Photobucket

Tuesday, January 03, 2017


Cerita tentang Umur 18

Heiho!

Selamat tahun baru 2017 untuk kalian semua. Semoga di tahun 2017 ini, gue bisa memberikan begitu banyak cerita yang menyenangkan untuk dibaca dan dicerna oleh kita semua, supaya kita bisa menjadi orang yang mau berbagi cerita satu sama lain. FYI, gue masih dalam masa-masa liburan. Jadi, mungkin akan banyak nulis sana-nulis sini. Tapi, mungkin juga nggak, karena either gue lagi pengen baca buku, atau ya nonton film, yang kesempatannya akan sangat jarang begitu liburan ini berakhir.

Selama liburan akhir tahun 2016 ini, gue banyak banget punya waktu untuk berpikir; bahkan gue sempat merasa bahwa, gue siap banget untuk menghadapi tahun 2017; excited gitu. Entah kenapa. Sepertinya, gue tau apa yang harus gue lakukan dan gue tau apa yang gue mau. Selama lebih dari 30 tahun gue hidup, rasanya ini baru pertama kalinya gue melihat cahaya yang agak terang begini. However, gue juga tau bahwa jalannya ke sana, nggak akan mudah. Gue masih harus terus meng-endure perjalanan ini.




Tahun 2016 menurut gue adalah sebuah tahun yang menarik, di mana gue diperkenalkan dengan yang namanya the joy of watching movie at home, atau bahkan nonton TV; dan gue diperkenalkan dengan drama Korea. Hebatnya, gue sangat menikmati menonton drama Korea, sampai-sampai hampir setiap gue selesai nonton satu seri drama Korea, gue akan mencari lagunya di iTunes, kalau ketemu ya gue beli. How crazy is that?

Liburan kali ini, gue menyelesaikan tiga seri drama Korea yang udah lama banget; gue nonton online, dan layanannya itu pakai iklan pula. Lucunya, ketiga drama Korea itu cerita tentang kehidupan anak-anak SMA, sekitar umur 18 tahun; umur yang (gue baru nyadar) adalah umur yang sangat rentan. Umumnya, anak-anak di usia ini menyadari bahwa mau jadi apa mereka. Ada yang punya impian secara natural, ada yang impiannya karena paksaan orang tua (entah mau jadi model, artis, dokter, atau apa pun), ada yang tidak menemukan mimpinya; seems like, umur 18 adalah umur yang rentan bagi setiap orang. Pada umumnya, remaja di umur segini juga mengalami kehidupan yang 'sulit', antara susah komunikasi sama orang tua (apalagi kalau orang tua-nya lebih fokus sama pekerjaan, karena berusaha cari uang buat anak-anaknya) atau bahkan karena tiba-tiba mereka menyadari bahwa mengambil bagian sebagai anggota keluarga, itu artinya mengambil tanggung jawab. Masalah keuangan keluarga, menjaga adik-adik, menimbang omongan orang tentang reputasi orang tua atau bahkan anggota keluarga yang lain, you name it. Mereka, remaja umur 18 tahun ini, harus menanggung itu semua. Lucunya, kebanyakan orang tua tidak menyadari akan hal ini, dan selalu berpikir bahwa mereka sudah besar, sehingga udah nggak perlu lagi ditanya'in. Bahkan mungkin, mereka dianggap annoying; karena mereka akan banyak protes, buat susah orang tua, dan orang dewasa akan selalu bilang, "Itu urusan orang dewasa, kamu diam dan terima aja. Orang dewasa lebih tau apa yang baik buat kamu." Pertanyaan gue kemudian, is that true?




Gue kemudian merefleksikan diri gue di umur segitu. Seingat gue, ketika gue berumur 18 tahun, gue udah kuliah. Tapi, gue juga menyadari bahwa waktu gue SMA dan kuliah, hidup gue nggak semudah anak-anak pada umumnya, terutama dibandingkan dengan mereka yang super tajir dan punya orang tua lengkap. Gue harus menentukan apakah gue mau menjadi insinyur atau gue mau menjadi atlit. Kedua jalan itu nggak ada yang mudah buat gue. I had to put a lot of efforts di dalam menjalani keduanya. Gue juga belajar bahwa menjalani keduanya dengan setengah hati, tidak akan membawa gue kemana-mana. Pada dasarnya, gue suka bermain. Bahkan saat belajar pun, gue bermain. I'm simply a person yang suka untuk menikmati segala sesuatunya; bahkan sampai sekarang.




Waktu gue kuliah S1 dulu, gue harus membagi waktu gue antara kuliah, belajar, ngerjain tugas, menjalankan tanggung jawab gue di gereja, menjalankan tanggung jawab gue untuk mendengarkan orang lain, menjalin hubungan dengan orang lain, gue sempat kerja juga sebagai guru les privat, main basket, dan tentu saja makan. Gue menikmati banget kehidupan di kos. Gue nggak perlu mikirin banyak hal sebenarnya, karena semua yang gue jalani adalah hal-hal yang gue sukai. Gue banyak ketawa, and I really think that I love my life; walaupun pada saat sakit hati. Hal paling terberat yang harus gue lalui adalah ketika gue harus jaga bokap gue yang di-opname karena stroke di akhir tahun gue kuliah S1. Dulu, untuk lulus, ada yang namanya ujian kompre. Itu pelajaran mulai dari tingkat 1 sampai tingkat terakhir diuji. Pada saat gue harus mempersiapkan diri untuk ujian kompre, gue harus tinggal di rumah sakit selama beberapa hari, untuk nungguin bokap gue. It was the most difficult time for me, as if the world has left me alone. Gue juga jujur nggak tau gimana caranya gue overcome itu semua. I just did.

Salah satu film Korea yang gue tonton bilang begini, "Pada umumnya, semakin seseorang beranjak dewasa, semakin berkurang hal-hal yang bisa mereka tertawakan..." then I thought to myself, apakah gue sekarang jadi orang yang tidak dewasa ketika gue tidak bisa tertawa seperti biasanya gue tertawa? Apakah quote itu benar adanya? Apa benar nggak ada yang bisa kita lakukan untuk menghindari hal tersebut? Gue kemudian mengambil kesimpulan bahwa hal itu nggak benar. Kalau ada orang dewasa yang kemudian merasa dirinya kurang tertawa, gue rasa karena mereka nggak memiliki lingkungan yang tepat, atau pertemanan yang tepat, yang bisa membuat mereka tertawa. Gue setuju bahwa kita harus semakin dewasa, tapi gue nggak setuju kalau kita harus mengurangi tawa. Menjadi dewasa artinya mengambil tanggung jawab yang lebih, tapi tidak pernah dibilang bahwa menjadi dewasa harus mengurangi tawa.

Gue jadi berpikir, gimana ya anak-anak remaja yang dari umur muda kemudian jadi atlit atau artis? Bangun tidur yang mereka lihat lapangan. Gue punya beberapa teman atlit, dan yang gue mengerti adalah prestasi mereka sebagai atlit hanya berjaya pada saat SMA, tapi pas kuliah, banyak banget yang drop. Kenapa? Gue nggak tau. Apakah karena kecintaan mereka terhadap cabang olahraga yang mereka tekuni, ternyata hanya cinta buta, yang memberikan bias? Gue jadi berpikir bahwa, mungkin memang tepat juga ketika gue memutuskan untuk banyakin belajar ketimbang ngebanyakin main basket. Gue bisa main basket sebagai selingan. Gimana dengan artis? Gue rasa sama juga. Semuanya akan teruji pada saat kita berada di umur 18. 

Salah satu drama korea yang gue tonton memperlihatkan artis-artis muda, di kisaran umur 18 tahun, yang waktu mendapatkan debut pertama kalinya, ada berbagai macam reaksi. Ada yang super excited, tapi kemudian nggak bertahan lama, ada yang cool, terima aja dan deal dengan kesusahannya nanti; tipe yang ini, bisa endure ketenarannya hingga lepas sekolah. Ada film lainnya yang cerita tentang kehidupan atlit berenang. Ini juga sama, masih SMA udah kompetisi di sana-sini, yang akhirnya dia harus bolos cukup banyak. Karena kecintaannya dari kecil, dia nggak bisa lepas dari berenang.

Menurut kalian, apakah umur 18 sudah cukup matang untuk mengambil keputusan, mengatur jadwal kesenangan dan perjuangan karir, apakah mereka benar-benar sudah cukup dewasa untuk ditinggalkan sendirian? Gue berkesimpulan bahwa umur 18 adalah umur yang sangat rentan dengan pengambilan keputusan, menikmati masa tumbuh yang normal, untuk dapat mengambil keputusan yang lebih baik di masa depan. Apa yang dipelajari saat umur 18-ish akan menentukan jadi orang seperti apa kita. Siapa teman-teman yang kita pilih untuk ada di dekat kita, itu juga akan sangat menentukan. Aneh, kenapa gue baru terpikirkan tentang hal itu sekarang, saat gue udah umur 30-ish.




Gue nggak tau bagaimana kondisi orang-orang saat ini yang sudah melewati masa-masa 18 tahunnya. Tapi yang jelas, kita nggak perlu mengulang masa-masa kita di umur 18 tahun, yang mungkin ingin kita putar kembali. Gue punya prinsip bahwa lebih baik kita semua, termasuk yang sedang atau menjelang umur 18 tahun, untuk menikmati keberadaan diri kita sekarang, tanpa melepaskan pandangan kita dari masa depan yang kita inginkan, sambil melepaskan masa lalu kita. Apa yang sudah berlalu, tidak bisa kita ulang, yang kita bisa adalah perbaikan. Untuk kalian yang di umur 18 tahun, nikmati lah. Itu tidak akan bisa kembali lagi. Temukan teman-teman yang membangun, dan bukan teman-teman yang dipicu oleh kekuatan dirinya sendiri.




Bagi gue, hidup itu seperti membangun rumah. Gue membangunnya dengan value, membangunnya bersama-sama dengan teman-teman gue, dan mendekorasinya sesuai dengan pengetahuan dan hikmat yang gue peroleh dari bergaul dengan teman-teman gue. Mungkin dekorasinya tidak sempurna, tapi yang pasti adalah gue membangunnya sebagaimana yang gue mau, dan bisa menjadi tempat persinggahan bagi orang-orang yang membutuhkannya.

ime'...

PS: percaya lah, gue juga nggak tau kenapa gue nulis ini.

Labels: , ,

Saturday, December 31, 2016


Sweet 2016 for a brighter 2017

Menjelang akhir tahun 2016, gue kembali reflect ke belakang. Tumben banget ya, setelah bertahun-tahun. Dulu, jamannya gue rajin, gue akan menghabiskan akhir tahun gue menuliskan semua cerita dalam setahun yang menurut gue itu adalah suatu momen yang tidak bisa gue tukarkan dengan apa pun, dan tidak bisa gue ulang. Tulisan itu kemudian gue kirimkan ke teman-teman gue yang terdekat, so they got to know me a bit better. Gue kemudian menemukan bahwa gue nggak punya banyak waktu lagi untuk menuliskan cerita-cerita itu, dan gue berhenti. Kali ini, gue berusaha untuk menuangkannya dalam blog.

Satu hal yang gue highlight di tahun ini adalah how to release stress dan bagaimana membangun jembatan. Gue bukan lah orang yang mudah untuk ditangani atau bahkan dipengaruhi. Tapi, gue orang yang mudah mendeteksi siapa yang perlu gue dengar dan siapa yang perlu gue turuti. Kealamian gue yang seperti itu nggak jarang membuat gue terbentur masalah, dan gue jadinya mengalokasikan cukup banyak tenaga dan pikiran untuk memikirkan masalah itu. Gue kemudian diperkenalkan sama beberapa drama korea, yang kemudian gue tonton, and I became a fan of it. Bahkan, gue sampai men-download lagu-lagu soundtrack-nya di iTunes. I like the feeling ketika gue nonton dan ketika gue dengarkan lagu-lagu soundtrack-nya, walaupun sering banget gue nggak ngerti. I always feel full of love and spirit setelah mendengar atau menonton serial-serial drama Korea. I don't know why. Gue jadi berpikir bahwa ada dunia lain yang gue nggak tau, dan kemungkinan besar, dunia itu jauh lebih parah dan jahat dari dunia di mana gue berada. Walau demikian, selalu ada cara untuk overcome semua itu. Itu, gue belajar dari drama Korea. I wonder kenapa gue nggak punya perasaan yang sama dengan sinetron-sinetron Indonesia ya?

Di tahun ini juga, gue merasa punya banyak energi dan kurang tergali. Gue merasa dibatasi oleh begitu banyak tembok di dalam kehidupan gue, dan jadinya banyak orang yang mengatur gue. Tembok-tembok itu bukan hanya politik 'pejabat', tapi juga financing, waktu, dan derajat kelelahan bin kemalasan. Padahal, gue diajarkan untuk memiliki kemauan bebas; bebas untuk berekspresi dan berkarya, tanpa harus memikirkan (terutama) isi kantong gue. 

Gue dibesarkan sebagai pemain basket, yang harus selalu bisa membaca lawan, merancang strategi, dan meyakinkan anggota tim lainnya, bahwa kita, sebagai tim, bisa melawan mereka. Lucunya, gue malah jauh sekali dari kehidupan tim seperti itu. Rasanya ada yang janggal, dan rasanya politik sudah mulai bermain apakah gue suka atau tidak. I got into the world yang sulit untuk bekerja secara tim, dan selalu ingin menjadi lebih baik dari teman-teman satu tim. Kompetisi yang ditimbulkan secara tidak sadar oleh masyarakat saat ini, juga menjadi tembok untuk gue bisa berkarya.

However, gue cuman bisa berpikir dalam diri gue sendiri, bahwa masih banyak hal yang sebenarnya bisa gue pelajari dan kerjakan, tanpa harus terpengaruh dengan sikut sana dan sikut sini. Gue juga belajar bahwa walaupun gue nggak punya duit, but as long as it is doable, so why not?

Hal lain yang gue coba lakukan di tahun 2016 adalah setidaknya seminggu sekali gue harus bisa ketemu dengan teman lama. Wow... yang ini, susahnya minta ampun. Antara gue yang nggak nemu waktu gue, atau ya memang teman-teman gue nggak bisa. Tapi, gue udah bisa get in touch dengan teman di Belanda, teman sebangku di SMA, temen-temen gym 6-7 tahun yang lalu, dan teman-teman backpacking gue. Asli, ini menyenangkan banget. However, I know that I need to work on it better. Harusnya, gue bisa memelihara pertemanan gue dengan yang lain. Gue juga masih belajar di dalam yang namanya pertemanan. Gue menyadari bahwa mendapat teman baru itu jauh lebih mudah ketimbang mempertahankan pertemanan yang lo punya secara sengaja. 

Dari semua yang di atas, gue cuman punya pemikiran ini: ada begitu banyak hal yang terjadi dan harus dicari, bisa dipelajari, dan betapa kecilnya kita dibandingkan dengan dunia ini. Tapi kenapa orang bisa begitu sombong dan arogan pada saat mereka membeberkan pengalaman mereka di depan orang lain? Bukan kah lebih berharga pertemanan atau persahabatan ketimbang prestasi? Dan yang lain lagi, apakah pertemanan itu hanya sebatas dari follower di instagram, facebook, path, atau yang lain-lain? Seberapa banyak grup whatsapp yang kita punya? But for me, friendship is beyond that. Lo nggak bisa mengajarkan orang lain tentang bagaimana caranya berteman; yang bisa lo lakukan adalah ya menjalani hidup bersama dengan orang lain, yang lo sebut dengan 'teman'.




Tahun 2017 sudah menunggu di depan pintu. Gue memutuskan untuk gue menutup semua cerita gue di tahun 2016, dan membiarkan itu semua menjadi kenangan yang terindah. Gue mungkin nggak akan bisa travel sebanyak gue travel di tahun 2016, tapi gue akan selalu ingat bahwa gue pernah ada di negara-negara yang sebelumnya gue tidak pernah pikirkan. Gue juga memutuskan untuk me-revive blog gue, supaya gue punya begitu banyak pengalaman untuk menulis. At the end of the day, yang gue inginkan adalah untuk bisa mengeluarkan publikasi demi publikasi; apakah itu artikel biasa, paper, report, apa pun. 

Ada banyak hal yang menurut gue belum bisa gue lakukan di tahun 2016. Gue tentu saja belum bisa menjadi orang yang disiplin; either gue punya banyak hal yang gue harus kerjakan, gue nggak punya waktu, gue pengen tidur, gue pengen nonton film Korea, atau yang lainnya. Gue cuman berharap, gue bisa make use of 2017 dengan lebih baik, setelah bercermin dari apa yang sudah terjadi di tahun 2016.

I found my 2016 is sweet, and I believe that my 2017 will be bright. 

Memang kita selalu tidak puas dengan apa yang terjadi di dalam hidup kita. Tapi, gue yakin, giving our best is the only measures untuk kita bisa menikmati hidup kita. Atau nggak?

Have a great new year, people. Expectant!!

ime'...

Wednesday, December 28, 2016


Ada apa dengan bully?

Hellow yellow!

Pertama-tama, selamat Natal untuk yang merayakannya, dan selamat merenung untuk memasuki tahun 2017 yang tinggal sebentar lagi.

Di liburan ini, gue mengambil waktu untuk nonton banyak banget film. Gue nonton film Jepang 2 seasons, dan tadi gue baru selesai nonton sebuah film Korea, yang menginspirasi gue untuk nulis postingan ini. Film Korea yang baru selesai gue tonton dapat rating 9.4 di Viki (bener ya namanya itu?), dan membuat gue agak susah bergerak dari tempat duduk gue lah ya. 

Film ini cerita tentang dunia per-bully-an, yang impactnya itu bahkan sampai ke bunuh diri, dan juga kematian. I seriously like the story line, dan film ini membuat gue berpikir panjang. Salah satu indikator gue menilai film adalah seberapa dalam impact film tersebut pada gue. Apakah melalui salah satu kalimatnya, atau memang story line-nya yang inspiring. Film ini juga menceritakan betapa besarnya pengaruh sekeliling elo, untuk bisa menjadi orang yang dibully, membully, atau berjuang melawan bully. Dampak dari keluarga juga sangat tinggi, yang juga diperlihatkan di drama ini. Di drama ini bahkan memperlihatkan dampak dari keluarga yang tidak perduli pada anaknya (bahkan menganggap anaknya adalah orang gila), yang tentu saja tidak sehat. Dan tentunya, gue berharap, masih banyak guru-guru yang mau berjuang melawan perbullyan ini, seperti yang ditampilkan di film ini juga.


Bullying itu seperti daun yang berguguran; ia menggugurkan percaya diri




Menurut salah satu website yang gue lihat, www.stopbullying.gov , definisi dari bullying adalah unwanted, aggressive behavior among school aged children that involves a real or perceived power imbalance. Gue, terus terang, nggak ngerti kenapa orang membully orang lain. Kesannya kayak nggak ada kerjaan banget, gitu. Gue cuman berpikir bahwa orang yang membully itu nggak ada kerjaan, nggak punya teman, dan nggak punya kehidupan.

Film ini juga mengajarkan pada gue, bahwa setiap orang itu memiliki desire, keinginan, untuk diterima oleh orang lain; apa pun latar belakang mereka. Kebanyakan orang akan melakukan segala cara untuk bisa diterima oleh orang lain, apalagi kalau dia orang kaya. Cara-cara yang biasa dilakukan adalah dengan menggunakan uang mereka, menggunakan kekuasaan mereka, melalui ketakutan orang lain, pokoknya melalui berbagai macam cara. 

Gue tau beberapa orang di dalam hidup gue yang berusaha untuk diterima dengan uang: entah 'hobby'-nya traktir makan, atau apa pun. Mereka nggak salah sih... tapi, kalau nggak punya uang, terus mau gimana? Gimana caranya orang bisa mempertahankan hubungan mereka, di mana uang itu merupakan sumber daya yang tidak terbarukan (dengan anggapan bahwa laju pengeluaran kita jauh lebih cepat dari penerimaan kita). 

Gue juga nggak ngerti sih, kenapa gue concern banget soal bully-membully ini. Tapi, yang jelas, gue nggak pernah bisa melupakan tangisan keponakan gue beberapa waktu yang lalu waktu dia masih SD. Dia nangis sepulang sekolah, sangking dahsyatnya tangisannya dia, gue nggak ngerti dia ngomong apaan waktu itu. Tapi yang gue sadari selanjutnya adalah gue end up peluk dia, saying bahwa he's not what pembully dia katakan akan diri dia. Can you imagine, anak SD, udah di-bully? Pelajaran mental sedahsyat apa lagi yang harus mereka hadapi di usia dini?
 
Gue juga yakin, bahwa praktek bully membully ini nggak hanya berlaku untuk anak kecil, tapi juga untuk orang dewasa, di kantor. Why? Karena gue juga mendengar beberapa kali, ada temen gue yang merasa unwanted di kantornya, like, the whole kantor gitu nggak mau terima dia. Dia akhirnya stress berat, dan memutuskan untuk keluar dari kantornya. Begitu banyak hal negatif yang dia dapatkan, yang mungkin tidak bisa membuat dia bertahan selama yang diinginkan.

I seriously thought deeply soal ini. Gue kadang mikir, kenapa ya kalo' sebel sama orang harus gitu-gitu amat? Apa nggak buang-buang waktu aja ya? Why do you want to think about others' life when your own life is so difficult to manage? Gue juga pernah kesal sama orang, benci sama orang, tapi kayaknya nggak gitu-gitu banget sih.... It's too much menurut gue.

Gue jadi ingat salah satu komunitas di mana gue berada. Awalnya cuman ngetawain satu orang aja, tapi kemudian jadi viral untuk semua orang. Dan rasanya, setiap pertemuan kok ya jadi satu ajang ngetawain orang ini sampai sekarang. Padahal sudah berkali-kali gue bilang, bahwa ngetawain orang bisa membuat orang tersebut jadi nggak mau mengutarakan pendapat dia; dan pada saat hal itu terjadi, tidak ada lagi yang namanya keterbukaan. Sama bukan? Bully juga akan end up dengan hal itu?

Gue pun mungkin bukan contoh yang sempurna dalam masalah bully-membully. Tapi bagi gue, sedapat mungkin gue ingin menghormati dan mendengar apa yang menjadi pendapat orang lain. Karena gue sendiri mengalami masa-masa di mana mengutarakan pendapat itu adalah hal yang paling sulit dalam hidup gue. Gue pun tidak tumbuh tanpa perjuangan; gue tumbuh dengan perjuangan yang cukup besar menurut gue. Gue pun nggak punya rumus yang baku atau mantra ajaib yang bisa membuat gue overcome semua masalah pertumbuhan gue; yet, gue merasa bahwa, at the end of the day, orang akan bosan dengan kehidupan yang begitu-begitu saja, apalagi kalau mereka selalu berlindung di bawah ketakutan.

Menurut gue, bully mem-bully ini terjadi saat terjadi hal-hal ini: (i) Dari sisi pembully: merasa dirinya paling kuat dan berkuasa. Mungkin ini dialami sama anak tunggal yang dimanja sangat sama orang tuanya. Apalagi kalau orang tuanya selalu menuruti keinginan anaknya; (ii) Dari sisi yang dibully: antara takut melawan, atau memang karena sudah dimarginalkan di awal. Having said that, harusnya ada intervensi-intervensi yang relevan di dua pihak. 

Alone does not always mean lonely


Guru bagi gue bukan lah penanggung jawab 100% dari ini semua. Seharusnya, orang tua yang bisa mendidik anak mereka untuk nggak jadi orang yang selalu merasa superior, atau minder. I'm not a parent of any kids. Tapi yang jelas, gue jadi melihat peran orang tua yang semakin penting seiring dengan berjalannya waktu. Dan bukan kah saat ini banyak sekali orang tua yang 'menitipkan' anaknya di bawah care dari orang lain? Termasuk guru?

Gue merasa beruntung, lahir di jaman yang masih tergolong sulit, saat di mana komunikasi masih minim, dan kami tidak bisa di-reach any time. Dengan fasilitas yang seperti itu, gue belajar untuk melihat bahwa dunia itu tidak dengan cara yang instan. Karena dunia ini tidak terjadi dengan cara yang instan, ada yang mengerjakannya hari demi hari. Artinya, pertemanan juga bukan lah sesuatu yang bisa diperoleh secara instan; you really have to work on it. Gue tidak pernah diajarkan untuk menjalin pertemanan dengan menggunakan uang atau pun kuasa. Gue berteman simply karena kita punya value yang sama, dan kita punya rasa hormat satu dengan yang lainnya tentang bagaimana memandang hidup. Tidak semuanya yang dianut oleh yang satu, harus dianut oleh yang lain. Itu lah yang menurut gue menjadi sangat berharga.

Well, cerita perbullyan gue mungkin masih panjang. Gue juga belum punya ilmu yang cukup untuk mengerti soal dunia perbullyan. Tapi satu hal yang gue tahu, gue berharap gue bisa merespon perbullyan dengan baik dan benar, supaya gue benar-benar bisa menempatkan diri di tengah-tengah dunia ini.

ime'...

Labels:

Monday, December 19, 2016


#Random

ALIVE is the next year's theme for our church; yet, I'm afraid...

then, this old line by an old friend of mine, came to my mind:

"Kalo' elo excited dan takut at the same time, itu artinya elo naik level, Me'..." - Titan Harinda

Am so missing that leader of mine...

ime'...

Monday, December 05, 2016


Mazmur 21


Have a great life, everybody.

ime'...

Sunday, September 18, 2016


Creativity: A life beyond boundaries

Akhir-akhir ini gue banyak berpikir tentang kreativitas, mungkin juga karena gereja gue tema bulanannya tentang kreativitas, jadinya gue cukup banyak memikirkan isu ini juga. Justru karena gue memikirkan hal-hal itu, gue juga berpikir bahwa kreativitas yang sebenarnya itu, jauh melampaui kreativitas yang saat ini kita bayangkan.

Banyak yang bilang kreativitas itu hanya jadi milik orang-orang yang memiliki selera seni. Bagus pun sebenarnya kan itu relatif kalau di dunia seni, bahkan mungkin, segala sesuatu di dunia seni itu adalah relatif, tidak ada yang mutlak (mungkin ya). Tapi, apakah memang benar bahwa kreativitas itu hanya menjadi milik orang-orang yang berseni? Bagaimana dengan orang-orang akademisi, apakah mereka kemudian tidak kreatif? 

Dulu waktu SMP, gue itu pernah ulangan nggak belajar sama sekali tentang fisika. Gue lupa kenapa, tapi gue ngerti tentang dimensi. Misalnya, satuan kecepatan itu adalah satuan jarak dibagi dengan satuan waktu; percepatan, daya, gaya, gue tau semua dimensinya. Jadi, yang gue lakukan waktu itu adalah gue 'membuat' rumus sedemikian rupa, sehingga satuan yang di sebelah kiri (masalah) itu akan selalu sama dengan satuan di sebelah kanan (solusi). Hasil ujian gue waktu itu kalau nggak salah kepala 9 skala 10, karena gue melakukan hal itu. It's not bad lah, walaupun bukan 10, ya.Tapi, apakah kemudian gue nggak kreatif dalam hal itu, karena itu nggak ada seninya sama sekali?

Semenjak itu memang gue jarang banget belajar dengan cara seperti yang diajarkan di sekolah, dan gue mulai mengenal yang namanya konsep. Pengetahuan gue akan konsep ini lah yang kemudian mengubah cara gue belajar. Hampir semua mata pelajaran dengan hitung-hitungan, yang gue ingat hanya konsepnya. Jadi, kalau gue bisa mengerti sesuatu, itu artinya gue ngerti konsepnya, dan kalau lo ngerti konsepnya, lo akan bisa mengembangkan jauh lebih banyak dari yang sebenarnya ada.

Sebenarnya, kreativitas itu apa sih? Kalau gue google, creativity itu adalah act of turning new and imaginative ideas into reality. Artinya, apa pun ide yang ada di kepala elo, once elo memutuskan untuk mengerjakan ide itu supaya menjadi kenyataan, itu adalah masa di mana elo itu kreatif. Pasti waktu kalian membaca ini, kalian akan berpikir, "Masa sih? That simple?", karena gue berpikir demikian juga. Dulu, menurut gue, kreativitas itu tidak sesederhana itu. Untuk menjadi kreatif, menurut gue, upayanya banyak banget, dan tidak ada satu pun dari upaya itu yang gue ngerti bagaimana cara melakukannya. Tapi ternyata, as simple as that. Sebuah catatan lagi, karena ini adalah suatu konsep, maka untuk bisa menerapkannya, kita semua harus terima konsep ini.  

Seseorang bernama George Land di tahun 1968 mengadakan sebuah riset untuk menguji kreativitas dari 1600 anak-anak yang beragam umurnya, mulai dari 3 sampai dengan 5 tahun. Tes ini serupa dengan tes kreativitas yang ia buat untuk membantu NASA dalam memilih engineer dan ilmuwan. Hasil tersebut menyatakan bahwa kreativitas yang dimiliki oleh anak berumur 5 tahun adalah 98%; 10 tahun, 30%, 15 tahun, 12%, dan untuk orang dewasa, hanya mencapai 2%. Fakta ini yang kemudian membuatnya menyimpulkan bahwa perilaku yang tidak kreatif ternyata dapat dipelajari. Kalau yang tidak kreatif bisa dipelajari, berarti , perilaku yang kreatif pun juga dapat dipelajari.
Hasil penelitian itu juga yang membuat gue berpikir bahwa sebenarnya kita semua ini hidup di dalam sebuah boundary. Contoh, dulu waktu masih SD, diajarkan bagaimana menggambar itu harus ada di dalam sebuah kotak, kalau misalnya ada yang keluar dari kotak tersebut, maka nilai si murid akan dikurangi. Gue sih nggak terlalu pay attention dengan pelajaran menggambar waktu itu. Gue cuman inget, dulu guru gue cuman bilang, gambar lah sebanyak-banyaknya supaya bisa mendapatkan nilai. Tentu saja, gue end up dengan gambar pemandangan di mana ada satu gunung, matahari, satu rumah di kiri bawah, dan sawah di sebelah kanan. That's it; yang penting, gue dapat nilai.


Tapi, gue juga jadi teringat oleh sebuah cerita nyata, mengenai seseorang yang jenius di bidang matematika. Biografinya dituliskan dengan judul 'The man who knew the infinity', Srinivasa Ramanujan. Ramanujan adalah seseorang berkewarganegaraan India, yang cinta dengan angka. Walau demikian, dia tidak memiliki satu gelar pun, karena dia tidak pernah mengecap pendidikan mengenai matematika murni. Suatu hari, atas dorongan dari bos langsungnya, Ramanujan mengirimkan pembuktian rumus yang ia kembangkan, ke Inggris, mengalamatkannya kepada G.H. Hardy, salah seorang profesor matematika di Cambridge, tepatnya di Trinity College. Pada awalnya Hardy cukup reluctant untuk membawa Ramanujan ke Inggris, dikarenakan India masih merupakan jajahan dari Inggris pada saat itu. Namun, Hardy tetap memanggilnya ke Inggris. Di beberapa scene memang Ramanujan menolak untuk menerima kuliah, karena bagi dia, ia sudah mengetahui segala sesuatunya, jadi, kenapa harus repot? Walau demikian, Hardy yang memaksa Ramanujan untuk tunduk pada pengajarnya dan tetap belajar. Hardy juga ingin agar Ramanujan dapat membuktikan teori-teori yang sudah ia bangun sendiri, dengan menggunakan teorema-teorema baku yang berlaku di dunia matematikawan, agar teorema yang ditemukan oleh Ramanujan dapat dimengerti logikanya oleh kebanyakan orang.

Ketika salah satu temuan Ramanujan  diuji oleh teorema-teorema baku yang berlaku di dunia para matematikawan, beberapa dianggap salah. Namun, hal tersebut tidak pernah membuat Ramanujan menghilangkan cintanya kepada matematika. Ramanujan saat ini dikenal sebagai matematikawan India yang mempelajari matematika murni secara otodidak. Terlepas dari berbagai macam masalah yang dialami oleh Ramanujan pada masa itu, saat ini hampir seluruh teorema-nya terbukti benar, dan telah menjadi inspirasi bagi penelitian lanjut. Bahkan, salah satu teoremanya digunakan untuk membuktikan perilaku dari lubang hitam (black hole) alam semesta ini.

Waktu gue nonton filmnya, ada scene di mana Hardy menanyakan, "How did you know that?" kepada Ramanujan, terutama setelah mengetahui bahwa Ramanujan tidak memiliki pendidikan yang mendukung untuk profesi sebagai matematikawan. Jawaban Ramanujan adalah, "I don't know. I just know it's true." Walau demikian, dia kemudian menambahkan, "An equation for me has no meaning, unless it expresses a thought of god." Isn't it interesting, bahwa Ramanujan bisa keluar dengan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh matematikawan lainnya, karena dia berkomunikasi dengan tuhan-nya?

Kadang, kita nggak tau kalau kita itu kreatif. Kita cuman punya ide aja, lalu kita buat. That's it. Ramanujan adalah salah satu contoh orang jenius yang berpikir di luar kotak, namun, untuk dapat diterima, ia harus bisa membuktikan kejeniusannya melalui ilmu-ilmu orang yang ada di dalam kotak. Supaya bisa lebih dimengerti oleh orang-orang yang pemikirannya berada di dalam kotak.

Beberapa bulan yang lalu, gue dikasih tes, dan hasilnya bilang, gue itu adalah orang yang out of the box, dan yang harus dilakukan untuk gue adalah menaruh gue di dalam kotak. Tentu saja gue menolak untuk ditaruh di dalam kotak. It is solely my right to expand and generate my ideas. Kenapa gue kemudian harus di taruh di dalam kotak? Jadi, kalau kalian diuji talent dan kemampuannya, terus jawabannya begitu, jelas bisa bilang bahwa orang yang menguji kita itu nggak ngerti sama sekali tentang kemampuan orang dan bagaimana meningkatkannya. Why should we live in a box where we know that there are more in this life than a life in a box? Walau demikian, kita memang harus bisa menunjukkan kebenaran dari life outside the box dengan cara-cara yang dimengerti oleh orang-orang yang hidup inside the box.

Dari beberapa hal di atas, gue juga belajar bahwa kreativitas itu adalah tanggung jawab kita semua. Sadarkah kalian semua, bahwa manusia itu adalah ciptaan Tuhan, yang diciptakan serupa dan segambar denganNya? Jauh sebelum kita mengenal Tuhan sebagai Tuhan penyembuh, penyelamat, penyedia, kita mengenal Tuhan sebagai Tuhan yang mencipta. Harusnya, kalau kita diciptakan serupa dengan Dia, kita pun juga bisa mencipta. Bahkan mungkin, itu lah kekuatan kita yang sebenarnya. Itu sebabnya, kreativitas itu harusnya menjadi tanggung jawab kita, untuk kita lakukan tentunya, bukan hanya untuk kepentingan kita, tapi untuk kepentingan orang lain. Kita memang terbatas, tapi bukan berarti kita itu tidak kreatif, karena kreatif itu bukan milik satu domain sendiri.

Mengakui keterbatasan kita itu boleh, tapi bukan berarti kita tidak bisa mengimplementasikan ide-ide kita. Itu sebabnya pula, Tuhan menyediakan orang lain, yang memiliki kemampuan yang berbeda, namun dapat menunjang penerapan dari ide-ide kita. Makanya, bergaul lah, untuk bisa menajamkan dan juga untuk mengimplementasikan ide-ide yang ada di kepala kita. Ini juga lah yang menjadi art of collaboration, you simply can do much better if you collaborate.

Ramanujan memerlukan Hardy untuk bisa mempublikasikan temuannya, dan pada akhirnya, Hardy yang berjuang supaya Ramanujan bisa menjadi bagian dari Fellows of Royal Society di Inggris, yang merupakan kumpulan ilmuwan-ilmuwan terdepan. Hardy memerlukan Littlewood yang selalu mengingatkan Hardy mengenai potensi Ramanujan, dan juga untuk tidak menyerah pada potensi Ramanujan. No matter how good you are, you will always need somebody to make you better. And that is why, if your creativity is limited by people, then you may want to get out of there and find a much better environment to develop and expand your creativity. Your creativity can only be expanded with the right people and environment.  

So, live your life beyond boundaries, for you are creative.

ime'

Labels: , , , ,

Monday, August 29, 2016


Dunia ini adalah Rumah Sakit

Beberapa minggu terakhir, gue banyak memberikan reward kepada diri gue sendiri dengan nonton serial film Korea (yang gue sadarnya telat banget tentang keseruannya hahahah...), setelah gue berhari-hari lembur, even di weekend. Lucunya, tanpa gue sadari - dan gue nggak baca reviewnya dulu memang - kebanyakan film yang gue tonton, ada hubungannya dengan kejiwaan seseorang. Pattern-nya juga mirip: cerita tentang orang yang berada (entah dari segi harta, posisi, atau tampang, hahahah...), banyak dikagumi orang lain, tapi ternyata, dia punya kelainan kejiwaan. Pattern yang sama dari film-film itu menunjukkan peran komunitas, atau teman-teman terdekat yang mendukung kesembuhan si pasien, sangat tinggi.

Beberapa kelainan kejiwaan yang gue temukan di film-film itu adalah dissociative identity disorder, narcissistic personality disorder, tourette syndrome, schizophrenia, dan antisocial personality disorder. Hampir semua kelainan ini disebabkan oleh kesalahan pertumbuhan (eh, gimana ya bilangnya?). Pokoknya ada hubungannya dengan masa kecilnya mereka, yang diakibatkan oleh  trauma atau stress yang dipendam sejak kecil, beberapa mengalami abused. Ada juga yang disebabkan karena merasa dicurangi oleh orang tua mereka, sehingga mereka melihat beberapa tindakan sebagai suatu tindakan pengkhianatan.

Salah satu film misalnya cerita tentang seseorang yang mengalami kelainan kejiwaan, sehingga ia menciptakan tokoh khayalan versinya dia, untuk meng-kompensasi perasaan bersalahnya kepada dirinya sendiri. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menjaga si tokoh khayalan tersebut. Ternyata, tokoh khayalannya itu adalah figur dia sendiri ketika dia masih muda, dan rentan untuk dipukulin sama ayahnya dan kakaknya sendiri. Itu sebabnya, dia berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya. Peak dari kelainan jiwa ini adalah, bunuh diri.

Funny thing adalah orang-orang yang mengetahui tentang orang lain yang mengidap penyakit ini, malah menjauhkan diri dari mereka.Atau, untuk para orang tua yang menyadari kelainan pada anaknya, yang dilakukan adalah denial dan memaksa anak-anak ini untuk hidup normal. Padahal, dari film-film itu, gue belajar bahwa, justru orang-orang yang seperti ini harus diterima dan diberikan kasih sayang yang sepadan untuk menyembuhkan kelainan ini.

Film yang baru aja selesai gue tonton malah memberikan impresi kepada diri gue, bahwa sebenarnya semua manusia di muka bumi itu 'sakit', dan yang sebenarnya mereka perlukan adalah kasih sayang dan perhatian dari orang lain; dukungan, penerimaan dan lain-lain. Dari film itu juga, gue keluar dengan judul dari postingan ini, 'Dunia ini adalah Rumah Sakit'. Gue juga menyadari dari film itu, bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya keluarga ideal; yang ada adalah keluarga yang mau saling terbuka dan mendukung satu sama lain. Ini, yang mungkin terlewat oleh kita. Gue juga menyadari bahwa tidak ada satu keluarga yang bisa berdiri sendiri, itu sebabnya kita juga perlu tetangga. Kita nggak pernah tahu latar belakang keluarga atau masa-masa pertumbuhan seseorang, what they've been through, yang pastinya membekas di kepala dan hati mereka, dan mungkin juga menimbulkan luka bagi mereka. We don't know that...

Namanya aja Rumah Sakit, pastinya ada dokternya dan ada susternya. Makanya kalau kalian perhatikan, ada banyak peran yang bisa dimainkan oleh manusia, sesuai dengan bakat yang diberikan; ada yang bisa jadi dokter, ada yang bisa jadi suster. Walau demikian, bukan berarti mereka yang menjalani peran sebagai dokter dan suster, pasti tidak mengidap salah satu penyakit kelainan jiwa di atas. 

Film lain lagi yang gue tonton bercerita mengenai seorang dokter bedah yang terkenal dengan persentase keberhasilan operasinya sangat tinggi, namun, ia punya kelainan kejiwaan dan itu adalah tidak memiliki empati bagi orang lain. Tapi, di dalam ruang operasi, dia bukan orang yang cepat panik, dan punya daya konsentrasi yang tinggi. Namun, di luar ruang operasi, dia dinilai sebagai orang yang jahat.

Film-film ini membuat gue semakin yakin bahwa gue itu nggak lebih baik dari orang lain. Film-film ini juga mengajarkan pada gue, bahwa selalu ada peluang kesembuhan  buat masing-masing kita, yang penting adalah bagaimana kita bisa menemukan komunitas atau kumpulan orang yang baik sama kita, siap mengingatkan juga. siapa yang mendukung kita. Gue juga belajar bahwa terbuka merupakan kunci untuk kita bisa mendapatkan kesembuhan yang kita perlukan. 

Gue merasa tertemplak juga dengan salah satu line yang diomongin di situ, katanya begini, bedanya ilusi atau halusinasi dengan kenyataan itu, terletak pada sinergi dan sinkronisasi logika. Artinya, ilusi dan halusinasi itu stagnan, tidak membawa kamu kemana-mana, tapi realitas, itu akan membawa kamu ke tempat yang berbeda dengan tempat kamu yang sekarang. Pastinya, suatu tempat yang merupakan kemajuan buat diri kita masing-masing. Idealnya.

How do you see yourself? Normal? Sick? Normal is definitely relative, but sick is absolute. How do you see your life? Stagnant or moving somewhere?

Tanda-tanda kita masih waras itu adalah we're moving somewhere and not being stagnant. Itu lah fungsinya teman, mereka yang biasanya mengajak kita berpindah ke suatu tempat. Biasanya, mereka membuat kita pindah ke tempat yang lebih menyenangkan, banyak ketawa-ketawanya, banyak belajarnya, banyak bahu-bahu yang tersedia when you're sad and cry, banyak tangan-tangan yang memberikan elo kehangatan when you jumped into a cold world. 

Dunia ini jelas adalah Rumah Sakit, tapi gue yakin, gue pasti bisa sembuh, karena gue punya teman-teman yang bisa menyembuhkan gue dengan luar biasa. And with them, I will enjoy the healing process.

Aren't you grateful for your friends?

ime'...
friends are your needs answered - Khalil Gibran

Labels: , ,