Photobucket

Monday, July 16, 2012


There is Something More in Life than This...

Helow Yellow Melow :)

Haya doin?

Lama skaleh diriku nggak posting di blog mula-mula ini :)

Saya sekarang mau cerita tentang apa yang saya alami dalam beberapa hari ini. I just found out that: 1. Saya suka sekali menulis; 2. Saya suka sekali membaca; 3. Saya suka sekali main basket. Well, sebenarnya, saya suka olahraga, tapi, saya harus akui, that Basketball is my everlasting love in sports.

Sudah beberapa hari ini saya merenungkan kehidupan saya, biasanya saya lakukan kalau ulang tahun. Tapi, entah kenapa, saya semakin hari semakin sering merenungkan kehidupan saya. Kedatangan salah seorang pemimpin saya yang saya panuti, membuat saya menjadi lebih memikirkan that there are more in life than just what i currently have...

Di tahun ini, saya mendapatkan kenyataan bahwa saya banyak sekali menulis. Menulis apa saja; traveling article, kemudian beberapa paper (yang bahkan tidak pernah tercatat di workplan saya), beberapa yang relate dengan pekerjaan juga. Bahkan porsi saya menulis di BREAKING (www.jpcc.org), jadi semakin banyak. Ada aja yang kepikiran sama editor saya untuk saya tulis. Saya jadi sering banget menulis artikel-artikel pendek, mulai dari 300-600 kata. Tentu saja, itu jadi membuat saya lebih selektif dalam menggunakan kata-kata. Saya jadi sedikit lebih mahir untuk memformulasikan tulisan dengan kalimat-kalimat efektif dan produktif, dan tajam.

Saya juga jadi mengerti, betapa saya senang sekali mengembangkan publikasi-publikasi, supaya orang bisa mengerti dengan jelas mengenai segala sesuatu. Saya jadi suka ketemu orang, nanya-nanya orang, despite of saya sudah kenal mereka atau tidak. The spirit of eager to learn about something, itu yang membuat saya jadi selalu haus dengan ilmu pengetahuan. Mungkin juga itu turunan dari ayah saya dan beberapa leaders saya, yang selalu ingin belajar. Bagi ayah saya, knowledge is everything. Walaupun kemudian saya belajar, that no matter how smart you are, kita harus tetap memberikan ruang pada pikiran kita untuk memikirkan hal-hal sederhana lainnya; seperti mengucap syukur untuk segala hal. It's a simple thing, but it's more powerful than all the knowledge exist in this world. There are times when our minds is fed up with the knowledge, but it will never loose a space to give thanks in everything.


Walaupun saya senang menulis, bukan berarti saya penulis yang sempurna. Salah satu mantan bos saya, yang menurut saya merupakan kawan terbaik saya (was), pernah bilang begini, "Me', tulisan lo itu berantakan. Tidak terstruktur, as if otak lo tumpah di situ. Tapi, your writing speed is incredible." Melalui dia, saya belajar nulis (dimarah-marahin siihh, tapi ditungguin sampe' jam 3 pagi... hahahaha). Dan karena dukungan dia juga, di tahun 2007, dalam jangka waktu 6 bulan, saya bisa menghasilkan 2 paper yang dipresentasikan di ajang konferensi internasional, satu briefing paper untuk media yang dijadikan pegangan untuk media saat itu tentang pemetaan konferensi, dan sebuah brosur yang menjelaskan tentang perubahan iklim. Oh iya, satu lagi, saya nulis proposal dan dapet uang untuk hak guna dari brosur itu. Hahaha... kata mantan bos saya waktu itu, "Elo yang nulis, gue yang speak-speak..." I guess we were a great team; bahkan di masa-masa suram sekalipun. Karena encouragement dia juga, saya jadi lebih PD dalam menulis.

Lucunya, setelah itu, saya jadinya sering membuat kegiatan sendiri, dan outputnya harus berupa tulisan. Saya baca buku, kemudian saya tulis reviewnya di goodreads. Saya nonton film, terus saya tulis reviewnya di multiply. Saya ikutin kelas-kelas di gym, terus saya tulis di blog saya yang untuk olahraga. Saya belajar nulis bahasa inggris, dan saya tulis juga di website sendiri yang berbahasa inggris. Saya even berdoa, dan menuliskannya di blog. Writing has somehow became my way of living. Kayaknya kalau dalam sehari nggak nulis, saya galau (nah?). Saya melakukan itu, karena saya tahu, suatu hari nanti, saya akan memproduksi begitu banyak tulisan yang akan sangat berguna bagi orang banyak. Sebelum waktunya tiba, kan saya harus latihan?

Di tahun ini juga, saya kembali bermain basket. Tadi siang, saya baru saja main; tanding sih sebenarnya. Saya besar dengan mengecap olahraga. My dad was (and still is) a sports freak. Jadi, dari saya kecil, saya sudah diajarkan berenang dan bermain tennis. My dad even care untuk persiapan fisik saya guna menghadapi kejuaraan tennis. Though tennis was my dad's strength, and my big brother, but it was never mine. Saya bisa main tennis, tapi saya nggak pernah juara seperti ayah saya dan kakak laki-laki saya. I was great (and still am) in swimming, tapi karena pengaruh film tentang ikan hiu jahat yang 'markas'nya di kolam renang, saya jadi 'trauma' dengan air di kolam renang dan tentu saja, laut. I've mastered semua gaya yang ada di berenang; termasuk gaya ganti, in such a young age. Guru les renang saya sampai wanti-wanti saya masuk klub renang yang serius untuk jadi atlit renang, saya nggak mau. I just wanna play.

Basketball seems to be a sport yang selalu ingin saya lakukan. Saya belajar dari kelas 3 SD melalui pelajaran olahraga. Kemudian, guru olahraga saya bilang, saya harus latihan ekstra di beberapa hari ke depan, terutama di sore hari. Ternyata, itu latihan tim SD untuk bola basket. I knew nothing of it. C'mon, saya cuman anak daerah, yang besar dengan berlari kesana-kemari di lapangan bola, bermain 'jala ikan' di salah satu kota di Kalimantan Timur. Tahu apa saya tentang main basket? But you know what? Inisiatif guru saya itulah yang membawa saya sampai masuk klub, main di negeri Belanda lawan bule-bule Belanda segede gambreng. But i fought them with no fear. Saya dijulukin 'anjing balap' sama salah satu senior saya di Bandung. Dia bilang, saya larinya cepet banget. Di Belanda, kalau saya ada masalah, pelatih saya akan tau dari speed saya berlari. Pernah suatu hari pelatih saya tanya, "Ime', you didn't run as fast as you used too. Why?" Malas memberitahukan masalah sebenarnya sama pelatih saya, saya cuman jawab, "Because there's nothing for me to run for," setelah itu, ia akan melempar bola basket sekencang dan sejauh mungkin, sehingga saya akan berlari secepat mungkin just to get it. I miss him actually :(

Belakangan saya baru mengerti, bahwa saya orang yang memiliki objective. Without objective, saya tidak akan berusaha untuk mendapatkannya. Jadi, tanpa ada bola yang harus saya kejar dan saya tangkat, saya tidak akan mau lari secepat biasanya.

Sampai dengan detik ini, saya merasa bahwa akhir-akhir ini saya jadi semakin mengerucut pada apa yang ingin saya lakukan dan apa yang sangat saya sukai. Saya nggak tau what tomorrow will bring dari hasil identifikasi ini. Tapi saya tau, bahwa tujuan hidup saya di bumi ini, tidak akan pernah jauh dari my being. It is my character that i need to work on it more, and what i need to do afterwards is to sharpen my skills and abilities.

Have you ever thought about yourself? Seperti, apa yang kamu suka untuk lakukan, kenapa kamu bisa ada di tempat sekarang atau lain sebagainya? Try to spend some time untuk reflect on that. You'll see how interesting it would be for you, especially in living your current life. Mungkin juga kamu jadi kayak saya. Merasa bahwa ada hal-hal yang lebih menarik lagi yang kita bisa kejar, karena memang ada di depan sana. I'm sure, that there's more in life than just this; our current living...

ime'...

Monday, January 02, 2012


What do you read?

How do you read this?



ime'....

Sunday, January 01, 2012


2012 adalah...

Selamat datang tahun 2012 yang katanya bakalan fenomenal. Segala macem bakalan numplek di 2012, but then again, if you wanna live, you just have to go through it.

Gue punya begitu banyak cerita yang tidak tertuang di koleksi-koleksi tulisan gue di tahun 2011,  most of it are my ups and downs at work. So many times gue bertanya-tanya, did i make wrong choice? Beberapa temen gue sampe' bilang, "Me', problem lo nggak berkembang, cuman disitu-situuuu aja..." membuat gue merasa bahwa hidup gue pun tidak berkembang.
I once bumped into a message yang bilang seperti ini: if you have a problem, you need to track down where does it come from. Problems are usually resulted from: (1) Your own stupidity; (2) It is something intended to boost you up, (3) It's other person's, or people's decisions and you can't do anything to change that. Gue merasa seringkali gue end-up di poin yang ketiga. In September 2011, i had the chance to make my own decisions without anybody interfering my decisions. Tapi akhirnya, apa yang gue putuskan, nggak lepas dari kondisi yang entah kenapa bisa terjadi. God was never done something without any purposes. And here i am, bearing the result of my decision.
Read more »

Sunday, September 04, 2011


Funeral: Ring a Bell?

Hey ho lagi... hehehe... saya memang suka menyapa orang dengan kata 'Heyho'. kayaknya sesuatu banget... *dang!*

Saya juga sekarang lagi mencoba untuk mendisiplin diri dalam hal menulis di blog. Sebenarnya, ide tuh banyak, cuman, jujur aja, kadang saya males banget deh mau nge-blog. Ya mesti cari foto dulu lah, mesti dikasih 'signature' lah itu foto; yang artinya mesti buka photoshop lah, gitu-gitu deh. Padahal, saya sebenarnya nggak punya waktu banyak untuk melakukan segala printilan itu. Tapi, ya, namanya juga latihan yah, jadi, saya harus ngelaku'innya. Hitung-hitung sebagai ajang latihan menulis cepat.
Sekarang, saya mau ngomongin soal Funeral, atau, upacara penguburan. Kenapa sih tiba-tiba saya mau ngomong soal itu? Well, pertama, kita semua pasti akan mati kan? Walaupun kita nggak tau kapan. Jadi, menurut saya, sah-sah saja kalau kita membicarakan tentang upacara penguburan, toh kita akan 'menjalani'nya juga. Kalau mungkin bukan kita dulu, mungkin orang lain, dan dari situ, kita juga jadi bisa lebih mengerti tentang esensi dari penguburan itu sendiri.


Yang kedua adalah beberapa waktu lalu, beberapa kerabat saya (dua sih) baru meninggal. Pertama adalah oom saya, yang adalah adik ipar dari ayah saya. Beliau  meninggal karena kanker hati yang dideritanya. Kedua adalah oma saya. Oma saya ini adalah adik ipar dari almarhum opa saya dari Papa. Atau, tantenya Papa saya. Oma meninggal bukan karena sakit sih, tapi memang karena umurnya yang sudah tua. She died at the age of 96 years old, can you imagine? Papa saya bilang, bahwa sepertinya, gen dari oma saya itu adalah gen kuat. Makanya she survived until 96 years old.

Hal yang paling berkesan dari pemakaman dua orang ini adalah berapa banyak orang yang datang mengunjungi mereka di saat-saat terakhir mereka, berapa banyak orang yang menyaksikan mereka menghembuskan nafas mereka yang terakhir, dan berapa banyak orang yang datang pada saat mereka kemudian dikebumikan. Dari ketiga hal tersebut, i was questioning myself, pada gilirannya saya nanti, siapa kah yang akan ada di dekat saya di ketiga momen tersebut? 

Entah kenapa, saya jadi suka mengunjungi keluarga saya. Saya senang kumpul-kumpul dengan saudara-saudara saya, walaupun bisa dibilang, saya itu 180 derajat bedanya dengan mereka. Tapi, saya senang dengan pemikiran bahwa 'Family is the only place in which our membership will never be expired', yang diberikan oleh Pastor saya beberapa waktu yang lalu. Dan saya juga menyadari, at the end of the time, mereka lah yang saya harapkan untuk berada di sekeliling saya, pada saat saya harus menghadapi waktu saya.

Pemikiran tersebut juga menuntun saya pada pemikiran lainnya, apa saja yang sudah saya lakukan di dunia ini? Berapa banyak orang yang telah saya pengaruhi dengan positif? Berapa banyak orang yang telah terinspirasi karena saya? Sometimes, i want to hear it now, dan bukan nanti pada saat saya sudah tidak bernafas. It's good to know the influence you've spread when you're still alive. 

Anyway, posting saya kali ini cuman melontarkan pertanyaan, pada saat waktu kita sampai nanti, apa sih yang anda ingin 'lihat'? Berapa banyak orang yang akan menghadiri penguburan anda, karena mereka merasa terinspirasi oleh anda?

I think, that's a good question, for all of us to think about.

Have a great and blessed life!

ime'...

Wednesday, August 17, 2011


TEDx Jakarta: Sebuah Liputan Amatir

Heyho, long time no write, huh?

Well, kali ini, gue pengen banget nulis soal TEDx Jakarta, sebuah sensasi yang gue dapatkan setelah gue mengikutinya. TEDx Jakarta adalah sebuah pertemuan banyak orang, komunitas, yang sangat tertarik dengan ide-ide, pemikiran brilian. Dari pertemuan tersebut, orang-orang yang menghadirinya diharapkan dapat bisa menyebarkan kebrilianan tersebut, menerapkannya di masyarakat, dan akhirnya dapat mengubah masyarakat sekitarnya. Menurut gue sih, that's one good thing and this should be one great event that people would look up to.


Gue bener-bener nggak tau kenapa tiba-tiba gue bisa nge-klik @TEDxJakarta di timeline twitter gue, dan langsung register. Ternyata, it was not a coincidence, TEDx Jakarta bener-bener ngebuat mata gue terbuka, dan yes, gue jadi mengetahui banyak hal yang baru dan pemikiran-pemikiran hebat. Gue baru tau ada kumpulan orang untuk melegalkan ganja, dengan claim bahwa sifat adiktif ganja, itu lebih rendah daripada kopi. Gue juga baru tau, kalau ada sebuah kumpulan orang yang berusaha untuk melestarikan permainan tradisional. I saw underwater photos yang nggak bisa ditolerate keindahannya dengan apa pun.

I was actually witnessing many positive things of Indonesia, sebuah sisi yang berbeda dari apa yang beredar di media massa. You know, seringkali kita itu terjebak dengan hal yang negatif, tapi kita justru ignore atau nggak bisa men-spot hal-hal yang positif. Coming to TEDx Jakarta membuat gue jadi lebih positif. If we claim that the government incapable, jangan terjebak dengan itu saja. Kita juga bisa kok membuat perubahan.


Anyway, TEDx Jakarta did give me insights; things that are unseen, yet, it's the most remarkable influence to your life. We're actually inspirations to others, only if, we're focusing on our strengths not our weaknesses...

ime'...

Wednesday, June 08, 2011


Failure(s)

Have you guys been in a failure?

Or is it just me?


Gue baru aja mendapatkan berita yang bagi gue, sangat buruk. Tulisan gue nggak good enough untuk dipublish. Padahal, gue yakin banget, dengan seluruh bahan yang udah gue kumpulin dengan ngebut sengebut-ngebutnya, adalah tulisan terbaik yang pernah gue tulis (well, nggak juga sih... ada yang lebih baik lagi, i know).

Tahu juga kah kalian? Sebelumnya, aplikasi magang gue juga ditolak oleh sebuah jaringan yang dari pertama gue tau, gue udah tergila-gila, dan terlintas di kepala gue, bahwa gue akan fully submitted ke jaringan ini? Tahu juga kah kalian, berapa aplikasi summer school yang udah gue masukin, tapi gagal?
Aplikasi PhD?

Damn!

Gue juga pernah ngalamin sih, ngirim aplikasi kerjaan ke beberapa perusahaan ternama, salah satunya malah impian gue to be there, dan semuanya gagal. You know how it hurts? To face the time you failed? It so damn hurts!


Dulu, waktu gue SMP, gue inget banget, gue mimpi sebuah piala bergilir turnamen basket akan jatuh ke tangan SMP gue for good. Because at that time, piala bergilir itu udah ngendon di SMP gue selama 2 tahun. Tinggal 1 tahun lagi for us untuk dapet piala itu. Tau piala itu jatuh ke tangan siapa? Ke tangan tim yang di turnamen sebelumnya, kita kalahin. You know how hurt it was for me? It hurts so damn hard; painly!


Begitu juga di SMA. I felt like our school was one of the best three in Jakarta! Tapi tau nggak, waktu gue kelas 2, ada sebuah SMA yang tiba-tiba melesat naik, lantaran emang itu sekolah atlit. But do you know how hurt i was? SO DAMN HURT!


Mengalami semua kegagalan di atas ngebuat gue jadi ngerti; there are times buat kita untuk mengalami kekalahan, tapi ada juga masa-masa dimana kita menang. It's just a matter how do we respond to it. Bedanya kegagalan gue yang dulu sama sekarang adalah dulu gue punya temen-temen tim basket gue yang merasakan hal yang sama. Ngambek sama pelatih sama-sama, nangis-nangis bareng waktu latihan fisik naik tangga dari lantai 1 sampe' lantai 3 dengan tinggi anak tangga setinggi beruang berdiri (i know, lebay.com), menang bareng, makan bareng, gendut bareng, kurus bareng, latihan bareng, dimarahin bareng, disuruh handstand bareng (pelatih yang mana tuh yang inisiatif ngajarin kita semua handstand?), semua bareng.

But today? I have to face my failures, all by myself. Something that i'm not trained to do it.

Sempet sih, gue cerita ke bos gue, dan dia cuman bilang, "Ya udah, gak pa-pa." Tapi kan sebel! Coba lihat deh prosesnya! How i wanted those things so very much. I'm used to work in a team. Gue bisa maju sendirian, but i always look back to my team; are they there for me? Sama aja kayak main basket. Nggak selamanya gue ngendon di 'atas', kadang gue terobos sendiri masuk ke dalam. Tapi, keberanian itu ada, karena gue tau, my teammates were there for me to give the support and when i failed to score, they're there to do the emmergency defence.


Gue juga pernah main tennis, single. Kalah terus juga. But i have my family back then, and my coach. That when i lost, they were there for me to ease me up.


I came to conclusion that, whenever you're failed, make sure that you have one best friend around you. A very good friend who knows you inside-out. That, i learn. And in this era of life, i learn to have God as my friend. Someone i can talk to, someone i truly rely on, and someone who motivates me to move forward by bouncing back.

Now, i have another 'friend' to keep me going, my dreams.


Peter Daniels said, "Learn to lean on your dreams in times of failures..." Cause when you're dreaming, you are actually setting your whole body to achieve and accomplish your dreams; both to deal with the failures and the winning moments.


Nggak gampang. Apalagi buat gue. But learning, is the most magical experience ever in life, yang cuman bisa kita dapatkan dari kegagalan kita. I have a friend who couldn't go through her test for public university, but she survived and became one good researcher. Michael Jordan faced difficult moments too in his life, pursuing his passions, then becoming the best basketball player ever.

We've failed once or twice, but we shouldn't make the failures hindered us from achieving our dreams or to fulfil our calls to meet in this world.


Dan jujur aja, sebenarnya semua kata-kata encouragement di atas, saya buat untuk menguatkan diri saya sendiri, yang udah merasa nggak kuat menghadapi semua failures ini lagi. Sayangnya, saya nggak tau gimana caranya untuk overcome failures saya yang udah lewat, kecuali deal with it and move on.

Sometimes, our best is just not good enough...

ime'...

gambar diambil dari sini

Monday, May 16, 2011


Pulau Biawak: One Best Spot

Setelah sekian lama gue nggak posting tentang jalan-jalan gue, kali ini, gue posting lah. Gue baru aja pulang dari Pulau Biawak, and it was awesome!!! Kalian tau nggak dimana Pulau Biawak? Ha! Gue juga baru tau sih sebenarnya letak dari pulau itu sendiri. Pulau Biawak itu terletak di daerah Indramayu, Jawa Barat. Indramayu, yang lama perjalanan ke sananya (termasuk macet) sekitar 5-6 jam, bukanlah sebuah kota yang ramai layaknya Jakarta. Biasa aja, tapi, potensi wisatanya, bos! Jangan main-main! Pulau Biawak adalah salah satunya.


Dari pelabuhan nelayan, Pulau Biawak bisa dicapai dengan kapal nelayan bermuatan sekitar 15 orang, dalam waktu 4-5 jam berlayar. Jadi, buat anda yang biasa jackpot, antimo is your very best friend. Gue pribadi perdana menenggak antimo di perjalanan ini. Gue cuman nggak pengen merusak akhir minggu gue.


Pulau pertama yang gue kunjungin namanya Pulau Gosong. Menurut ilmu kelautan (sejak kapan?), emang ini sebenarnya bukan pulau. Pada saat pasang, dia akan tenggelam (kalo' gue gak salah ngerti yah). Banyak yang bilang, pulau-pulau seperti itu disebut sebagai 'gosong'. Walau demikian, masih ada 'pendopo' di situ, yang menandakan bahwa bagian itu tentunya tidak tenggelam saat pasang tiba.

Gue sih nggak ikutan snorkeling, a bit males. Tapi, gue bisa liat betapa temen-temen gue puas snorkeling di situ. Ada yang bilang ngeliat 15 ekor NEMO (WHAAAADDDD?????), ada yang bilang ikannya sisi kanan berbeda dengan ikan-ikan sebelah kiri, ada yang bilang juga, "Males gue, banyak bulu babinya. Walaupun, bulu babinya tersusun rapi banget...". Tapi, worth to try, really.

Setelah dari Pulau Gosong, kita berlayar ke Pulau Biawak, yang jaraknya 1 jam berlayar. Sebenarnya mungkin lebih cepat, yang lama adalah 'parkir'nya (maaannn!!!). Pulau Biawak ini tidak berpenghuni. Ada juga seorang penjaga pulau, yang juga menyalakan lampu dari mercusuar yang ada. Pulau ini dihuni oleh sekitar 300 biawak, dan memiliki hutan yang amat sangat lebat; be that hutan mangrove ataupun hutan pohon-pohon biasa (gue nggak ngerti jenisnya apaan).


Salah satu atraksi yang amat sangat keren juga adalah mercusuar itu sendiri. I went to the top of it, dan menyaksikan indahnya Pulau Biawak dari atas. Dermaga putih-nya yang panjang, membelah laut Jawa dengan elegan. I'm truly amazed with such kind of view. Padahal, sebelum naik, gue tuh deg-degan setengah mati. Belakangan gue mengerti, bahwa untuk melihat keindahan karya Tuhan yang luar biasa, dibutuhkan keberanian untuk melakukannya dan untuk mengambil segala resiko yang ada. Tapi percaya deh, once you do that, you will never regret it.

Biawak-biawak di sana juga mmm... agak-agak menakutkan sih. Walaupun dibilang tidak berbahaya, tapi peringatan tetap ada; hati-hati dengan ekornya. Lucunya, biawak-biawak ini jalannya pelan, tapi kadang-kadang suka lari sendiri dengan hebohnya sambil menyapu bersih segala sesuatu yang ada di dekatnya (haaaaa????).

Gue menikmati banget tidur di dermga malam itu yang terang benderang dengan sinar bulannya dan gemerlap bintang yang rasanya banyak banget jumlahnya. Never in my life before, i had such kind of views. Dan gue beruntung, malam itu clear as crystal can be, dan hujan nggak merusak malam indah kita masing-masing. Pulau Biawak adalah tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan akhir pekan.

Gue sangat berharap, apabila nantinya Pulau Biawak ini menjadi salah satu tempat wisata yang fenomenal, orang-orang yang mengunjunginya tidak merusak Pulau ini, sebagaimana yang terjadi pada Pulau Peucang terlebih lagi Pulau Tidung. Gue dan teman-teman seperjalanan berusaha banget untuk menghimbau kalian semua yang akan menikmati Indonesia. Kita punya tanggung jawab untuk menjaga seluruh keindahan alam ini. Kebersihannya bukan hanya tanggung jawab penduduk setempat, tapi justru tanggung jawab kita sebagai pendatang yang hanya sesaat menikmatinya. Semoga Pulau Biawak tidak menjadi kotor dan terlalu penuh dengan orang-orang sehingga mengganggu Biawak yang tinggal di situ.


For our future!


English version is in here.

ime'...