Photobucket

Saturday, July 09, 2016


Another #randomthought of mine

Wahai temans yang budiman, kembali gue pengen menuliskan my #randomthought

Sebuah lagu 'Eternal Memory' yang lagi gue dengar ini membuat gue merasa gatal, ingin melakukan sesuatu yang baru. I mean, I have enough of all these. Gue tapi nggak tahu dimana dan bagaimana gue bisa menemukan sesuatu yang baru itu... #randomthought #nomorsatu

Kalian pernah berpikir untuk pindah haluan sejenak dari apa yang selama ini kalian lakukan? I'm thinking of that actually, but I just don't know what. Apakah perlu untuk gue melakukan traveling solo? #randomthought #nomordua

Gue sedang memikirkan sebuah perubahan dalam pekerjaan gue. Jelas banget gue nggak bisa stay di sini terus. Bukan masalah personal atau apa, tapi rasanya, memang sudah waktunya gue move on. Gue sedang memikirkan sebuah yayasan yang bergerak secara real ke lapangan, ketemu komunitas yang beneran, dan nggak main di daerah abu-abu. I want to be in that activities. Melihat orang yang lebih susah dari gue, sepertinya membuat gue lebih bangun dan jadi lebih bersyukur. Gue juga nggak bilang bahwa gue punya segalanya. It's just, gue merasa hidup gue kayaknya kurang meaningful ya...  I don't think I can comprehend any longer... #randomthought #nomortiga

Gue sempat bertanya-tanya, kenapa gue nggak seperti orang normal yang lainnya? Yang bisa santai-santai aja makan gaji buta, dan selalu punya kesibukan untuk menghabiskannya. At this moment, I'm actually tired... #randomthought #nomorempat

Gue bosan... #randomthought #nomorlima

ime'...

Labels: , ,

Friday, July 08, 2016


This #random thought of mine

Heyho! Long time no write.

Hari ini gue cuman mau buat #randomthought aja. Jadi, gue akan ngalur ngidul di postingan gue kali ini. Btw, gue nulis ini pakai  tab, tapi pakai bluetooth keyboard sama bluetooth mouse. Asik banget. Gue jadi berpikir untuk meninggalkan laptop gue di kantor, karena gue bisa kerja dari rumah tanpa laptop anyway. Hahahahhaa... #randomthought #nomorsatu

Gue memang mungkin telat untuk ngikutin drama Korea, dan kemarin, gue baru selesai nonton sebuah drama korea yang gue suka banget, judulnya Healer. OST-nya nggak gue temukan di iTunes, so i looked somewhere else. Gue menemukannya dan mulai men-download. I like the songs, terutama yang instrumental. It takes me somewhere out of this world, yang membuat gue jadi gundah gulana sendiri. Aneh. Gue dijinakkan sama drama Korea, bagi gue itu aneh... #randomthought #nomordua

Gue lately punya pemikiran untuk mencari pekerjaan yang lain. Well, sebenarnya pemikiran itu udah lama banget. But, everytime gue mau cabut, selalu ada sesuatu yang baru yang menantang gue, jadinya gue nggak jadi cabut. Kali ini, gue seriously memikirkannya. I have another option, tapi, gue lagi dongkol banget dengan option yang ini, karena semrawut dan gue nggak suka dengan orang yang suka merendahkan orang Indonesia. Apalagi kalau orang itu adalah orang bule. Gue mengerjakan isu ini udah bertahun-tahun, dan yang membuat gue kesal kadang-kadang adalah karena bagi orang luar, orang dari negara berkembang itu pasti tertinggal banget deh. Kalau dengan yang sesama negara berkembang, fakta kalau gue itu perempuan, kadang membuat mereka superior. Gue memang bukan tipe orang yang mau mengalah begitu saja, apalagi kalau kita bicara soal kemampuan otak, tapi kalau gue memang nggak ngerti, gue akan bilang gue nggak ngerti. Cuman, jangan setelah gue bilang gue nggak ngerti, kemudian dikait-kaitkan dengan fakta gue perempuan. Rasanya.... kesal.... #randomthought #nomortiga

Am still thinking of traveling solo. Gue rindu traveling, tapi yang gue sendirian, I want to enjoy the travel myself. Sebenarnya, mungkin bukan itu juga sih... Gue merindukan traveling solo, karena gue merindukan satu suara yang janjiNya tidak pernah tidak ditepati, dan suaraNya merdu sangath. Dan gue rindu itu... #randomthought #nomorempat

Gue rindu Amerika. Gue rindu Charleston, walaupun itu kota mahal bingits, gue rindu Washington DC, Atlanta, New York, San Fransisco. Gue rindu Central Park. It was the greatest moment of my life, walaupun saat itu gue harus menghemat luar biasa karena memang uang yang dikasih nggak seberapa. I love the feeling, I love the experience, and I love everything in between.... I don't know whether I can go back to America, but I wish I could.... Tuhan, can I go there, please? #randomthought #nomorlima

Gue rindu Korea. Sebuah negara yang setidaknya dalam setahun gue bisa dua kali bolak-balik. It feels like home whenever I go to Korea. Memang gue nggak pernah bisa melihat banyak kalau gue di sana, tapi, I like the feeling. I like the food, I like the fact bahwa gue harus jalan kaki atau naik kendaraan umum di sana, I like the cold in the winter, I like everything about it. Tapi masalahnya, gue nggak bisa bahasa Korea... #randomthought #nomorenam

Pada dasarnya, sebenarnya gue cukup bosan. Laporan yang gue kerjakan sangat berantakan, tidak terstruktur, dan gue harus mencari informasi lain di luar informasi yang ada. Gue nggak suka dengan cara Team Leader ini melakukan pekerjaannya. Faktanya adalah gue harus menyelesaikan laporan ini paling nggak hari ini atau besok, dan I'm not in the mood for that. Pilihannya adalah gue melakukan sesuatu yang gue suka, dan meninggalkan pekerjaan ini sejenak, lalu gue mulai lagi, atau ya gue kerjakan tapi dengan banyak complain.... Gue perlu sesuatu yang bisa get rid of this silly things from me... mungkin gue baca buku aja kali ya... #randomthought #nomortujuh

Gue rindu my curiosity. Lately gue merasa, gue nggak lagi curious. Gue lebih suka di rumah, karena gue malas buang uang di tempat lain. Bagi gue, there is no where comfortable than home, more specific, my room. I found my peace in here, and I feel safe, sesuatu yang gak bisa ditukar dengan apa pun juga. Ada lagi satu tempat, lounge sebuah hotel di Jakarta, namanya Morissey. Gue suka banget lounge di situ. Setiap gue malas kerja di kantor, gue akan pindah ke situ. Tapi masalahnya, makanannya mahal bingits, gue bisa abis lebih dari 200 ribu setiap gue ke situ, hanya untuk mendapatkan secangkir cappucino, kiwi mojito, dan satu porsi sandwich... I miss my curiosity.... #randomthought #nomordelapan

Gue pengen banget punya stamina untuk lari seperti dulu lagi, di mana gue bisa lari 10k, 11k. Sekarang susah banget buat gue lari non-stop 3k aja... I miss running, but the fact that I'm currently cannot run as good as previous days, it makes me really sad... #randomthought #nomorsembilan
Gue merasa saat ini gue lagi ada pada musim yang pengennya instant. Gue pengen semua kesedihan, kegalauan, dan semua ke-an lainnya, segera hilang... It breaks my mood, really... and I hate that, trully.... #randomthought #nomorsepuluh

I wish to know more things. I wish I understand more. I wish I can create more. I wish I know myself a little bit more. Rasanya, kok gue mentok ya.... ani... there must be something more than this... I know that for sure... #randomthought #nomorsebelas #closing

ime'

Labels: , ,

Saturday, April 30, 2016


The brief moment in which things are possible

... dan saya, kembali menulis di blog ini... senang!

Hari ini, gue pengen cerita tentang satu hal yang namanya 'opportunity' atau kesempatan. Lucu banget, karena gue mendapatkan pembelajaran tentang ini dari salah satu film Korea yang sudah gue tonton, tapi sering banget gue ulang berkali-kali. Soalnya, daripada gue memulai serial yang baru, gue memilih untuk lihat yang sudah gue tonton. Kenapa, karena gue kalo udah mulai dengan serial yang baru, bisa-bisa gue nggak akan selesai nontonnya. Hahahha... sedangkan kerjaan gue lagi numpuk banget, jadi, gue harus cukup puas dengan menonton kembali apa yang sudah gue tonton.

Gue hari ini mau memperkenalkan sosok 'dewa' yang namanya Caerus atau Kairos (btw, gue punya teman orang Filipin yang namanya Kairos. Gue waktu itu belum tau kalau itu adalah nama dewa Yunani yang kaitannya erat dengan opportunity). Gue mulai mencari tahu tentang dewa ini, setelah gue nonton salah satu drama Korea yang sepertinya nge-hits banget. Di salah satu episode drama itu, kalau nggak salah ingat episode 9, sang tokoh perempuan ditawarkan untuk menulis artikel dengan genre apa saja yang ia mau. Namun, karena merasa dirinya rendah dan tidak punya potensial, si perempuan ini menolak. Temannya, tentu saja berusaha untuk meyakinkan sang tokoh, dan juga atasannya, bahwa ia pasti bisa untuk menerima tantangan tersebut.

Bos-nya yang kedua tertinggi (susah yaaa...) mendengar tentang kesempatan yang ditawarkan tersebut, dan juga momen di mana si tokoh perempuan menolak kesempatan tersebut. Beberapa waktu sesudahnya, sang bos menceritakan soal Caerus ini.


Gambar diambil dari sini


Setelah gue melihat adegan ini, harus gue akui kalau kemudian gue meng-google tentang si Caerus ini. Caerus digambarkan sebagai anak terakhir dari Zeus yang paling muda. Caerus tidak mengenakan pakaian, dan ia hanya memiliki rambut di bagian depan saja, sedangkan yang bagian belakang, botak. Dari beberapa sumber bacaan yang gue baca, dikatakan bahwa Caerus memiliki sayap bukan hanya di punggungnya, tapi juga di kakinya. Artinya adalah orang hanya bisa menangkap dia pada saat Caerus menghampiri orang tersebut dari depan. Pada saat Caerus terbang menjauh, sulit bagi orang untuk menangkap Caerus, atau kesempatan. Itu juga sebabnya, Caerus kemudian menjadi simbol dari momen 'the brief moment in which things are possible'.


Saat ini, gue sedang diperhadapkan pada dua buah pilihan yang sama-sama memiliki kekuatan dan kelemahan. Kedua pilihan ini sama-sama akan mewarnai kehidupan gue dengan kepastian dan ketidakpastian. Pilihan pertama, pastinya pendapatan gue tidak akan berubah drastis. Pilihan kedua, tidak bisa memberikan jaminan kepada gue, bahwa gue akan menikmati keadaan di mana gue berada saat gue mengambil keputusan tersebut. Gue pun belajar hal lain lagi: tidak perduli mau berdoa segimana pun, ketika Tuhan mengajarkan hidup, Dia juga akan mengajarkan kepada kita untuk mengambil keputusan di area abu-abu, dengan cara memanfaatkan setiap informasi yang Ia berikan kepada kita. Gue pikir, cara ini adalah cara yang hanya bisa dilakukan dan diterapkan untuk orang-orang yang dewasa, yang tidak lagi harus disuruh-suruh, tapi harus bisa berpikir untuk menentukan masa depannya.

Seringkali Tuhan menjawab kita bukan dengan kepastian, namun dengan pemikiran yang memungkinkan kita untuk mengambil keputusan. 

Berapa banyak di antara kita yang sering berpikir, bahwa ketika Tuhan menjawab doa kita, Tuhan pasti akan menjawab dengan penuh kepastian, pilihannya hanya ada A atau B, tidak pernah ada A,5. Today, I learned, bahwa pilihan A,5 itu, beneran ada.

Pendeta gue pernah bilang begini, "Justru di area yang abu-abu itu lah, yang harusnya membuka pembicaraan kita dengan Tuhan. Karena tidak semuanya di dunia ini adalah hitam dan putih." Hal tersebut membuka mata gue tentang makna memiliki hikmat dan pengetahuan. Bukan hanya menyadari untuk memilikinya, tapi juga mengetahui kapan dan bagaimana kita menggunakannya. Saat ini, gue sedang menggunakannya, mempraktekkannya dalam hidup gue, di mana gue sedang berjuang di sebuah area abu-abu. Gue sedang berada pada tahap di mana gue sedang mengumpulkan informasi, dan di lain pihak, gue sedang mencoba untuk mengaktifkan iman gue dengan cara mengumpulkan banyak informasi dan juga kata-kata bijak yang bicara sangat keras dalam hidup gue.

If you're going to take a risk, know that you'll be taking it with Him...

Gue tetap berharap bahwa apa pun yang menjadi keputusan gue, memang karena didasari oleh prinsip yang benar dan bisa menjadi teladan bagi banyak orang, bukan karena logika yang memainkan pikiran dan perasaan gue saat ini. 

Semoga tulisan gue ini bukan hanya memberikan pengetahuan dan juga bekal bagi diri gue, tapi juga bagi banyak orang.

Have a great adventure in life, people. HIM!!!

ime'...

Labels: , ,

Sunday, April 24, 2016


Menulis adalah...

Menulis adalah, bagi gue, suatu kegiatan yang aneh tapi nyata untuk membuat gue lebih banyak berpikir; bahkan berpikir ulang. Itu sebabnya, dulu, ketika seorang teman yang sepertinya melihat potensi menulis di dalam diri gue, kemudian membuatkan gue blog ini (trima kasih, Nggo). Gue gak bisa berbuat banyak untuk mengedit tampilan blog ini memang, bukan karena nggak bisa, tapi karena mungkin gue masih ragu untuk mulai masuk dalam dunia blog design, either takut ketagihan dan tidur terlampau malam, atau karena takut frustrasi kalau nggak jadi. 

Perjalanan menulis gue sepertinya tidak terasa, tapi cukup panjang. Karena gue dibesarkan menjadi orang yang terkadang sangat introvert, gue merasa bahwa menulis adalah satu-satunya aktivitas yang bisa membuat gue mengekspresikan diri gue. Waktu SMP, gue pernah mencoba untuk membuat cerpen. Anehnya, gue nggak pernah bisa membuat a good ending dari semua cerpen-cerpen gue. Dan dulu, karena gue nggak kepikiran untuk buat tulisan di komputer, jadinya gue menulis tangan. Hahahha... cape', kali ya... gue nggak ingat. Kuliah, gue mulai menulis tapi ya acak adut. Baru ketika gue ke Belanda, gue mulai mengecap yang namanya internet super cepat, dan gue bisa menulis berjam-jam.


Funny thing, gue nggak pernah punya konsep untuk menulis. Jadi, walaupun gue bisa menulis cepat, editing is another problem for me. Gue sampai ditegur sama supervisor gue waktu di Belanda, untuk setidaknya mulai mengalokasikan waktu untuk mengedit. Surprisingly, ketika gue edit, my reports are way better than before, lebih bermakna dan tentu saja, jauh lebih berguna. 

Gue sempat menjadi jurnalis basket sebelum gue ke Belanda. It was different, antara lo menulis dengan angan-angan lo, dengan personal findings lo, dan ketika lo harus ketemu orang, dan meminta orang tersebut menjadi narasumber. It was a big failure for me sebenarnya, karena gue takut sama orang. Tapi, gue ternyata bisa sekarang menjadi salah seorang jurnalis di salah satu gereja terbesar di Jakarta. Bertemu dengan orang lain, saat ini, sudah tidak menjadi ketakutan lagi buat gue. Kesenangan gue kemudian berganti menjadi bagaimana 'mengorek' orang dengan menyusun pertanyaan-pertanyaan yang standar.

Sekarang gue mulai mencoba untuk activate my blog, karena sebuah drama Korea yang barusan gue tonton (apparently gue tonton berulang-ulang), yang bercerita mengenai kehidupan orang-orang yang bergerak di majalah. Ada dateline, ada artikel yang harus dikejar, dan bagaimana meeting jurnalis itu dilakukan untuk menentukan konten dari majalah itu. Di situ juga diceritakan bahwa salah satu dari jurnalis itu (in the end), apparently adalah seorang penulis buku yang luar biasa, dan dia bekerja di majalah tersebut, untuk menyembunyikan identitasnya. Di satu season dalam hidup dia, dia memutuskan untuk melakukan coaching pada satu orang junior di tempat itu (yang sebenarnya dia suka, ini tambahan informasi gak penting sebenarnya... hahahah), mengenai bagaimana caranya untuk membuat sebuah artikel yang baik. Dia bilang, kalau lo gak bisa membuat first paragraph itu menjadi menarik bagi pembaca, then artikel itu tidak akan pernah bisa menarik perhatian orang.

Salah satu tulisan gue tentang travel untuk salah satu majalah di Jakarta

Gue pernah beberapa kali menulis tentang travel untuk sebuah majalah di Indonesia. Sebenarnya, tulisan gue itu diminta oleh teman gereja gue, almarhum, yang dulu adalah editor gue. It was fun waktu gue menulisnya, bayarannya memang tidak seberapa, tapi, what I like was the feeling. I can do anything dengan tulisan gue without anything to loose. Recalling those moments, sepertinya gue jadi semakin merindukan masa-masa itu.

Salah satu kepuasan gue dalam menulis adalah melihat nama gue tercantum sebagai penulis

Gue juga jadi ingat tentang buku gue yang dulu sempat gue tulis. Buku itu sebenarnya ditarik dari pengalaman gue sekolah di Belanda, dan mengenai persahabatan. Kenapa persahabatan, karena gue punya 2 orang sahabat yang luar biasa, yang bahkan ketika gue harus melepas mereka di bandara, paska itu gue nangis nggak berhenti (sekelibat cerita tentang mereka, bisa dilihat di sini ). Sayangnya, buku itu tidak selesai, karena gue malas ngeditnya. Dan tau nggak, ternyata, nulis sendirian untuk menggambarkan perasaan 3 orang yang berbeda-beda itu, susah bingids, brader!!!

Gue kembali menulis di blog ini pun, sebenarnya karena drama Korea itu. Seperti, mengembalikan gue ke state yang semula. Suka menulis. Hanya saja, this time, I want to do it right. Gue pengen punya scrapbook yang bisa membantu gue dalam menulis. Salah satu mantan bos gue (dia tukang nulis juga), pernah bilang begini, "Me', otak lo itu kalau nulis tumpah, jadi lo harus menstrukturkan tulisan elo...". Sekarang juga gue ngerti kenapa dulu waktu pelajaran bahasa Indonesia tentang mengarang, kita itu harus buat yang namanya kerangka karangan. Itu sebenarnya untuk menuntun kita aja, mau nulis apa. 

At this moment, kebanyakan pekerjaan gue adalah menulis. Tapi, gue ingin melakukannya dengan baik, efektif, indah, dan bisa give a 'punch' buat orang-orang yang membacanya. However, gue memang memerlukan suasana yang sesuai. Background lagu Korea may help, suasana sepi, nggak ada teriakan-teriakan di luar ruangan lo, dan gue harus mengakui, bahwa rumah bokap gue adalah tempat ternyaman untuk gue bisa menulis dan berkarya dengan baik.

Gue juga menyadari kenyataan bahwa, bukan berarti gue punya komunitas untuk jurnalis, kemudian gue bisa melakukannya simply karena gue selalu menulis. Sepertinya, gue jadi punya konsep yang salah tentang menulis jika berpikir demikian. Justru, setiap hari, gue harus mulai berpikir mengenai apa yang mau gue tulis, kerangkanya, bahannya dari mana, dan lain sebagainya. Gue ingin menulis banyak, pastinya. Tapi, gue juga belajar, bahwa untuk menjadi penulis itu, gue harus punya waktu untuk membaca dengan baik dan tenang. 

Sudah bertahun-tahun gue menulis, dan variatif. Tapi, tidak pernah sekali pun juga, gue merasa gue adalah penulis yang baik. Masih ada ruang untuk improvement, whenever it comes to writing.

Jadi, menulis adalah? Menstrukturkan ide dan pikiran kita, memformulasikannya dalam sebuah scrapbook, dan mengelaborasikannya menjadi sebuah cerita yang mengubahkan hidup orang lain. Something like that...

ime'...

Labels: , ,

Tuesday, April 19, 2016


Menjadi manusia...

Heyho!

Gue kembali lagi ke blog tercinta inih... simply karena gue pengen menceritakan apa yang ada di benak dan pikiran gue akhir-akhir ini. Lucunya, gue terpikir judul di atas, 'Menjadi manusia'. Mengapa? Nanti gue cerita'in.

Lately, gue suka banget sama drama Korea. Beberapa orang mungkin berpikir, kok ya gue memasuki season ini telat banget ya? Gara-garanya apa ya? Oh, gara-gara ada orang yang memperkenalkan gue sama N**f**x. Dari situ gue berkenalan dengan drama Jepang, Korea, dan kemudian waktu gue ke Korea, ternyata drama Koreanya beda sama yang bisa gue akses di Jakarta. Akhirnya, keterusan deh gue... Tapi, gue tipe orang yang selalu berpikir, bahwa segala sesuatu itu tidak pernah ada yang kebetulan, termasuk kenapa gue 'bertemu' dengan drama Korea ini. Gue udah nonton beberapa judul, dan setiap film itu, gue belajar sesuatu yang baru. Kalau dibuat diagram Venn-nya, semuanya itu berujung pada satu hal: menjadi manusia.

Gue nggak tahu berapa banyak dari kalian semua yang membaca tulisan ini, punya kemampuan untuk mendapatkan satu atau beberapa pelajaran dari kejadian dalam hidup masing-masing atau orang lain. Gue sampai dengan hari ini berpikir, bahwa gue bisa menarik pelajaran hampir dalam setiap hal kecil dalam hidup gue. Kenapa gue nonton drama Korea, kenapa gue harus datang ke meeting A, kenapa gue harus ikutan training B, kenapa gue harus ke Nepal, ke Korea, ke Paris, kenapa harus jatuh cinta, kenapa harus sakit hati, kenapa harus menunggu, kenapa harus pergi, kenapa harus berjalan, kenapa harus berlari, kenapa harus bertemu, kenapa harus berpisah. Pokoknya segala sesuatu pertanyaan gue yang diawali dengan 'kenapa', hampir semuanya gue bisa mengerti simply karena fenomena yang terjadi dalam hidup gue. Memang tidak dengan hasil yang sekali jadi, seringkali gue harus mengambil sample berkali-kali, melakukan ekstrapolasi, menguji, dan akhirnya mengerti. Everything is about a process.

Gue itu salah satu orang yang mendapatkan kepercayaan untuk memimpin beberapa orang di salah satu gereja yang cukup terkenal. Seringkali juga, orang melihat gue terlampau 'holy', hanya karena gue posting foto-foto tentang kegiatan-kegiatan gereja, atau posting quote 'rohani', atau bahkan check-in di gereja gue di hari Minggu, untuk menunjukkan kepada semua orang, gue ada di mana. Gue sebenarnya jarang banget check-in kalo' ke mana-mana. Biasa aja menurut gue. Kecuali kalau menurut gue, memang itu sesuatu yang perlu gue lakukan karena gue pengen orang tahu, gue bergereja di mana. 

Tapi, pandangan orang yang mengenal gue sebagai pemimpin rohani itu, kadang membuat gue risih tiada taranya. As if, karena gue pemimpin, kemudian gue menjadi kaku, terlampau holy untuk diajak ngobrol ngalur ngidul, gak bisa pulang terlampau malam, dan lain sebagainya. Hey, FYI, gue masih napak bumi, gue masih buat salah, dan gue adalah manusia. 




Gue nonton drama Korea, gue bangun kadang juga siang, gue masih bisa kesal sama orang, gue masih bisa meng-counter orang lain, gue masih punya perasaan dan egois, gue masih bernafas, dan gue masih berpikir waras. Gue masih nonton di bioskop, gue dengar lagu-lagu over melankolis, gue dengar lagu alternatif, bossanova, gue masih suka nyanyi-nyanyi lagu dangdut kalau bercanda. Gue masih bisa mencintai orang lain, gue masih bisa membenci orang lain, gue masih bisa sakit hati, tapi gue juga bisa menyakiti hati orang lain. Nggak semua hal gue terima, nggak semua hal gue tolak. Nggak semua hal dalam hidup gue adalah hitam dan putih, gue pun sering berjalan di area abu-abu. Bedanya dengan yang lain, justru dalam area abu-abu ini, gue membuka pembicaraan gue sama Tuhan yang gue percaya. Apakah kemudian gue salah kalau gue menjadi seorang manusia? Toh gue dilahirkan sebagai manusia kan?

Beberapa hal yang gue belajar dari beberapa film Korea yang gue tonton, untuk menjadi manusia itu artinya kita:

1. Menghadapi berbagai macam masalah, menghadapi berbagai pilihan: mau dongkol atau take things easy? Tapi gue belajar, justru satu penanda bahwa kita masih hidup itu adalah ketika kita menghadapi masalah. Jadi, harusnya kita celebrate, cherish masalah itu, bukannya disesali. We need to face it, rather than to complain about it. Kadang bahkan sebagai seorang pemimpin rohani, lo juga harus berhadapan dengan dosa yang lo buat. Dosa itu bagi gue gak ada yang besar dan gak ada yang kecil; dosa adalah dosa. Tapi, kesadaran bahwa elo harus menghadapi hidup ini, yang dipenuhi oleh dosa, menandakan bahwa lo itu masih hidup. Jadi, kenapa harus go down under, you simply need to accept, ask forgiveness and move on.

2. Love and care are most of the time, the medicine for living. Dari berbagai judul film yang gue tonton, gue bisa mengambil kesimpulan bahwa kita bisa mengampuni, karena kita menerima kelimpahan love and care dari orang-orang terdekat kita. Name it, family kek, pacar kek, teman kek; we survive karena their loving and caring. Pertanyaannya adalah: lo tuh dikelilingin sama orang-orang yang seperti apa? Loving and caring sincerely for you, or for your belongings?

3. We are the main character of our own movie of life. Seringkali kita merasa minder dengan orang lain yang kapasitasnya lebih luar biasa (menurut kita). Tapi, you know what, your life is your own movie and you're the main character of it. Jadi, kenapa terus elo harus minder sama orang lain? Bukan kah kita yang harusnya melukis di atas kanvas kehidupan kita, tentang apa yang kita mau untuk orang lain lihat? Then, why do you have to compare yourself with others?

4. Be yourself, everyone else is taken. Lo nggak perlu untuk ngikutin orang lain for the sake to be accepted. Maaannn, jadi diri sendiri aja susah, lo mau nambah-nambahin pula jadi orang lain. Mendingan energi lo itu dipakai untuk elo semakin menajamkan kekuatan elo. Why do you have to think about your weaknesses while you have strengths that need more of your attention?

5. Never be afraid to ask for help. Gue belajar mengenai being vulnerable to others, well ya mungkin gak semua orang ya, tapi being vulnerable itu membantu elo untuk bisa memperlihatkan sisi yang mungkin bagi orang lain cukup tabu untuk diperlihatkan. Dan being vulnerable itu adalah kondisi di mana elo paling menjadi manusia.


I do have problems dengan mind-set gue, hati gue, kadang ya. Gue pun harus mengakui bahwa gue seringkali greedy dan menginginkan begitu banyak hal, yang sebenarnya gue juga belum tentu mampu untuk bisa mengelolanya. But hey, again, I'm still human being, and I like to be human.



Gue senang dengan fakta bahwa kita punya segala sesuatu yang kita pernah perlukan untuk bisa mengobati dan menolong diri kita sendiri melewati banyak hal. Kita sering banget tidak bisa menemukannya, karena memang kita tidak mencarinya. Menjadi manusia bukan berarti hanya melakukan sesuatu untuk lari dari yang lain, tapi melakukan sesuatu untuk menghadapi hal-hal lain yang tidak pernah kita duga. 


Gue tidak pernah menduga bahwa hidup gue akan quite complicated. Tapi, semakin gue lari dari hidup yang complicated, semakin gue tidak hidup. Life is about facing difficult things bravely, and not running from it. Yang harus lo cari adalah apa yang bisa lo lakukan untuk bisa deal with things. Call a friend and listen to their cries, that can be done. Nonton film Korea dan belajar sesuatu, itu juga bisa. Nulis di blog, itu juga bisa. Apa lah pokoknya. Just make sure that you live this life and facing it to be mature and not to run away from it.

Anyway, hidup film Korea lah!

#apasih #randombanget

ime'... 

Labels: , ,

Sunday, March 27, 2016


Kho Nan Yuan: Pemandangan yang Menyenangkan

Heyho! 

Gue mau ngelanjutin postingan gue tentang travel tahunan gue yang kemarin ke Thailand (postingan sebelumnya, bisa dilihat di sini ). So, di Kho Tao itu, gue dan teman-teman gue kemudian melihat berbagai macam paket tur yang ditawarkan sama pihak lokal, untuk bisa kami manfaatkan. Pada umumnya, paket tur itu adalah: snorkeling di shark bay, lanjut ke Aow Leuk untuk snorkeling, baru ke Mango island untuk makan siang, dan terakhir ke Kho Nan Yuan yang atraksi utamanya adalah melihat tiga pulau terhubung dengan pasir putih dari atas. Nah, karena dari atas, jelas, jalan nanjak merupakan salah satu paket yang juga ditawarkan. 

Nah, paket yang ditawarkan ini harganya kemarin tuh sekitar 750 Baht per orang (maksimum, paling mahal, belum terhitung biaya masuk ke Kho Nan Yuan), pakai kapal gak terlalu gede, tapi rame-rame dengan turis yang lain. Ada lagi pilihan untuk sewa perahu yang lebih kecil, dan (harusnya) kita bisa menentukan ke mana aja kita mau pergi. Perahu ini untuk penyewaan whole-day biayanya adalah 3000 Baht. Sewa perahu pribadi ini yang jadi pilihan kami waktu di Kho Tao. Pertimbangannya adalah kami ingin menghabiskan waktu lebih lama di Kho Nan Yuan. Soalnya, kalau di paket-paket tour, biasanya waktu di Kho Nan Yuan itu cuman 1 jam, sedangkan kami pengen lebih lama. Rute yang kami pilih jadinya adalah Shark Bay, Aow Leuk, dan yang terakhir Kho Nan Yuan, jadi kami skip Mango island. Kami berpikir untuk makan di Kho Nan Yuan, bawa bekal sendiri.

Gue nggak bisa kasih review untuk yang Shark Bay dan Aow Leuk, karena pada dasarnya gue takut sama ikan hiu. Jadi, walaupun gue nyebur, gue cuman di dekat kapal aja. Sang empunya perahu juga ternyata nggak jauh-jauh kok lempar jangkarnya. Menurut teman gue yang adalah diver, dengan kedalaman tersebut, mustahil ditemukan ikan hiu. Tapi, buat gue, laut sama dengan ikan hiu. So, semua omongannya gak gue dengerin. Walau demikian, karena gue udah pernah snorkeling di Pulau Air-nya Pulau Seribu, gue bisa jamin 100%, lautnya Indonesia itu keren banget.

Cuman ya, yang paling menyebalkan itu adalah tukang perahu yang kami sewa. Sama sekali nggak berasa bahwa perahu itu kami sewa sebagai perahu pribadi, karena si tukang perahu pengennya kita cepat-cepat selesai di snorkeling itu (alasannya belum makan). Jadi-nya, kami paling cuman 2,5 jam total untuk snorkeling. Kalau ini terjadi, sebenarnya bisa dibilang ke orang yang menjadi perantara untuk menyewakan kapal, supaya jangan terulang lagi. Karena kami gak mau berargumen dengan yang punya perahu, maka setengah sebelas kami sudah meluncur ke Kho Nan Yuan.

Untuk masuk ke Kho Nan Yuan, yang perlu diperhatikan adalah kalian semua harus bayar tambahan 100 Baht per orang untuk masuk, dan satu lagi, jangan coba-coba bawa botol air kemasan, mendingan kalian bawa tumbler atau tempat minum, karena mereka akan periksa tas kalian dan meminta semua minuman berbasis botol air kemasan untuk ditinggalkan. Menurut gue logis juga sih, karena mereka berusaha untuk meminimalkan jumlah sampah plastik yang berasal dari air mineral di pulau itu. Bahkan tempat mereka menjual minuman pun, yang mereka sediakan adalah kemasan dari botol. Walau demikian, tetap aja ada turis-turis (terutama bule) yang akan membuang botol itu di view point (nanti gue jelasin view point ini apa). Kalau kalian berkunjung ke Kho Nan Yuan, please jangan buang sampah sembarangan. Pulau itu bersih banget dari sampah-sampah plastik. Let's make our trip to be also friendly for the environment too, not only for us.


Pintu masuk ke Kho Nan Yuan
Cuman ada satu resort di Kho Nan Yuan, itu tuh rumah-rumah itu

Tempat pertama yang gue cari di Kho Nan Yuan adalah view point. Apa sih view point itu? Kho Nan Yuan ini terkenal dengan pemandangan dari atas, di mana kita bisa melihat pasir putih pantai yang menghubungkan tiga pulau di daerah itu. Gue terus terang nggak tau nama tiga pulau itu apa aja, gue gak ditanya juga di ujian masuk Kho Nan Yuan. Untuk bisa melihat pemandangan itu, memang harus dilihat dari atas, makanya, kudu nanjak. Banyak juga pertanyaan, lah ya kalau nanjak, apa nggak harus pakai sepatu? Menurut gue itu sedamainya kalian aja, gue naik pakai sendal jepit. 

Track-nya itu sebenarnya tangga biasa, tapi memang cukup sempit untuk dilalui dua orang bolak-balik. Cuman di ujung, memang harus manjat batu gede. Nah di sini, kalau mau pakai sepatu ya monggo, kalau nggak ya juga nggak pa-pa, just make sure kalian bisa naik dan cukup lincah. FYI lagi, view point ini juga kecil banget, jadi diperlukan kesabaran kalian-kalian untuk menunggu giliran foto; apalagi kalau lagi panas banget. Kemungkinan besar keinginan kalian untuk nonjok orang akan sangat besar pada saat itu, bahkan mungkin melebihi keinginan kalian untuk foto.

Sebelum ke area view point sebenarnya, gue nggak sengaja menemukan spot ini, cukup enak untuk nongkrong bahkan tiduran. Lautnya juga keren banget. Gue juga nggak tau ini nama spot-nya apaan, yang jelas, gue sempat leyeh-leyeh di situ, sebelum kemudian di-occupy sama bule-bule yang ngerokok di situ (demyu, smokers!).

The hidden leyeh-leyeh space


Pemandangan dari view point Kho Nan Yuan

Bagi gue sih, atraksi terbaiknya memang cuman pemandangan dari view point-nya Kho Nan Yuan itu aja, sisanya, kayak berenang-renang di pantainya, gak terlalu menarik perhatian gue. Kalau kalian kelaparan dan gak bawa makanan, di situ ada cafe kok. Walaupun dia satu-satunya cafe di situ, harganya itu nggak beda jauh sama harga di Kho Tao, jadi relatively murah, gak jomplang seperti yang mungkin terjadi di Indonesia. Jadi, jangan takut lah untuk beli makanan di situ, apalagi untuk beli kelapa. Kho Nan Yuan ini tapi memberikan review gue mengenai WC di Thailand jadi agak sedikit berbeda, karena menurut gue WC-nya bau dan lebih kotor. Jadi ya, siap-siap aja nutup idung. 

Buat gue, Kho Nan Yuan adalah pemandangan yang menyenangkan, nggak extraordinary, it is simply ordinary, karena gue udah pernah lihat yang jauh lebih bagus, seperti Ha Long Bay-nya Vietnam dan Pulau Seribu-nya Indonesia. Tapi sekali lagi, kalau melakukan traveling itu, there is no regret, yang paling penting adalah pengalaman elo melihat dan mengalami sesuatu yang baru.

Nanti gue sambung ya dengan cerita perjalanan gue berikutnya.

ime'...

Labels: , ,

Saturday, March 26, 2016


Kho Tao : Sisi Lain dari Thailand

Heyho!

Jumpa lagi di blog ini. Gue baru kembali dari liburan tahunan gue, di mana gue mengunjungi salah satu pulau (sebenarnya salah dua) di Thailand. Namanya Kho Tao. Perjalanan ke sana suer lama banget; gue cape' bener ke sananya. Karena menggunakan budget airlines, mungkin jam terbangnya agak-agak kurang ramah untuk gue. But anyhow, gue nyampe' juga kok. Gue akan cerita tentang masing-masing pulau secara terpisah, supaya tulisan gue nggak terlalu panjang, dan enak dibacanya (mudah-mudahan yaaa...).

Menggunakan AA, gue terbang tanggal 18 Maret 2016 lalu, jam 2 PM dari Jakarta Soekarno-Hatta terminal 3, tujuan Bangkok Don Mueang. Gue harus over-night di Don Mueang, untuk kejar penerbangan jam 6 pagi ke bandara Nakhon Si Thammarat (NST) di hari berikutnya. However, untuk sampai ke Kho Tao, si AA ini juga memberikan opsi tiket ketika mem-booking. Jadi nanti satu tiket itu, mencakup tiket pesawat ke NST, lanjut pakai bis, terus naik Ferry ke Kho Tao. Perjalanannya itu sekitar 1,5 jam dari bandara ke pelabuhan, dan dari pelabuhan ke Kho Tao itu sekitar 3,5 jam. Lama emang, karena kapalnya mampir dulu ke Kho Samui, terus ke Kho Phangan, baru pemberhentian terakhir Kho Tao. 



Ini bentuk tiketnya

Sebagaimana lazimnya budaya Thailand, toilet bersih itu pun berlaku di kapal kecil yang membawa kami (waktu itu gue travelnya berempat) ke Kho Tao. Sampai sekarang gue masih takjub karena WC-nya bersih banget. Kinclong. Plus, gak bau. Hebat ya? Makanya, gue harus mengakui, Thailand merupakan destinasi backpacker yang sangat menyenangkan. Oh iya, ini bukan kali pertama gue travel (berusaha) murah ke Thailand. Jadi, gue udah beberapa kali 'menikmati' kebersihan WC Thailand.


Salah satu petunjuk kapal yang menurut gue sangat menarik. Seolah-olah beneran ada yang loncat


Jangan lupa, ikuti juga petunjuk yang diberikan oleh tanda-tanda di kapal. Jadi, kalau dibilang jangan loncat, please, jangan. 


Selayang pandang pelabuhan Kho Tao

Waktu gue liburan kemarin, tempat tinggal yang kami pesan agak jauh dari pelabuhan; sekitar 2 kilo-an lah. Tapi, Kho Tao ini punya geografi yang naik turun, jadi, kami memutuskan untuk naik taksi. Di luar dugaan, ternyata semua taksi itu open cap, jadi, kami harus duduk di belakang, bersama dengan barang-barang kami (dan iya, trip-nya nggak backpacker-backpacker amat, biasa aja, jadi kami bawanya koper geret). Menarik juga sih naik taksi beginian, walaupun deg-degan setiap jalanan nanjak atau turunan, karena cukup tajam, apalagi pegangannya rendah. So, be careful ya, people, kalau kalian naik itu.

Model taksi di Kho Tao

Kho Tao ini tempatnya pantai banget, panas gonjreng, dan kalau mau masuk ke mana-mana, sendal harus dibuka; termasuk masuk ke toko, atau masuk lobby hotel. Makanya, pakai sendal adalah solusi yang paling pas. Kenapa, karena kalau pakai sepatu, sangking panasnya Kho Tao, mungkin kalian nggak akan sempat untuk buka sepatu; keburu meleleh. Makanya, sendal jepit is a wise solution.


Food-street-nya Thailand! Selalu menggemaskan *lho?*


Kalau gue pergi ke Thailand, biasanya yang gue cari adalah food-street. Mulai dari gorengan, panggangan, buah-buahan, pokoknya semua yang dijual sama street vendor. That's the original and best taste of Thailand. Sayangnya, harus diakui, bahwa makanan di Kho Tao ini nggak terlalu mencerminkan Thailand. Rasanya nggak seperti kalau pergi ke Bangkok, Chiang Mai, atau bahkan Phuket. Mungkin karena kebanyakan pengunjung Kho Tao ini bule. Rasanya, sejauh mata memandang, memang yang kelihatan orang-orang non-Thailand. Jadi, mungkin rasanya disesuaikan dengan lidah mereka. Bahkan Thai tea aja, jarang banget yang jual.

Beberapa teman juga bilang, yang punya bisnis di Kho Tao itu rata-rata adalah orang non-Thailand. Tapi mungkin di sisi lain dari Kho Tao, masih ada makanan-makanan tradisional Thailand yang sangat enak. Waktu itu gue hanya menjajaki sisi Barat dari Kho Tao.

On top of everything, gue sebenarnya berpikir bahwa pantai-pantai di Indonesia itu lebih keren daripada Kho Tao. Bagus juga sih gue pergi ke sana, jadi gue bisa tahu, dan gue bisa bangga, bahwa negara gue gak kalah kerennya dengan Thailand.

Sunset di Kho Tao

Kho Tao ini sebenarnya lebih cocok sebagai tempat nongkrong, ketimbang tempat wisata. Banyak bule mungkin karena pantainya memang bersih, tapi percaya deh, pantai Bali lebih bagus. Temen seperjalanan gue yang tinggal di Bali aja sampe' sebel. Tapi, sekali lagi, mengunjungi Kho Tao bukan suatu penyesalan buat gue, karena gue melihat sisi yang lain dari Thailand. Ada juga paket tour yang dijual untuk wisata di Kho Tao, yang akan gue ceritakan di postingan berikutnya.


Coconut, anyone?

Air kelapa di Kho Tao menjadi hiburan buat kami berempat, kelompok traveling yang menamakan diri kami sebagai K4. Kalian tahu cerita drama Korea yang ada F4-nya? F4 itu adalah 4 cowok tajir nan ganteng di salah satu drama Korea. Nah, kami persis tuh kayak gitu. Bedanya, K4 ini stands for 'Kere 4' alias 4 cewek yang lagi kere, tapi demi yang namanya kebersamaan, kami rela menyisihkan tabungan kami. Jadi, K4 itu adalah 4 cewek kere nan cantik. Sangking kere-nya, ada suatu waktu di mana salah satu dari kami sakit tak bisa keluar dari tempat tidur, karena mencoba untuk mencari makanan murah di Kho Tao. Satu lagi mengambil kursus memijat, dengan harapan bisa dapat klien. Lumayan juga. Tarif umum pijat di Kho Tao adalah 300 baht per jam. Belum terhitung tip. Sementara yang dua lagi, harus hoping dari satu cafe ke cafe lainnya, demi mencari sponsor atau pelanggan untuk dipijat.

Sticky rice with mango! Selalu juara! Food-street jaya!

Nanti gue cerita deh tentang sisi lainnya dari traveling yang ini. Sekarang, gue berhenti dulu di sini, karena gue ngantuk dan mau tidur.

Semoga kalian nggak kapok ke blog ini yaaa... dan semoga gue semakin rajin menulis di blog ini.

ime'...

Labels: , ,