, daripada gue memulai serial yang baru, gue memilih untuk lihat yang sudah gue tonton. Kenapa, karena gue kalo udah mulai dengan serial yang baru, bisa-bisa gue nggak akan selesai nontonnya. Hahahha... sedangkan kerjaan gue lagi numpuk banget, jadi, gue harus cukup puas dengan menonton kembali apa yang sudah gue tonton.

Gue hari ini mau memperkenalkan sosok 'dewa' yang namanya Caerus atau Kairos (btw, gue punya teman orang Filipin yang namanya Kairos. Gue waktu itu belum tau kalau itu adalah nama dewa Yunani yang kaitannya erat dengan opportunity). Gue mulai mencari tahu tentang dewa ini, setelah gue nonton salah satu drama Korea yang sepertinya nge-hits banget. Di salah satu episode drama itu, kalau nggak salah ingat episode 9, sang tokoh perempuan ditawarkan untuk menulis artikel dengan genre apa saja yang ia mau. Namun, karena merasa dirinya rendah dan tidak punya potensial, si perempuan ini menolak. Temannya, tentu saja berusaha untuk meyakinkan sang tokoh, dan juga atasannya, bahwa ia pasti bisa untuk menerima tantangan tersebut.

Bos-nya yang kedua tertinggi (susah yaaa...) mendengar tentang kesempatan yang ditawarkan tersebut, dan juga momen di mana si tokoh perempuan menolak kesempatan tersebut. Beberapa waktu sesudahnya, sang bos menceritakan soal Caerus ini.


Gambar diambil dari sini


Setelah gue melihat adegan ini, harus gue akui kalau kemudian gue meng-google tentang si Caerus ini. Caerus digambarkan sebagai anak terakhir dari Zeus yang paling muda. Caerus tidak mengenakan pakaian, dan ia hanya memiliki rambut di bagian depan saja, sedangkan yang bagian belakang, botak. Dari beberapa sumber bacaan yang gue baca, dikatakan bahwa Caerus memiliki sayap bukan hanya di punggungnya, tapi juga di kakinya. Artinya adalah orang hanya bisa menangkap dia pada saat Caerus menghampiri orang tersebut dari depan. Pada saat Caerus terbang menjauh, sulit bagi orang untuk menangkap Caerus, atau kesempatan. Itu juga sebabnya, Caerus kemudian menjadi simbol dari momen 'the brief moment in which things are possible'.


Saat ini, gue sedang diperhadapkan pada dua buah pilihan yang sama-sama memiliki kekuatan dan kelemahan. Kedua pilihan ini sama-sama akan mewarnai kehidupan gue dengan kepastian dan ketidakpastian. Pilihan pertama, pastinya pendapatan gue tidak akan berubah drastis. Pilihan kedua, tidak bisa memberikan jaminan kepada gue, bahwa gue akan menikmati keadaan di mana gue berada saat gue mengambil keputusan tersebut. Gue pun belajar hal lain lagi: tidak perduli mau berdoa segimana pun, ketika Tuhan mengajarkan hidup, Dia juga akan mengajarkan kepada kita untuk mengambil keputusan di area abu-abu, dengan cara memanfaatkan setiap informasi yang Ia berikan kepada kita. Gue pikir, cara ini adalah cara yang hanya bisa dilakukan dan diterapkan untuk orang-orang yang dewasa, yang tidak lagi harus disuruh-suruh, tapi harus bisa berpikir untuk menentukan masa depannya.

Seringkali Tuhan menjawab kita bukan dengan kepastian, namun dengan pemikiran yang memungkinkan kita untuk mengambil keputusan. 

Berapa banyak di antara kita yang sering berpikir, bahwa ketika Tuhan menjawab doa kita, Tuhan pasti akan menjawab dengan penuh kepastian, pilihannya hanya ada A atau B, tidak pernah ada A,5. Today, I learned, bahwa pilihan A,5 itu, beneran ada.

Pendeta gue pernah bilang begini, "Justru di area yang abu-abu itu lah, yang harusnya membuka pembicaraan kita dengan Tuhan. Karena tidak semuanya di dunia ini adalah hitam dan putih." Hal tersebut membuka mata gue tentang makna memiliki hikmat dan pengetahuan. Bukan hanya menyadari untuk memilikinya, tapi juga mengetahui kapan dan bagaimana kita menggunakannya. Saat ini, gue sedang menggunakannya, mempraktekkannya dalam hidup gue, di mana gue sedang berjuang di sebuah area abu-abu. Gue sedang berada pada tahap di mana gue sedang mengumpulkan informasi, dan di lain pihak, gue sedang mencoba untuk mengaktifkan iman gue dengan cara mengumpulkan banyak informasi dan juga kata-kata bijak yang bicara sangat keras dalam hidup gue.

If you're going to take a risk, know that you'll be taking it with Him...

Gue tetap berharap bahwa apa pun yang menjadi keputusan gue, memang karena didasari oleh prinsip yang benar dan bisa menjadi teladan bagi banyak orang, bukan karena logika yang memainkan pikiran dan perasaan gue saat ini. 

Semoga tulisan gue ini bukan hanya memberikan pengetahuan dan juga bekal bagi diri gue, tapi juga bagi banyak orang.

Have a great adventure in life, people. HIM!!!

ime'...

Labels: , ,

Sunday, April 24, 2016


Menulis adalah...

Menulis adalah, bagi gue, suatu kegiatan yang aneh tapi nyata untuk membuat gue lebih banyak berpikir; bahkan berpikir ulang. Itu sebabnya, dulu, ketika seorang teman yang sepertinya melihat potensi menulis di dalam diri gue, kemudian membuatkan gue blog ini (trima kasih, Nggo). Gue gak bisa berbuat banyak untuk mengedit tampilan blog ini memang, bukan karena nggak bisa, tapi karena mungkin gue masih ragu untuk mulai masuk dalam dunia blog design, either takut ketagihan dan tidur terlampau malam, atau karena takut frustrasi kalau nggak jadi. 

Perjalanan menulis gue sepertinya tidak terasa, tapi cukup panjang. Karena gue dibesarkan menjadi orang yang terkadang sangat introvert, gue merasa bahwa menulis adalah satu-satunya aktivitas yang bisa membuat gue mengekspresikan diri gue. Waktu SMP, gue pernah mencoba untuk membuat cerpen. Anehnya, gue nggak pernah bisa membuat a good ending dari semua cerpen-cerpen gue. Dan dulu, karena gue nggak kepikiran untuk buat tulisan di komputer, jadinya gue menulis tangan. Hahahha... cape', kali ya... gue nggak ingat. Kuliah, gue mulai menulis tapi ya acak adut. Baru ketika gue ke Belanda, gue mulai mengecap yang namanya internet super cepat, dan gue bisa menulis berjam-jam.


Funny thing, gue nggak pernah punya konsep untuk menulis. Jadi, walaupun gue bisa menulis cepat, editing is another problem for me. Gue sampai ditegur sama supervisor gue waktu di Belanda, untuk setidaknya mulai mengalokasikan waktu untuk mengedit. Surprisingly, ketika gue edit, my reports are way better than before, lebih bermakna dan tentu saja, jauh lebih berguna. 

Gue sempat menjadi jurnalis basket sebelum gue ke Belanda. It was different, antara lo menulis dengan angan-angan lo, dengan personal findings lo, dan ketika lo harus ketemu orang, dan meminta orang tersebut menjadi narasumber. It was a big failure for me sebenarnya, karena gue takut sama orang. Tapi, gue ternyata bisa sekarang menjadi salah seorang jurnalis di salah satu gereja terbesar di Jakarta. Bertemu dengan orang lain, saat ini, sudah tidak menjadi ketakutan lagi buat gue. Kesenangan gue kemudian berganti menjadi bagaimana 'mengorek' orang dengan menyusun pertanyaan-pertanyaan yang standar.

Sekarang gue mulai mencoba untuk activate my blog, karena sebuah drama Korea yang barusan gue tonton (apparently gue tonton berulang-ulang), yang bercerita mengenai kehidupan orang-orang yang bergerak di majalah. Ada dateline, ada artikel yang harus dikejar, dan bagaimana meeting jurnalis itu dilakukan untuk menentukan konten dari majalah itu. Di situ juga diceritakan bahwa salah satu dari jurnalis itu (in the end), apparently adalah seorang penulis buku yang luar biasa, dan dia bekerja di majalah tersebut, untuk menyembunyikan identitasnya. Di satu season dalam hidup dia, dia memutuskan untuk melakukan coaching pada satu orang junior di tempat itu (yang sebenarnya dia suka, ini tambahan informasi gak penting sebenarnya... hahahah), mengenai bagaimana caranya untuk membuat sebuah artikel yang baik. Dia bilang, kalau lo gak bisa membuat first paragraph itu menjadi menarik bagi pembaca, then artikel itu tidak akan pernah bisa menarik perhatian orang.

Salah satu tulisan gue tentang travel untuk salah satu majalah di Jakarta

Gue pernah beberapa kali menulis tentang travel untuk sebuah majalah di Indonesia. Sebenarnya, tulisan gue itu diminta oleh teman gereja gue, almarhum, yang dulu adalah editor gue. It was fun waktu gue menulisnya, bayarannya memang tidak seberapa, tapi, what I like was the feeling. I can do anything dengan tulisan gue without anything to loose. Recalling those moments, sepertinya gue jadi semakin merindukan masa-masa itu.

Salah satu kepuasan gue dalam menulis adalah melihat nama gue tercantum sebagai penulis

Gue juga jadi ingat tentang buku gue yang dulu sempat gue tulis. Buku itu sebenarnya ditarik dari pengalaman gue sekolah di Belanda, dan mengenai persahabatan. Kenapa persahabatan, karena gue punya 2 orang sahabat yang luar biasa, yang bahkan ketika gue harus melepas mereka di bandara, paska itu gue nangis nggak berhenti (sekelibat cerita tentang mereka, bisa dilihat di sini ). Sayangnya, buku itu tidak selesai, karena gue malas ngeditnya. Dan tau nggak, ternyata, nulis sendirian untuk menggambarkan perasaan 3 orang yang berbeda-beda itu, susah bingids, brader!!!

Gue kembali menulis di blog ini pun, sebenarnya karena drama Korea itu. Seperti, mengembalikan gue ke state yang semula. Suka menulis. Hanya saja, this time, I want to do it right. Gue pengen punya scrapbook yang bisa membantu gue dalam menulis. Salah satu mantan bos gue (dia tukang nulis juga), pernah bilang begini, "Me', otak lo itu kalau nulis tumpah, jadi lo harus menstrukturkan tulisan elo...". Sekarang juga gue ngerti kenapa dulu waktu pelajaran bahasa Indonesia tentang mengarang, kita itu harus buat yang namanya kerangka karangan. Itu sebenarnya untuk menuntun kita aja, mau nulis apa. 

At this moment, kebanyakan pekerjaan gue adalah menulis. Tapi, gue ingin melakukannya dengan baik, efektif, indah, dan bisa give a 'punch' buat orang-orang yang membacanya. However, gue memang memerlukan suasana yang sesuai. Background lagu Korea may help, suasana sepi, nggak ada teriakan-teriakan di luar ruangan lo, dan gue harus mengakui, bahwa rumah bokap gue adalah tempat ternyaman untuk gue bisa menulis dan berkarya dengan baik.

Gue juga menyadari kenyataan bahwa, bukan berarti gue punya komunitas untuk jurnalis, kemudian gue bisa melakukannya simply karena gue selalu menulis. Sepertinya, gue jadi punya konsep yang salah tentang menulis jika berpikir demikian. Justru, setiap hari, gue harus mulai berpikir mengenai apa yang mau gue tulis, kerangkanya, bahannya dari mana, dan lain sebagainya. Gue ingin menulis banyak, pastinya. Tapi, gue juga belajar, bahwa untuk menjadi penulis itu, gue harus punya waktu untuk membaca dengan baik dan tenang. 

Sudah bertahun-tahun gue menulis, dan variatif. Tapi, tidak pernah sekali pun juga, gue merasa gue adalah penulis yang baik. Masih ada ruang untuk improvement, whenever it comes to writing.

Jadi, menulis adalah? Menstrukturkan ide dan pikiran kita, memformulasikannya dalam sebuah scrapbook, dan mengelaborasikannya menjadi sebuah cerita yang mengubahkan hidup orang lain. Something like that...

ime'...

Labels: , ,