Photobucket

Saturday, September 09, 2017


Enjoy the preparation for a fun journey...

Heyho!

Apa kabar kalian kah? Semoga baik ya.

Hari ini gue mau menulis tentang satu hal, yang kita semua punya, nggak ada yang kaya akannya, atau pun miskin akannya. Semua kita memiliki hal ini, sama besarannya; namanya 'waktu'. Setiap kita punya 24 jam setiap harinya. Bahkan pemimpin negara di berbagai belahan negara, memiliki waktu 24 jam setiap harinya.

Kita hidup di dunia yang memiliki batasan ruang dan waktu

Bedanya adalah untuk beberapa orang dari kita, waktu kita tidak semahal beberapa orang yang lain. Walaupun sebenarnya, kita punya besaran yang sama, 24 jam setiap hari. Postingan ini terinspirasi dari sebuah percakapan lepas yang spontan, yang memiliki tujuan untuk mengingatkan seorang anak SMA kelas 2, bahwa mengeluh itu tidak membawa kita kemana-mana. Apalagi mengeluh mengenai sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan untuk mencapai sesuatu yang kamu inginkan, sesuatu itu harus dihadapi.

Pernah kah kalian memiliki momen di mana kalian ngomong ke orang, untuk menegur atau menguatkan orang tersebut, namun pada akhirnya, perkataan tersebut lebih banyak ditujukan untuk kita sendiri? How does it feel? Agak dongkol gak? Hehehhe... Nah ya, itu yang terjadi dengan gue. Gue ternyata ngomong ke ponakan gue, untuk sesuatu yang sebenarnya perlu untuk gue cermati juga dalam hidup gue.

Salah satu orang di keluarga gue yang gue bisa bercanda amat sangat konyol adalah dengan keponakan gue, yang saat ini duduk di SMA kelas 2, perempuan. Mungkin karena dia generasi Z (millennial ++ kali ya?), jadi kadang menurut gue, pembahasannya itu menarik, kocak, dan hidup banget. Sepertinya, sangking menikmatinya gue dengan ponakan gue ini, kadang-kadang gue suka dititipin sama orang tuanya, untuk jaga'in dia. Padahal yang ada, dia yang jaga'in gue, tantenya.

Waktu itu hari Minggu; hari terakhir berleha-leha, ketika dia kemudian complain, "Ya ampun, besok udah mulai sekolah lagi," kata dia. Itu bukan sekali dua kali juga gue dengar dia ngomong begitu. Gue terus terang, punya masa-masa sekolah yang menyenangkan. Mata pelajaran yang gue kuasai, membuat gue sangat betah berlama-lama untuk menyelesaikan masalah matematika. Gue juga sangat aware dengan fakta bahwa, tidak banyak orang yang percaya bahwa gue suka banget matematika, secara gue secara konstan dapat ditemukan di lapangan basket SMA. Kalau hari Senin pagi, setelah upacara, nggak jarang gue ditemukan sedang lari keliling lapangan, karena gue nakal pas upacara; baca buku lah, ngobrol lah, apa lah. But, despite of begitu banyak setrapan yang gue terima waktu sekolah, gue enjoy my school time, dan gue gak akan ragu untuk kembali lagi.

Tapi ternyata, ponakan gue itu sebel banget dengan masa-masa sekolahnya. Terutama di sekolah dia yang satu ini, yang menurut dia amat sangat menyibukkan dia dengan pelbagai macam pelajaran.

Waktu gue mendengar hal itu, yang gue lakukan adalah memberikan kepada dia fakta, bahwa seharusnya dia menikmati masa sekolahnya, karena masa-masa inilah di mana dia dan teman-teman dekatnya, bisa bertemu setiap hari. "Kuliah nanti, belum tentu kamu ketemu mereka terus, de..." Dia kemudian terdiam, dan bergumam, "Bener juga ya..." yang didengar juga oleh kedua orang tuanya.

In a way, gue merasa bangga, karena bisa menegur keponakan gue, dan dia bisa reflect. Itu adalah sesuatu yang membuat gue senang, ketika orang itu mempertimbangkan usulan gue, sebagai sesuatu yang positif. 

Lucunya, paska gue ngomong begitu, tiba-tiba gue bertanya pada diri gue sendiri: adakah gue menikmati masa-masa gue saat ini, sehingga gue bisa meminimalkan complain gue sehari-hari? 

Life can be so rocky, that makes what's left in us are merely complaints

Sebenarnya pekerjaan gue merupakan pekerjaan yang gue suka. I got to meet people, gue bisa influence mereka dengan begitu banyak hal dari pengetahuan dan analisis gue, dan somehow, gue bisa berkontribusi akan sesuatu. Tapi, ada juga masa-masa di mana gue cape banget terlalu banyak jalan, atau punya aktivitas di luar kantor, yang membuat gue rasanya males banget. Karena gue juga suka nulis, jadi kayaknya kalau misalnya dalam satu minggu gue gak punya waktu untuk duduk diam di kantor dan nulis, gue bisa cranky banget. Kadang kalau dalam kondisi seperti itu, maunya gue adalah complain aja. Tapi, gue juga belajar, bahwa complain itu tidak memecahkan masalah gue. I still have to face that kind of situation, dan banyak banget yang jadinya nggak bisa gue lakukan. Walau gue gak complain, sering gue melakukan segala sesuatunya dengan terpaksa, dan gue tau, itu salah banget.

Gue tumbuh menjadi seseorang yang sangat aktif. Gue aktif banget main basket, sampai gue bisa berhari-hari gak ke sekolah, karena gue tanding sana-sini. Gue harus latihan basket juga, gue latihan club, banyak banget. Tapi, gue juga menyadari, bahwa waktu gue main basket, gue lupa kalau gue harus menjaga stamina gue, supaya gue siap pada saat gue harus tanding. Nah, gue benci banget sama persiapan-persiapan begini nih. Jadi, gue suka males banget latihan fisik sendiri. Bagi gue waktu itu, lebih baik gue duduk dan ngerjain soal matematika, ketimbang gue latihan fisik dengan cara lari keliling komplek. Itu akhirnya, gue sesali kemudian.

Sekarang kalau misalnya gue nengok ke belakang, ada satu hal yang gue sadari dan sesali, betapa gue tidak melatih disiplin gue dengan semestinya. Mungkin kalau misalnya gue latihan fisik, disiplin, dari dulu, gue nggak akan merasakan persiapan sebagai sesuatu yang menyebalkan. Jangankan gue masalah latihan fisik, sekarang aja gue kalau misalnya mau travel, gue males banget packing. Rem to the pong. Biasanya, either gue jadi bawa baju kebanyakan, atau ada aja yang lupa gue bawa.

I wish gue bisa lebih disiplin bangun pagi, tidur, dan yang paling penting, makan. Ketidakdisiplinan gue dalam makan, membuat gaya makan gue jadi berantakan, dan terakhir gue medical check-up, gue dimarahin sama dokter gizi.

Semuanya dimulai dari bagaimana kebiasaan kita untuk mengelola waktu kita.

Kalian pernah nggak sih waktu SD kalau nggak salah, pelajaran apa gitu ya, disuruh buat jadwal pribadi? Gue masih ingat, itu gue tempel di mana-mana. Tapi dasar gue kayak nggak mau dikekang sama waktu, jadi, jadwal itu hanya sebatas bagian dari PR aja, bukan sesuatu yang gue terapkan di dalam keseharian gue. Sekarang, udah umur segini, gue baru ngerti kenapa dulu kita belajar begituan.

Gue sekarang melihat waktu dari perspektif yang berbeda. Gue nggak menyangka gue bisa sesibuk sekarang, dan gue juga tau kapasitas gue pribadi. Gue perlu sesuatu untuk melepaskan tekanan yang ada di dalam kepala gue. Walaupun gue udah di umur yang sekarang, gue masih terus menerus struggle dengan mendisiplinkan diri gue untuk mengerjakan apa yang harus gue kerjakan. Gue juga volunteering di gereja gue, yang seringkali, gue memerlukan waktu tambahan untuk menyendengkan telinga gue kepada orang-orang yang perlu untuk didengarkan. 

Tapi gue juga jadi benar-benar belajar mengenai esensi, bagaimana kita perlu orang lain dalam hidup kita. Semakin ke sini, gue semakin menyadari bahwa gue bukan manusia super yang bisa segalanya. Jadi yang gue lakukan adalah distribute the labor. Gue delegate the issue. Gue share the dos and the don'ts, dan gue memberikan kesempatan untuk yang ada di bawah gue, supaya bisa belajar. Gue menyadari dengan begitu, tugas gue jadi jauh lebih mudah. Gue juga nggak ngerti kenapa ada begitu banyak orang yang mau melakukan segala sesuatunya sendiri, padahal sebenarnya lebih baik kalau misalnya bisa distribute the work. 

Gue belajar untuk sibuk menjadi diri gue sendiri, memperbaiki diri gue sendiri, dan gak mau rempong dengan kelakuan orang lain, terutama orang-orang yang kerjanya cuman bisa ngomongin orang. I simply don't understand why there are people who love to watch things, instead of doing thing or even creating things. Bukan kah life is more meaningful when we create things, than watch things?

Let's enjoy the preparation to make our journey as fun as possible

Anyway, statement yang gue kasih ke ponakan gue membuat gue berpikir ulang sebelum mengeluh. Gue mungkin nggak ada lagi masa-masa di mana gue bisa jalan-jalan, atau sharing knowledge yang gue punya, ke depannya. Gue mungkin nggak ada lagi masa-masa di mana gue bisa menikmati weekend di rumah, atau nggak bisa nulis blog, atau apa pun. Thus, gue memilih untuk menikmati segala sesuatu yang datang ke gue, bersyukur akannya, dan memanfaatkannya to build all the fun that I need for this life-journey I'm in.

Happy enjoying life.

Trust me, there are lots of joy, when you well prepared.

ime'...

Thursday, August 31, 2017


My story of 'support system'...

Heyho!!

Akhirnya gue memutuskan untuk duduk dan diam, untuk menulis blog. Sebenarnya udah lama gue mau niatin nulis di blog. Tapi, tau nggak sih? Kadang kita terlalu terpaku dengan estetika menulis blog; kudu ada gambarnya misalnya. Bener sih, tapi di kasus gue, mikirin estetika terlalu banyak berdampak pada, gue nggak nulis-nulis blog. Oyoy deh...

Anyway...

Kali ini gue mau cerita tentang salah satu pengalaman gue dalam seminggu terakhir.

Oh iya, gue baru pindah kerja, udah mau sebulan. Kenapa gue pindah kerja, salah satu alasannya adalah karena sudah terlalu lama di tempat yang lama, dan gue sangat menginginkan perubahan. Jadi, gue memberanikan diri untuk keluar dari comfort zone gue, dan voila... akhirnya gue pindah juga. Pindah kerja itu bukan suatu keputusan yang mudah. Gue harus berpikir sangat lama, sebelum akhirnya gue memutuskan. 

Nah, di tempat baru ini, gue ketemu sama orang-orang ajaib, yang gue baru tau kalo mereka exist hahahah.... I learn a lot, walaupun belum sebulan gue kerja di tempat baru ini. Banyaknya sih ketawa-ketawa ya, tapi gue jadi senang juga. Setelah gue bekerja hampir bertahun-tahun lamanya sendirian, sekarang gue punya orang-orang yang gue bisa ketawa with, dengerin kekesalan mereka yang dibuat lawakan, dan setiap hari, yang ada gue ketawa terus. Gue nggak bisa bohong, ternyata gue lebih suka kalo bisa bersinergi dengan orang lain. Mungkin karena gue main basket dari SD, yang mengajarkan gue untuk kerja tim. Nggak ada senioritas, yang ada adalah tim; berapa pun gap umur kita. I can go fast by myself, but I can only go far together; konon, katanya African proverb.

Salah satu teman baru gue, beberapa hari yang lalu mendadak menyodorkan gue kertas dan bilang begini, "Bayangkan elo ada di laut luas, sendirian, di tengah sampan. Gambarkan 3 item yang elo perlukan, selama ada di posisi itu. Oh iya, gak ada pakaian juga." Jadi, gue gambar lah. Kira-kira gambarnya seperti yang di bawah ini.


Pemikiran gue padahal sederhana banget waktu ngegambar ini. Jelas gue takut hiu, jadi gue gak mau berenang. Itu udah pasti. Kedua, gue gak mau kedinginan. Tadinya gue gambar baju, tapi gue ganti jadi selimut. Selimut itu kan anget banget. Lagian, gue gak perlu terlalu gimana banget kalo gue ada di kondisi kayak begitu. Ketiga, gue jelas banget harus minum banyak supaya gak cranky, jadi gue kudu air minum yang banyak. Dan yang keempat, karena gue gak mau berenang, jadi gue pengen ada pistol SOS yang pelurunya gak pernah habis, supaya gue bisa memanggil siapa aja.

For me, semuanya itu logis banget and so real. Gambar gue, kalau dilihat dari sisi persyaratan, sebenarnya amat sangat menyalahi persyaratan. Lah, yang diminta 3, tapi gue gambar air galon yang segambreng-gambreng, dengan tutup berbentuk kayak cangkir. Menyalahi banget deh pokoknya. Tapi ketika temen gue ngasih tau gue, apa arti dari gambar gue itu, gue kaget sekaget-kagetnya. Dia bukannya protes karena gue gambar tidak sesuai dengan persyaratan yang dia bilang di awal (padahal dia tukang protes), tapi dia malah ketawa.

Dia bilang, menarik banget bahwa gue nggak terpikir untuk menggunakan kekuatan sendiri untuk keluar dari sampan itu. Sampan itu diibaratkan sebagai my own problem atau challenges atau apa pun juga. Gambar gue menunjukkan bahwa, gue akan tetap ada di dalam problem gue itu, dan tidak akan mengandalkan kekuatan gue sendiri untuk keluar dari problem gue. Dia bilang, gambar gue menunjukkan bahwa gue punya support system yang kuat banget. Gue tanya lah, maksudnya support system itu apa? Dia bilang ya friends, keluarga, and those related. Then I was silent. I felt something hit me hard. Entah karena gue kurang menyadarinya, thus, gue jadi tidak mensyukurinya.

Gue merasa bahwa saat ini gue nggak berada pada kondisi terbaik gue. Gue mungkin berada di masa yang paling nggak enak dalam hidup gue, yang harus gue jalani. Gue dikritisi dari cara gue memilih teman. Gue sampai gak ngerti, kenapa ada yang bisa terpukul hanya karena gue merasa gue gak cocok berteman dengan satu orang. Kenapa gue jadi pihak yang disalahkan, ketika gue harus menyaring teman-teman gue? Emangnya gue punya apa gitu ya? I'm only a celebrity in my own life.

Ketika gue mulai memasuki masa-masa gak enak ini, tiba-tiba one totally stranger (at least for me), oh 2 bahkan, told me that they support me in everything I decided. Even strangers were sent only to tell me that they support me? Gue kayak bingung, kenapa ada begitu banyak orang-orang yang support gue, tanpa gue pernah tau bahwa orang-orang seperti ini beneran exist. You'll never know how loved you are, until you fall in the deepest valley of life.

Gue sering banget bertanya sama Tuhan, where did I go wrong, etc. Tapi, sekarang gue sadar, bahwa ada keadaan-keadaan yang mungkin sangat nggak enak buat kita, tapi sengaja diadakan, supaya kita punya perspektif yang berbeda. Just when you think that no one is there for you, Tuhan itu selalu akan meyakinkan elo, betapa elo itu sangat disayang, by sending more people for you. He's also there for you, but you just have to believe that He's there.

Menurut gue, support system gue yang terkuat adalah Tuhan sendiri. Despite of gue sering banget lalai melakukan hal-hal yang rohani, tapi gue yakin banget kalau Tuhan selalu ada buat gue. He's basically my best and coolest Friend. Banyak banget yang gue bisa testify tentang kebaikan Tuhan, dalam kehidupan gue sehari-hari. Hal pertama yang diberikan Tuhan ke gue adalah waktu. Kedua, yang Dia berikan adalah kemampuan untuk mengampuni orang lain. Hal ketiga yang Dia berikan ke gue adalah memberikan gue lingkungan yang jauh dari negativitas, mengijinkan gue untuk berpikir lebih jernih. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Salah satu support system gue juga gerombolan hari Rabu malam yang hobinya nongkrong, berbagi cerita, dan ketawa-ketawa di satu bilangan kawasan Serpong. Mungkin gak banyak jumlahnya, tapi bagi gue, mereka adalah one of my best support system ever. Keluarga gue juga lucu-lucu kok. Hal yang kemudian gue sadari setelah statement temen gue itu adalah kebaikan Tuhan yang terbesar setelah pengorbananNya buat gue adalah dengan menghadirkan dan membuat gue menyadari tentang keberadaan orang-orang yang lucu-lucu ini di dalam hidup gue. 

Gue gak pernah tau kenapa support system gue bisa sekuat ini. I'm just trying to be myself, be vulnerable in front of my trust ones, dan live my life gratefully. Karena gue nggak tau apa lagi yang bisa gue buat. Gue lelah menjadi orang lain, gue lelah menjadi sok kuat, dan gue lelah hidup terus menerus mengeluh. Menurut gue, support system akan terbentuk dengan kuat ketika kita menyadari dan memutuskan untuk nggak ja'im, dan menjadi diri kita sendiri.

Gue berharap kita semua menyadari, bahwa kita adalah mahluk sosial, yang perlu orang lain. Tapi kita juga mahluk yang diciptakan oleh Pribadi yang jauh lebih besar daripada kita. Gue rasa, hanya dari situlah kita bisa membangun support system kita, hingga menjadi kuat. If there's one thing that I can brag of, I'm pretty sure that is the foundation of my support system, my best and coolest Friend; God.

Have a great life!

ime'...


Sunday, June 18, 2017


Kamu punya mimpi?

Heiho!!

Hari ini, gue pengen cerita soal mimpi. Gue punya mimpi; dan menurut gue, seorang yang hidup, pasti punya mimpi. Dulu, gue berpikir bahwa mimpi itu adalah sesuatu yang di awang-awang, dan nggak penting apakah tercapai atau nggak. Tapi sekarang, gue menyadari bahwa mimpi itu adalah sesuatu yang sudah seharusnya dan sudah sepantasnya kita gapai, bukan cuman sesuatu yang menjadi topik pembicaraan aja. 

Dulu waktu kuliah, kita dituntut untuk tau apa yang mau kita buat, apa yang kita punya; dan dari situ, baru kita akan men-design prosesnya. Itu yang selalu menjadi pola pikir gue setiap hari dari sejak kuliah: gue mau jadi apa, gue mau punya apa, gue mau menghasilkan apa. Hal kedua yang gue pikirkan: gue punya apa. Baru yang ketiga, gue harus gimana. Kalau gue pikir-pikir, memang seharusnya kan begitu, kita harus tau, kita maunya apa. Main basket juga begitu kan: gue pengen score sebanyak-banyaknya, gue punya tim dengan komposisi kemampuan yang berbeda-beda. Jadi, strategi atau pola yang mana yang harus gue pakai, akan menyesuaikan dengan kondisi gue.

Boleh dibilang tahun 2017 ini adalah tahun yang cukup menantang gue untuk keluar dari zona nyaman gue. Banyak perubahan-perubahan di mana gue harus melakukan penyesuaian untuk diri gue sendiri, ketimbang mengeluh terhadap perubahan-perubahan yang bersifat pasti ini. Hampir melewati setengah tahun 2017, gue rasa, gue cukup bisa bertahan. Banyak sekali keputusan yang harus gue ambil sendiri, karena gue tau, gue mau ke mana. 


Banyak orang berpikir bahwa mimpi adalah hal-hal yang sulit bahkan mustahil untuk dapat kita capai. Bagi gue, kalau belum dicoba, berarti itu mitos.

Tahun ini juga gue belajar tentang persistensi dalam mencapai apa yang kita mau atau cita-citakan. Nggak gampang, banyak banget momen di mana gue rasanya pengen menyerah. Tapi, di situ gue bersyukur punya teman-teman yang mungkin secara tidak sadar, mereka membantu gue untuk mendiversifikasi pemikiran gue, sehingga mampu mengaktifkan saraf-'enjoy your today, because it won't come for the second time' gue. Gue juga diajarin bahwa, segala sesuatunya akan berakhir dengan indah. Jadi kalau belum indah, berarti itu bukan akhir.

Tapi, sadar nggak sih kalian, bahwa ketika kita berjuang untuk menggapai mimpi kita, ada begitu banyak hal yang muncul entah dari depan atau dari samping, bahkan dari belakang kita, yang berusaha untuk menjauhkan kita dari jalan kita yang sebenarnya? Pernah juga nggak terpikirkan kalau saat berjuang menggapai mimpi, ada masa-masa di mana kita sama sekali nggak bisa bergerak, dan maunya antara duduk aja, atau tidur aja? Atau mungkin bisa bergerak, tapi kitanya yang nggak mau? Either karena merasa cape', bosan, marah, atau hal-hal lainnya. Tapi tahu nggak, kalau misalnya kita diam saja secara berkepanjangan, itu sebenarnya kita malah 'mematikan' diri kita sendiri?



Gue tadi baru posting sebuah lagu tentang mimpi, yang saat ini gue suka banget. Lagunya adalah soundtrack dari sebuah drama Korea. Buat gue, lagu itu membuat gue merasa kayak pisau yang menusuk ke dada kiri gue, diputar-putar, terus lukanya tersiram air lemon. Lemes, karena kayaknya itu menggambarkan gue yang sedang bingung, cape', kesal, merasa tertekan untuk menggapai sesuatu, tapi sekeliling gue gelap sangat. Gue kemudian merasa sesak, karena gelap, takut, dan bingung. Gue sadar, gue punya dua pilihan: merasa sesak dalam kegelapan ketidakpastian yang membuat gue nggak mau bergerak karena takut ada apa-apa, atau gue jalan aja terus, terlepas dari kegelapan yang ada di sekeliling gue, percaya bahwa pasti ada cahaya yang menunggu gue di depan. Mungkin gue tersandung, jatuh, dan harus berhenti. Tapi kalau pun gue harus berhenti, gue akan memilih berhenti sejenak saja dan beristirahat, terlepas dari kegelapan yang ada. Karena dengan berhenti sejenak, gue sebenarnya membiarkan diri gue mendapatkan tenaga baru.

Hidup kita adalah perjalanan. Sesekali akan melewati terowongan gelap yang terkesan tak berujung.

Memang lebih enak kalau misalnya kita melakukan perjalanan bersama dengan teman-teman yang memang memiliki pandangan yang sama dengan kita: satu visi dan satu tujuan. Karena, di tengah perjalanan yang banyak ketidakpastiannya, kita bisa saling menguatkan satu sama lain. Dalam setiap perjalanan gue, gue selalu merindukan adanya orang-orang seperti ini ada di sekeliling gue. Gue pun, berusaha untuk menjadi pendukung yang baik bagi orang-orang yang bervisi. Apalagi kalau visinya sama. Gue juga menyadari, bahwa sebagai manusia, kita adalah mahluk sosial yang juga membutuhkan orang lain. 


Kalau kalian sedang berupaya untuk mengejar mimpi kalian, visi kalian, pastikan kalian nggak menyerah, dan coba lah untuk membagi visi kalian dengan yang lain, terutama yang mengerti kalian. Memang tidak selamanya mereka ada untuk kita, tapi setidaknya, ada orang-orang yang berdoa agar kita baik-baik saja, dan selalu semangat dalam mengejar mimpi kita. 


"All of us have dreams. To achieve it, sometimes (probably even most of the time), it takes more than hard work and willingness. We can't be too careful either, as we will be afraid to try new things, that who knows, might be our small chance to find the right path. We might be desperate along the way, where we left with two choices: suffocated with our current condition and die, or keep moving forward through the current uncertainties because we believe that there is a bright light down this small path that we take. Both choices have risks; but life is full of risks, anyway. So, don't argue about the risks when you have to decide; rather, argue about where would you be after you take that risks, to decide. Would you be closer to your dreams or farther?"

Cemungud!!

ime'...

Tuesday, January 24, 2017


Cerita tentang sekolah...

Sekolah bagi gue adalah pengalaman terbaik yang pernah ada di hidup gue. Gue even sempat berada pada titik di mana gue nggak mau bekerja, karena gue suka sekolah. Gue bisa berpikir apa saja, dan kemudian mencobanya, gue punya banyak teman, banyak kegiatan, dan hari-hari kita dihiasi oleh mimpi, dan nggak terlalu khawatir dengan hari esok. Kalau uang bulanan belum nyampe', ada teman-teman yang selalu buka kos-kosan mereka untuk makan bareng, walaupun hanya sekedar mie instan. Kalau misalnya lagi sedih, mereka bisa ditemukan di tempat biasa nongkrong bareng: kalau nggak perpustakaan, ya lapangan basket, atau unit. Sekolah bagi gue, adalah pengalaman terbaik, dan gue akan sangat senang untuk mengulanginya kembali. 

Pandangan gue tentang sekolah pun sebenarnya terbawa ke dunia kerja. Gue merasa bahwa gue ini bekerja dan bermain, seperti di sekolah. Ada masa ujiannya juga sih, tapi masa ujian di kerjaan nggak ada periode-nya. Macam kuis dari Profesor yang jahilnya luar biasa; datang tak diundang, pulang nggak bilang-bilang (kapan kuis pernah pulang?). Mereka datang seenak perut aja, jadi kalau kerja, setiap hari adalah belajar. Waktu gue cerita tentang pandangan gue ini, ternyata, banyak orang yang iri sama gue, karena mereka nggak bisa bilang bahwa bekerja itu kayak bermain. Gue juga jadinya suka kesal kalau orang bilang gue terlalu sibuk dengan pekerjaan gue, atau terlalu overwhelmed dengan kerjaan gue. Padahal, gue simply suka bermain; dan bagi gue, bekerja itu adalah mirip seperti bermain. You meet people, ngobrol-ngobol, curhat, gosip, tukar pikiran, ngerjain PR sama-sama, supaya nanti kalau ujian (ditanya'in sama team leader misalnya), gue bisa jawab. And I guess, am really blessed with those facts.

Akhir-akhir ini gue banyak nonton drama Korea tentang sekolah; sesuatu yang tidak pernah gue pikirkan ketika gue sekolah dulu di SD, SMP, atau bahkan SMA, atau bahkan lagi kuliah. Pemikiran itu adalah you are so well in school, but how are you outside of school? Gue menemukan dari drama-drama itu, bahwa ternyata ada begitu banyak orang tua yang sangat ambisius dan kompetitif, menginginkan anak-anak mereka untuk masuk ke sekolah yang bukan cuman terbaik, tapi lebih dari yang terbaik. Gue juga mengalami hal itu, tapi gue nggak pernah disuruh orang tua gue. Gue mau masuk ke perguruan tinggi terbaik, semata-mata karena gue emang pengen. It was like my dream kali (walaupun ternyata mimpi itu belum tentu indah juga ya kalau sudah terealisasi...)... tapi memang hal terbesar yang gue nggak pernah bisa jawab adalah, kalau besar, gue mau jadi apa?
  


Gue masih ingat dulu waktu masih SMP atau SMA gitu ya, kita suka diminta untuk ngisi diary temen kita, yang isinya macam-macam, termasuk cita-cita. Gue juga ingat persis, bahwa gue tulis cita-cita gue itu banyaknya luar biasa, semuanya gue sebutin. At the end of the day, waktu gue reflect back, memang ternyata gue menjadi orang yang merupakan gabungan dari apa yang gue tuliskan; tidak full melakukan profesi tersebut, tapi ada aktivitas-aktivitas yang memang gue lakukan.

Hal lain yang gue temukan adalah orang tua yang menyerahkan anak-anak mereka ke sekolah dan lepas tangan terhadap pendidikan mereka di luar sekolah. Kalau misalnya kita mendapati anak-anak tersebut nakal, gurunya yang kita salahkan. Gue sebenarnya nggak setuju dengan konsep bahwa guru itu bertanggung jawab bagi kedewasaan anak-anak. Bagi gue, anak-anak itu adalah tugas dan tanggung jawab orang tua. Mungkin, gue juga termasuk salah satu anak yang seperti itu ya. Pulang ke rumah, orang tua gue lagi kerja, awalnya nggak terlalu terasa, karena ya itu, gue anaknya suka main. Tapi, paska nyokap gue meninggal, kebutuhan akan orang tua itu semakin terasa. Gue jadi berpikir mengenai suatu pemikiran yang bilang bahwa anak itu paling butuh orang tua ketika masih bayi, tapi menurut gue, seorang anak itu membutuhkan orang tua mereka di sepanjang masa. Gue menyadari bahwa jaman sekarang, bisa sangat berbeda. Orang tua harus bekerja lebih keras lagi untuk mendengarkan dan mengarahkan anak-anaknya.

Sepertinya tahun lalu, gue mendapat cerita tentang seorang remaja putri di SMA, yang sampai masuk rumah sakit, hanya karena dia disirikin sama temannya yang lain perihal pacar. Jaman gue dulu, salah seorang yang gue kenal sampai meninggal karena ketusuk akibat tawuran. Teman gue juga ada yang nge-drugs waktu masih SMP. I have so many stories tentang kehidupan remaja baik di jaman gue dulu masih duduk di bangku sekolah, sampai sekarang ketika gue mendengar cerita-cerita dari banyak orang. What went wrong? Apakah tergantung dari jenis permainan yang kita mainkan? Gue dulu main karet dan bekel, dan congklak. Mungkin anak sekarang main yang lain, game online misalnya. Gue juga punya satu teman yang adalah orang tua, nangis dan kecewa karena anaknya ternyata terjerat dalam game online, yang ternyata bukan game biasa.

Beberapa film tentang kehidupan remaja yang gue tonton, memberikan gue insight bahwa kehidupan remaja itu adalah fase yang paling krusial dalam hidup masing-masing orang, sehingga sebenarnya merupakan fase yang paling berat. Apa yang lo tonton sebagai remaja? Informasi apa yang masuk ke kepala elo waktu remaja? How did you use your time ketika lo remaja? Itu yang sebenarnya menjadi buah dari kehidupan lo di masa sekarang. Somehow, gue merasa menjadi anak yang sangat beruntung memiliki orang tua yang cukup; tidak terlalu kaya dan tidak juga berkekurangan. Walaupun gue sempat kerja sambilan waktu kuliah untuk biaya gue juga, tapi, setidaknya gue masih cukup.

Gue juga bukan anak yang jalannya lurus; kadang gue belok, kadang gue jatuh, kadang gue salah arah, frustrasi, dan nyasar ke dalam kegelapan. Tapi, di situ gue menyadari, itu lah gunanya teman; dan gue baru menyadari, bahwa many times, friends are closer than a brother; membuat gue jadi bertanya, kalau gitu, mana yang lebih berharga, pertemanan, atau kekeluargaan? A wise man say bahwa orang yang bisa menyakiti elo paling dalam itu adalah orang yang paling dekat dengan elo. Jadi, wajar banget kalau misalnya ada anggota keluarga lo yang menyakiti hati elo. Tapi, banyak saat di mana when your family disappoints you, you still have friends who will carry you through. Gue rasa, sama juga kebalikannya. 

 

Gue merasa gue banyak teman, walaupun gue nggak banyak curhat sama orang. Nggak banyak curhat itu sebenarnya karena gue menyadari bahwa masalah yang gue hadapi, sebenarnya nggak banyak berubahnya. Salah seorang teman baik gue bilang bahwa kalau masalah kita nggak berubah, maka sebenarnya, hidup kita juga nggak berubah. Why do you have to exaggerate things yang sebenarnya selalu ada berulang kali? Haven't you learned? Gue juga merasa bahwa teman yang paling baik itu adalah teman yang bisa mengkritik dan memberikan gue masukan, apa adanya. Bukannya tanpa rasa pedih ketika menegur gue, dia sakit juga ketika dia memberikan kritikan yang menyakiti gue, tapi dia mau melakukan hal itu supaya gue bisa jalan di jalan yang seharusnya dan selayaknya. 

Ah... rasanya saya lebih suka dengan cerita hubungan persahabatan ketimbang dengan hubungan percintaan. Makanya saya selalu suka hubungan percintaan yang berawal dari persahabatan, dan terus bisa menjaga persahabatan itu. Lucky I'm in love with my best friend, I think its beauty is really true ...

Salah satu drama yang gue baru selesai nonton juga nggak bicara tentang percintaan, tapi tentang persahabatan. Sahabat means trust, pain, sharing, caring, loving, and everything in between. Gue juga belajar bahwa persahabatan itu tidak terjadi secara otomatis, tapi dia perlu effort. Effort untuk mengerti orang tersebut, effort untuk kerja fisik, tahan mental, for something that is thicker than blood. Salah satu lagu yang gue suka dari Project Pop adalah 'Ingatlah Hari Ini'. Gue bisa mendengarkan lagu itu berkali-kali, berulang-ulang, terutama di bagian: 'Kamu sangat berarti, istimewa di hati, slamanya rasa ini. Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini...'.

I cannot imagine what my life would be tanpa teman-teman gue; baik yang ada di Indonesia yang tercinta ini, maupun yang ada di internasional. Mungkin gue jadi laugh-less, nggak hore, nggak asik, nggak cihui, nggak merasa aman dan selalu menganggap curiga akan orang lain. Gue tumbuh memiliki banyak teman, yang selalu protecting me, walaupun mereka nakalnya luar biasa, mereka nggak pernah mengijinkan gue nakal. 

Kalau kembali ke cerita sekolah, maka gue akan bilang hal ini: sekolah itu bukan masalah  belajar, tapi sekolah itu adalah masalah bergaul dan bersosialisasi. Kakak ipar gue pernah bilang begini, kenapa orang harus sekolah, kalau misalnya kita bisa belajar dari internet? Dan kemudian, dia menjawab sendiri (mungkin karena tau gue gak bisa jawab yak), karena hanya di sekolah, kita berinteraksi dengan orang lain, mencari jawaban bersama dengan orang lain, berbagi, bersosialisasi, dan bekerja sama. Gue rasa, kita jadi kehilangan the true meaning of school, ketika nilai menjadi takaran yang melebihi kemampuan kita dalam bersosialisasi, atau ambisi kita untuk dapat masuk ke perguruan tinggi tertentu. Sama seperti yang ada di drama-drama Korea tentang sekolah yang gue tonton. Sekolah menjadi tidak masuk akal ketika kita hanya memikirkan angka dan prestasi. 

Bagi gue, orang yang kepintarannya hanya slightly di atas rata-rata (tetep nggak mau bilang biasa aja, hahahaha...), angka dan prestasi itu tetap bisa diperoleh ketika kita juga banyak bermain kok. Kalian nggak percaya? Gue adalah buktinya.

Makanya, bergaul lah... itu sehat buat jiwa kita dari remaja sampai kita tua nanti. 

Percayalah apa yang dikatakan sayah... :)

ime'...

Tuesday, January 03, 2017


Cerita tentang Umur 18

Heiho!

Selamat tahun baru 2017 untuk kalian semua. Semoga di tahun 2017 ini, gue bisa memberikan begitu banyak cerita yang menyenangkan untuk dibaca dan dicerna oleh kita semua, supaya kita bisa menjadi orang yang mau berbagi cerita satu sama lain. FYI, gue masih dalam masa-masa liburan. Jadi, mungkin akan banyak nulis sana-nulis sini. Tapi, mungkin juga nggak, karena either gue lagi pengen baca buku, atau ya nonton film, yang kesempatannya akan sangat jarang begitu liburan ini berakhir.

Selama liburan akhir tahun 2016 ini, gue banyak banget punya waktu untuk berpikir; bahkan gue sempat merasa bahwa, gue siap banget untuk menghadapi tahun 2017; excited gitu. Entah kenapa. Sepertinya, gue tau apa yang harus gue lakukan dan gue tau apa yang gue mau. Selama lebih dari 30 tahun gue hidup, rasanya ini baru pertama kalinya gue melihat cahaya yang agak terang begini. However, gue juga tau bahwa jalannya ke sana, nggak akan mudah. Gue masih harus terus meng-endure perjalanan ini.




Tahun 2016 menurut gue adalah sebuah tahun yang menarik, di mana gue diperkenalkan dengan yang namanya the joy of watching movie at home, atau bahkan nonton TV; dan gue diperkenalkan dengan drama Korea. Hebatnya, gue sangat menikmati menonton drama Korea, sampai-sampai hampir setiap gue selesai nonton satu seri drama Korea, gue akan mencari lagunya di iTunes, kalau ketemu ya gue beli. How crazy is that?

Liburan kali ini, gue menyelesaikan tiga seri drama Korea yang udah lama banget; gue nonton online, dan layanannya itu pakai iklan pula. Lucunya, ketiga drama Korea itu cerita tentang kehidupan anak-anak SMA, sekitar umur 18 tahun; umur yang (gue baru nyadar) adalah umur yang sangat rentan. Umumnya, anak-anak di usia ini menyadari bahwa mau jadi apa mereka. Ada yang punya impian secara natural, ada yang impiannya karena paksaan orang tua (entah mau jadi model, artis, dokter, atau apa pun), ada yang tidak menemukan mimpinya; seems like, umur 18 adalah umur yang rentan bagi setiap orang. Pada umumnya, remaja di umur segini juga mengalami kehidupan yang 'sulit', antara susah komunikasi sama orang tua (apalagi kalau orang tua-nya lebih fokus sama pekerjaan, karena berusaha cari uang buat anak-anaknya) atau bahkan karena tiba-tiba mereka menyadari bahwa mengambil bagian sebagai anggota keluarga, itu artinya mengambil tanggung jawab. Masalah keuangan keluarga, menjaga adik-adik, menimbang omongan orang tentang reputasi orang tua atau bahkan anggota keluarga yang lain, you name it. Mereka, remaja umur 18 tahun ini, harus menanggung itu semua. Lucunya, kebanyakan orang tua tidak menyadari akan hal ini, dan selalu berpikir bahwa mereka sudah besar, sehingga udah nggak perlu lagi ditanya'in. Bahkan mungkin, mereka dianggap annoying; karena mereka akan banyak protes, buat susah orang tua, dan orang dewasa akan selalu bilang, "Itu urusan orang dewasa, kamu diam dan terima aja. Orang dewasa lebih tau apa yang baik buat kamu." Pertanyaan gue kemudian, is that true?




Gue kemudian merefleksikan diri gue di umur segitu. Seingat gue, ketika gue berumur 18 tahun, gue udah kuliah. Tapi, gue juga menyadari bahwa waktu gue SMA dan kuliah, hidup gue nggak semudah anak-anak pada umumnya, terutama dibandingkan dengan mereka yang super tajir dan punya orang tua lengkap. Gue harus menentukan apakah gue mau menjadi insinyur atau gue mau menjadi atlit. Kedua jalan itu nggak ada yang mudah buat gue. I had to put a lot of efforts di dalam menjalani keduanya. Gue juga belajar bahwa menjalani keduanya dengan setengah hati, tidak akan membawa gue kemana-mana. Pada dasarnya, gue suka bermain. Bahkan saat belajar pun, gue bermain. I'm simply a person yang suka untuk menikmati segala sesuatunya; bahkan sampai sekarang.




Waktu gue kuliah S1 dulu, gue harus membagi waktu gue antara kuliah, belajar, ngerjain tugas, menjalankan tanggung jawab gue di gereja, menjalankan tanggung jawab gue untuk mendengarkan orang lain, menjalin hubungan dengan orang lain, gue sempat kerja juga sebagai guru les privat, main basket, dan tentu saja makan. Gue menikmati banget kehidupan di kos. Gue nggak perlu mikirin banyak hal sebenarnya, karena semua yang gue jalani adalah hal-hal yang gue sukai. Gue banyak ketawa, and I really think that I love my life; walaupun pada saat sakit hati. Hal paling terberat yang harus gue lalui adalah ketika gue harus jaga bokap gue yang di-opname karena stroke di akhir tahun gue kuliah S1. Dulu, untuk lulus, ada yang namanya ujian kompre. Itu pelajaran mulai dari tingkat 1 sampai tingkat terakhir diuji. Pada saat gue harus mempersiapkan diri untuk ujian kompre, gue harus tinggal di rumah sakit selama beberapa hari, untuk nungguin bokap gue. It was the most difficult time for me, as if the world has left me alone. Gue juga jujur nggak tau gimana caranya gue overcome itu semua. I just did.

Salah satu film Korea yang gue tonton bilang begini, "Pada umumnya, semakin seseorang beranjak dewasa, semakin berkurang hal-hal yang bisa mereka tertawakan..." then I thought to myself, apakah gue sekarang jadi orang yang tidak dewasa ketika gue tidak bisa tertawa seperti biasanya gue tertawa? Apakah quote itu benar adanya? Apa benar nggak ada yang bisa kita lakukan untuk menghindari hal tersebut? Gue kemudian mengambil kesimpulan bahwa hal itu nggak benar. Kalau ada orang dewasa yang kemudian merasa dirinya kurang tertawa, gue rasa karena mereka nggak memiliki lingkungan yang tepat, atau pertemanan yang tepat, yang bisa membuat mereka tertawa. Gue setuju bahwa kita harus semakin dewasa, tapi gue nggak setuju kalau kita harus mengurangi tawa. Menjadi dewasa artinya mengambil tanggung jawab yang lebih, tapi tidak pernah dibilang bahwa menjadi dewasa harus mengurangi tawa.

Gue jadi berpikir, gimana ya anak-anak remaja yang dari umur muda kemudian jadi atlit atau artis? Bangun tidur yang mereka lihat lapangan. Gue punya beberapa teman atlit, dan yang gue mengerti adalah prestasi mereka sebagai atlit hanya berjaya pada saat SMA, tapi pas kuliah, banyak banget yang drop. Kenapa? Gue nggak tau. Apakah karena kecintaan mereka terhadap cabang olahraga yang mereka tekuni, ternyata hanya cinta buta, yang memberikan bias? Gue jadi berpikir bahwa, mungkin memang tepat juga ketika gue memutuskan untuk banyakin belajar ketimbang ngebanyakin main basket. Gue bisa main basket sebagai selingan. Gimana dengan artis? Gue rasa sama juga. Semuanya akan teruji pada saat kita berada di umur 18. 

Salah satu drama korea yang gue tonton memperlihatkan artis-artis muda, di kisaran umur 18 tahun, yang waktu mendapatkan debut pertama kalinya, ada berbagai macam reaksi. Ada yang super excited, tapi kemudian nggak bertahan lama, ada yang cool, terima aja dan deal dengan kesusahannya nanti; tipe yang ini, bisa endure ketenarannya hingga lepas sekolah. Ada film lainnya yang cerita tentang kehidupan atlit berenang. Ini juga sama, masih SMA udah kompetisi di sana-sini, yang akhirnya dia harus bolos cukup banyak. Karena kecintaannya dari kecil, dia nggak bisa lepas dari berenang.

Menurut kalian, apakah umur 18 sudah cukup matang untuk mengambil keputusan, mengatur jadwal kesenangan dan perjuangan karir, apakah mereka benar-benar sudah cukup dewasa untuk ditinggalkan sendirian? Gue berkesimpulan bahwa umur 18 adalah umur yang sangat rentan dengan pengambilan keputusan, menikmati masa tumbuh yang normal, untuk dapat mengambil keputusan yang lebih baik di masa depan. Apa yang dipelajari saat umur 18-ish akan menentukan jadi orang seperti apa kita. Siapa teman-teman yang kita pilih untuk ada di dekat kita, itu juga akan sangat menentukan. Aneh, kenapa gue baru terpikirkan tentang hal itu sekarang, saat gue udah umur 30-ish.




Gue nggak tau bagaimana kondisi orang-orang saat ini yang sudah melewati masa-masa 18 tahunnya. Tapi yang jelas, kita nggak perlu mengulang masa-masa kita di umur 18 tahun, yang mungkin ingin kita putar kembali. Gue punya prinsip bahwa lebih baik kita semua, termasuk yang sedang atau menjelang umur 18 tahun, untuk menikmati keberadaan diri kita sekarang, tanpa melepaskan pandangan kita dari masa depan yang kita inginkan, sambil melepaskan masa lalu kita. Apa yang sudah berlalu, tidak bisa kita ulang, yang kita bisa adalah perbaikan. Untuk kalian yang di umur 18 tahun, nikmati lah. Itu tidak akan bisa kembali lagi. Temukan teman-teman yang membangun, dan bukan teman-teman yang dipicu oleh kekuatan dirinya sendiri.




Bagi gue, hidup itu seperti membangun rumah. Gue membangunnya dengan value, membangunnya bersama-sama dengan teman-teman gue, dan mendekorasinya sesuai dengan pengetahuan dan hikmat yang gue peroleh dari bergaul dengan teman-teman gue. Mungkin dekorasinya tidak sempurna, tapi yang pasti adalah gue membangunnya sebagaimana yang gue mau, dan bisa menjadi tempat persinggahan bagi orang-orang yang membutuhkannya.

ime'...

PS: percaya lah, gue juga nggak tau kenapa gue nulis ini.

Labels: , ,

Saturday, December 31, 2016


Sweet 2016 for a brighter 2017

Menjelang akhir tahun 2016, gue kembali reflect ke belakang. Tumben banget ya, setelah bertahun-tahun. Dulu, jamannya gue rajin, gue akan menghabiskan akhir tahun gue menuliskan semua cerita dalam setahun yang menurut gue itu adalah suatu momen yang tidak bisa gue tukarkan dengan apa pun, dan tidak bisa gue ulang. Tulisan itu kemudian gue kirimkan ke teman-teman gue yang terdekat, so they got to know me a bit better. Gue kemudian menemukan bahwa gue nggak punya banyak waktu lagi untuk menuliskan cerita-cerita itu, dan gue berhenti. Kali ini, gue berusaha untuk menuangkannya dalam blog.

Satu hal yang gue highlight di tahun ini adalah how to release stress dan bagaimana membangun jembatan. Gue bukan lah orang yang mudah untuk ditangani atau bahkan dipengaruhi. Tapi, gue orang yang mudah mendeteksi siapa yang perlu gue dengar dan siapa yang perlu gue turuti. Kealamian gue yang seperti itu nggak jarang membuat gue terbentur masalah, dan gue jadinya mengalokasikan cukup banyak tenaga dan pikiran untuk memikirkan masalah itu. Gue kemudian diperkenalkan sama beberapa drama korea, yang kemudian gue tonton, and I became a fan of it. Bahkan, gue sampai men-download lagu-lagu soundtrack-nya di iTunes. I like the feeling ketika gue nonton dan ketika gue dengarkan lagu-lagu soundtrack-nya, walaupun sering banget gue nggak ngerti. I always feel full of love and spirit setelah mendengar atau menonton serial-serial drama Korea. I don't know why. Gue jadi berpikir bahwa ada dunia lain yang gue nggak tau, dan kemungkinan besar, dunia itu jauh lebih parah dan jahat dari dunia di mana gue berada. Walau demikian, selalu ada cara untuk overcome semua itu. Itu, gue belajar dari drama Korea. I wonder kenapa gue nggak punya perasaan yang sama dengan sinetron-sinetron Indonesia ya?

Di tahun ini juga, gue merasa punya banyak energi dan kurang tergali. Gue merasa dibatasi oleh begitu banyak tembok di dalam kehidupan gue, dan jadinya banyak orang yang mengatur gue. Tembok-tembok itu bukan hanya politik 'pejabat', tapi juga financing, waktu, dan derajat kelelahan bin kemalasan. Padahal, gue diajarkan untuk memiliki kemauan bebas; bebas untuk berekspresi dan berkarya, tanpa harus memikirkan (terutama) isi kantong gue. 

Gue dibesarkan sebagai pemain basket, yang harus selalu bisa membaca lawan, merancang strategi, dan meyakinkan anggota tim lainnya, bahwa kita, sebagai tim, bisa melawan mereka. Lucunya, gue malah jauh sekali dari kehidupan tim seperti itu. Rasanya ada yang janggal, dan rasanya politik sudah mulai bermain apakah gue suka atau tidak. I got into the world yang sulit untuk bekerja secara tim, dan selalu ingin menjadi lebih baik dari teman-teman satu tim. Kompetisi yang ditimbulkan secara tidak sadar oleh masyarakat saat ini, juga menjadi tembok untuk gue bisa berkarya.

However, gue cuman bisa berpikir dalam diri gue sendiri, bahwa masih banyak hal yang sebenarnya bisa gue pelajari dan kerjakan, tanpa harus terpengaruh dengan sikut sana dan sikut sini. Gue juga belajar bahwa walaupun gue nggak punya duit, but as long as it is doable, so why not?

Hal lain yang gue coba lakukan di tahun 2016 adalah setidaknya seminggu sekali gue harus bisa ketemu dengan teman lama. Wow... yang ini, susahnya minta ampun. Antara gue yang nggak nemu waktu gue, atau ya memang teman-teman gue nggak bisa. Tapi, gue udah bisa get in touch dengan teman di Belanda, teman sebangku di SMA, temen-temen gym 6-7 tahun yang lalu, dan teman-teman backpacking gue. Asli, ini menyenangkan banget. However, I know that I need to work on it better. Harusnya, gue bisa memelihara pertemanan gue dengan yang lain. Gue juga masih belajar di dalam yang namanya pertemanan. Gue menyadari bahwa mendapat teman baru itu jauh lebih mudah ketimbang mempertahankan pertemanan yang lo punya secara sengaja. 

Dari semua yang di atas, gue cuman punya pemikiran ini: ada begitu banyak hal yang terjadi dan harus dicari, bisa dipelajari, dan betapa kecilnya kita dibandingkan dengan dunia ini. Tapi kenapa orang bisa begitu sombong dan arogan pada saat mereka membeberkan pengalaman mereka di depan orang lain? Bukan kah lebih berharga pertemanan atau persahabatan ketimbang prestasi? Dan yang lain lagi, apakah pertemanan itu hanya sebatas dari follower di instagram, facebook, path, atau yang lain-lain? Seberapa banyak grup whatsapp yang kita punya? But for me, friendship is beyond that. Lo nggak bisa mengajarkan orang lain tentang bagaimana caranya berteman; yang bisa lo lakukan adalah ya menjalani hidup bersama dengan orang lain, yang lo sebut dengan 'teman'.




Tahun 2017 sudah menunggu di depan pintu. Gue memutuskan untuk gue menutup semua cerita gue di tahun 2016, dan membiarkan itu semua menjadi kenangan yang terindah. Gue mungkin nggak akan bisa travel sebanyak gue travel di tahun 2016, tapi gue akan selalu ingat bahwa gue pernah ada di negara-negara yang sebelumnya gue tidak pernah pikirkan. Gue juga memutuskan untuk me-revive blog gue, supaya gue punya begitu banyak pengalaman untuk menulis. At the end of the day, yang gue inginkan adalah untuk bisa mengeluarkan publikasi demi publikasi; apakah itu artikel biasa, paper, report, apa pun. 

Ada banyak hal yang menurut gue belum bisa gue lakukan di tahun 2016. Gue tentu saja belum bisa menjadi orang yang disiplin; either gue punya banyak hal yang gue harus kerjakan, gue nggak punya waktu, gue pengen tidur, gue pengen nonton film Korea, atau yang lainnya. Gue cuman berharap, gue bisa make use of 2017 dengan lebih baik, setelah bercermin dari apa yang sudah terjadi di tahun 2016.

I found my 2016 is sweet, and I believe that my 2017 will be bright. 

Memang kita selalu tidak puas dengan apa yang terjadi di dalam hidup kita. Tapi, gue yakin, giving our best is the only measures untuk kita bisa menikmati hidup kita. Atau nggak?

Have a great new year, people. Expectant!!

ime'...

Wednesday, December 28, 2016


Ada apa dengan bully?

Hellow yellow!

Pertama-tama, selamat Natal untuk yang merayakannya, dan selamat merenung untuk memasuki tahun 2017 yang tinggal sebentar lagi.

Di liburan ini, gue mengambil waktu untuk nonton banyak banget film. Gue nonton film Jepang 2 seasons, dan tadi gue baru selesai nonton sebuah film Korea, yang menginspirasi gue untuk nulis postingan ini. Film Korea yang baru selesai gue tonton dapat rating 9.4 di Viki (bener ya namanya itu?), dan membuat gue agak susah bergerak dari tempat duduk gue lah ya. 

Film ini cerita tentang dunia per-bully-an, yang impactnya itu bahkan sampai ke bunuh diri, dan juga kematian. I seriously like the story line, dan film ini membuat gue berpikir panjang. Salah satu indikator gue menilai film adalah seberapa dalam impact film tersebut pada gue. Apakah melalui salah satu kalimatnya, atau memang story line-nya yang inspiring. Film ini juga menceritakan betapa besarnya pengaruh sekeliling elo, untuk bisa menjadi orang yang dibully, membully, atau berjuang melawan bully. Dampak dari keluarga juga sangat tinggi, yang juga diperlihatkan di drama ini. Di drama ini bahkan memperlihatkan dampak dari keluarga yang tidak perduli pada anaknya (bahkan menganggap anaknya adalah orang gila), yang tentu saja tidak sehat. Dan tentunya, gue berharap, masih banyak guru-guru yang mau berjuang melawan perbullyan ini, seperti yang ditampilkan di film ini juga.


Bullying itu seperti daun yang berguguran; ia menggugurkan percaya diri




Menurut salah satu website yang gue lihat, www.stopbullying.gov , definisi dari bullying adalah unwanted, aggressive behavior among school aged children that involves a real or perceived power imbalance. Gue, terus terang, nggak ngerti kenapa orang membully orang lain. Kesannya kayak nggak ada kerjaan banget, gitu. Gue cuman berpikir bahwa orang yang membully itu nggak ada kerjaan, nggak punya teman, dan nggak punya kehidupan.

Film ini juga mengajarkan pada gue, bahwa setiap orang itu memiliki desire, keinginan, untuk diterima oleh orang lain; apa pun latar belakang mereka. Kebanyakan orang akan melakukan segala cara untuk bisa diterima oleh orang lain, apalagi kalau dia orang kaya. Cara-cara yang biasa dilakukan adalah dengan menggunakan uang mereka, menggunakan kekuasaan mereka, melalui ketakutan orang lain, pokoknya melalui berbagai macam cara. 

Gue tau beberapa orang di dalam hidup gue yang berusaha untuk diterima dengan uang: entah 'hobby'-nya traktir makan, atau apa pun. Mereka nggak salah sih... tapi, kalau nggak punya uang, terus mau gimana? Gimana caranya orang bisa mempertahankan hubungan mereka, di mana uang itu merupakan sumber daya yang tidak terbarukan (dengan anggapan bahwa laju pengeluaran kita jauh lebih cepat dari penerimaan kita). 

Gue juga nggak ngerti sih, kenapa gue concern banget soal bully-membully ini. Tapi, yang jelas, gue nggak pernah bisa melupakan tangisan keponakan gue beberapa waktu yang lalu waktu dia masih SD. Dia nangis sepulang sekolah, sangking dahsyatnya tangisannya dia, gue nggak ngerti dia ngomong apaan waktu itu. Tapi yang gue sadari selanjutnya adalah gue end up peluk dia, saying bahwa he's not what pembully dia katakan akan diri dia. Can you imagine, anak SD, udah di-bully? Pelajaran mental sedahsyat apa lagi yang harus mereka hadapi di usia dini?
 
Gue juga yakin, bahwa praktek bully membully ini nggak hanya berlaku untuk anak kecil, tapi juga untuk orang dewasa, di kantor. Why? Karena gue juga mendengar beberapa kali, ada temen gue yang merasa unwanted di kantornya, like, the whole kantor gitu nggak mau terima dia. Dia akhirnya stress berat, dan memutuskan untuk keluar dari kantornya. Begitu banyak hal negatif yang dia dapatkan, yang mungkin tidak bisa membuat dia bertahan selama yang diinginkan.

I seriously thought deeply soal ini. Gue kadang mikir, kenapa ya kalo' sebel sama orang harus gitu-gitu amat? Apa nggak buang-buang waktu aja ya? Why do you want to think about others' life when your own life is so difficult to manage? Gue juga pernah kesal sama orang, benci sama orang, tapi kayaknya nggak gitu-gitu banget sih.... It's too much menurut gue.

Gue jadi ingat salah satu komunitas di mana gue berada. Awalnya cuman ngetawain satu orang aja, tapi kemudian jadi viral untuk semua orang. Dan rasanya, setiap pertemuan kok ya jadi satu ajang ngetawain orang ini sampai sekarang. Padahal sudah berkali-kali gue bilang, bahwa ngetawain orang bisa membuat orang tersebut jadi nggak mau mengutarakan pendapat dia; dan pada saat hal itu terjadi, tidak ada lagi yang namanya keterbukaan. Sama bukan? Bully juga akan end up dengan hal itu?

Gue pun mungkin bukan contoh yang sempurna dalam masalah bully-membully. Tapi bagi gue, sedapat mungkin gue ingin menghormati dan mendengar apa yang menjadi pendapat orang lain. Karena gue sendiri mengalami masa-masa di mana mengutarakan pendapat itu adalah hal yang paling sulit dalam hidup gue. Gue pun tidak tumbuh tanpa perjuangan; gue tumbuh dengan perjuangan yang cukup besar menurut gue. Gue pun nggak punya rumus yang baku atau mantra ajaib yang bisa membuat gue overcome semua masalah pertumbuhan gue; yet, gue merasa bahwa, at the end of the day, orang akan bosan dengan kehidupan yang begitu-begitu saja, apalagi kalau mereka selalu berlindung di bawah ketakutan.

Menurut gue, bully mem-bully ini terjadi saat terjadi hal-hal ini: (i) Dari sisi pembully: merasa dirinya paling kuat dan berkuasa. Mungkin ini dialami sama anak tunggal yang dimanja sangat sama orang tuanya. Apalagi kalau orang tuanya selalu menuruti keinginan anaknya; (ii) Dari sisi yang dibully: antara takut melawan, atau memang karena sudah dimarginalkan di awal. Having said that, harusnya ada intervensi-intervensi yang relevan di dua pihak. 

Alone does not always mean lonely


Guru bagi gue bukan lah penanggung jawab 100% dari ini semua. Seharusnya, orang tua yang bisa mendidik anak mereka untuk nggak jadi orang yang selalu merasa superior, atau minder. I'm not a parent of any kids. Tapi yang jelas, gue jadi melihat peran orang tua yang semakin penting seiring dengan berjalannya waktu. Dan bukan kah saat ini banyak sekali orang tua yang 'menitipkan' anaknya di bawah care dari orang lain? Termasuk guru?

Gue merasa beruntung, lahir di jaman yang masih tergolong sulit, saat di mana komunikasi masih minim, dan kami tidak bisa di-reach any time. Dengan fasilitas yang seperti itu, gue belajar untuk melihat bahwa dunia itu tidak dengan cara yang instan. Karena dunia ini tidak terjadi dengan cara yang instan, ada yang mengerjakannya hari demi hari. Artinya, pertemanan juga bukan lah sesuatu yang bisa diperoleh secara instan; you really have to work on it. Gue tidak pernah diajarkan untuk menjalin pertemanan dengan menggunakan uang atau pun kuasa. Gue berteman simply karena kita punya value yang sama, dan kita punya rasa hormat satu dengan yang lainnya tentang bagaimana memandang hidup. Tidak semuanya yang dianut oleh yang satu, harus dianut oleh yang lain. Itu lah yang menurut gue menjadi sangat berharga.

Well, cerita perbullyan gue mungkin masih panjang. Gue juga belum punya ilmu yang cukup untuk mengerti soal dunia perbullyan. Tapi satu hal yang gue tahu, gue berharap gue bisa merespon perbullyan dengan baik dan benar, supaya gue benar-benar bisa menempatkan diri di tengah-tengah dunia ini.

ime'...

Labels: