world of ime tidung new

Sunday, December 06, 2009


Sumatera Barat: Paket Duo Keindahan Indonesia

Haloooooo dunia maya!!! Apa kabar???? Pastinya kabar baik :) In any kind of situations, gue yakin, pasti ada hal baik yang bisa diambil, iya nggak?

Well, anyway, gue mau cerita nih, tentang liburan gue yang baru aja gue jalanin seminggu yang lalu. Kali ini, gue pergi ke Sumatera Barat. Kenapa gue bilangnya ke Sumatera Barat? Kenapa nggak bilang ke Padang aja? Karena emang, gue di sana pergi ke banyak tempat, yang beberapa jauh dari Padang. Jadi, gue pikir, mendingan gue bilang gue pergi ke Sumatera Barat aja, biar jangkauannya lebih luas *kayaknya kok gue pernah denger tagline ini yah?*

Gue ke Sumatera Barat tanggal 24 November 2009 lalu dan kembali ke Jakarta tanggal 28 November 2009. You know what? Gue butuh waktu 5 hari, cuman untuk upload semua foto-foto yang gue ambil disana. Asli, Sumatera Barat itu keren banget!!! Udah gitu, sama-sama dapet wisata di dua moda-nya: darat-wise sama laut-wise. Sayangnya, waktu gue ke sana, gue nggak sempet mengunjungi begitu banyak pulau yang ada. Kesempatan lain kalo' gue dikasih ke sana, terutama untuk liburan, gue pengen banget eksplor pulau-pulaunya.

Berikut ini gue kasih itinerary gue selama di Sumatera Barat. Kemarin sih, gue jadinya nyewa mobil seharga Rp. 500.000 per hari, lengkap dengan supir dan ongkos nginep-nginep dia, plus bensin. Supirnya juga jagoan; dia tau jalan kemana aja, jadinya, gue sama temen-temen gue nggak usah repot.

Hari pertama: berhubung nyampe' Padangnya udah agak sorean (sekitar stengah empatan), gue dan travelmates gue memutuskan untuk berkeliling Padang sampe' malem. Hotel yang kami tempati juga deket banget sama Pantai Padang, makes everything simpler. Kita juga sempet liat beberapa hotel ternama yang hancur akibat gempa Sumatera Barat kemarin, yang kebetulan juga terletak nggak jauh dari hotel yang kami tempati.


Hari 2: inilah hari dimana kami memulai perjalanan kami ke Bukittinggi. Sebelum mencapai Bukittinggi, kami melewati lembah Anai, dimana terdapat air terjun di pinggir jalan (di pinggir jalan!), terus melaju hingga Danau Singkarak. Setelah menikmati ikan bilih (yang konon cuman hidup di Danau Singkarak), kami melanjutkan ke Istana Pagaruyung, Pandai Sikek, Koto Gadang terus sampai ke Bukittingi, dan menginap di sana.

Hari 3: rute di hari ini adalah Puncak Lawang (dimana kita bisa lihat Danau Maninjau dari atas - extremely gorgeous), Danau Maninjau, Ngarai Sianok, lanjut ke Lembah Harau yang berada di dekat perbatasan Sumatera Barat dan Riau. Asli, keren-keren lho booowww :D


Hari 4: waktunya kami untuk kembali ke Padang. Sebelum kami kembali ke Padang, kami mengitari beberapa tempat di Bukittinggi, seperti Jam Gadang, Pasar Atas, Fort de Kock dan kebun binatangnya, dan tak lupa, Taman Panorama dengan Gua Jepangnya. Sayangnya, Gua Jepangnya lagi ditutup untuk beberapa perbaikan. Perjalanan ke Padang kami menyempatkan diri untuk menyicip Sate Mak Syukur di Padang Panjang. Setelah itu, kami langsung ke Padang, mampir di Pantai Air Manis yang terkenal dengan legenda Malin Kundangnya lalu melihat-lihat dari Jembatan Siti Nurbaya.


Hari 5: hari terakhir kami di Sumatera Barat, yang kami habiskan untuk bergerak ke arah Selatan, menyusuri garis pantai. Kami melihat Teluk Bayur (pantesan ada lagunya, Teluk Bayur tuh bagus lho menurut gue), pantai Bungus sampai ke Jembatan Akar. Sumpe deh, jauhnya menta amppooonnn!!! Kami kemudian mampir sebentar di Pantai Padang, untuk menikmati rujak Padang (yang ternyata sama aja dengan rujak-rujak yang pernah gue tau).


Anyway, i had a great time in West Sumatera. Satu hal yang pasti sih, menurut gue, Sumatera Barat merupakan sebuah propinsi yang menawarkan satu paket liburan; trip di darat bisa, trip pantai dan laut juga bisa. Gue sih nggak sempet menikmati trip mantai dan lautnya, hanya a glimpse aja. Tapi, berikutnya gue ke Sumatera Barat, i will definitely try wisata lautnya.

Pengen?

Yuk, liburan keliling Indonesia (ada yang mau sponsorin gue gak?).

Foto lainnya bisa dilihat di sini. Artikel bahasa inggrisnya ada di sini.

ime'...

Tuesday, October 27, 2009


Self Discovery: A Writer or A Storyteller?

Wah, akhirnya, gue tulis juga ini posting. Secara yah, gue udah mikirin posting ini dari kapan tau deh. Semoga isinya berkenan deh buat kelean semua yang baca :)

Posting ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh beberapa pertanyaan gue di masa lalu (old school sekali), tentang warna apa sih yang dipancarkan oleh tulisan gue? Marun, turqoise (warna apaan tuh?) atau markisa (anything but warna-warna pelangi; biar gue bisa membantu orang mengetahui warna-warna lain di bumi ini selain mejikuhibiniu)? Sempet juga gue bosen banget dengan gaya tulisan gue, yang menurut gue terlalu simple dan sederhana (bukannya sama yah?) dan itu gue tulis di sini.

Gue inget banget deh, sangking seriusnya gue pengen tau warna tulisan gue, gue sampe' nyobain beberapa tipe menulis. Misalnya, gue coba
review film, review buku, segala macam bentuk olahraga yang gue tekunin, pikiran-pikiran liar (hah? liar???), sampe' ke tulisan berbahasa inggris. Nggak cuman itu kok, gue juga sempet (dan masih) tergila-gila untuk nulis report (please deh, REPORT!!!) yang sampe' hari ini, gue masih ngutang 2 biji!!

Sekarang, kelean bayangin deh, apa nggak serius tuh gue mencoba untuk mencari jati diri dari tulisan gue? Tapi jujur yeh, gue bener-bener nggak tau, sebenarnya gue itu cocok nulis apaan. Gue cuman ngerti, tulisan gue adalah segala sesuatu yang berseliweran di pikiran gue, hati gue dan kamar gue (tikus, maksud lo?).


Terus tiba-tiba, gue baca sebuah artikel di Reader's Digest Asia edisi Oktober 2009. Artikel-nya simple banget, cuman 1 halaman dan setengah halamannya foto orang (set dah!). Artikel itu ada di halaman 149 under tag Guide Books, sebuah komentar dari Jeffrey Archer. Beliau bilang, bahwa penulis itu ada 2; writer (yang sampe' sekarang gue belum sempet googling, maksudnya apa) dan yang kedua adalah storyteller. Tapi, menurut dia, ada juga kombinasi keduanya. Gue pun masih belum ngeuh, maksudnya apa.

Terus, gue tiba-tiba baca
perahu kertas , dimana gue juga beranggapan bahwa si Kugy, yang ada disitu, adalah storyteller. Tapi mungkin, bukan juga; lantaran menurut gue, storyteller memiliki gaya bahasa deskriptif ketimbang seorang writer. Lucu yah... karena gue jadi tertarik banget untuk tau, sebenarnya gue jenis yang mana. Walaupun kalo' dipikir-pikir juga, agak gak penting buat tau. Kalo' gue menganggap itu penting banget, itu karena gue emang orang yang penasaran aja.

Tapi, tau nggak, gue jadi semakin merasa hidup karena jadi penasaran, sebenarnya gue itu tipe penulis yang seperti apa. Semakin gue penasaran, gue semakin banyak mencoba begitu banyak hal yang ngebuat gue jadi nggak ngerasa hidup gue membosankan. Ada begitu banyak hal yang harus gue temukan tentang diri gue sendiri, ketimbang gue harus mikirin kenapa seseorang mengambil jalan hidup yang aneh atau memiliki sikap aneh (read: GOSSIP!). Gossip itu cape' dan nggak penting tauuuu :P


Moral of this post: hiduplah untuk memperbaiki diri sendiri ketimbang berusaha untuk memperbaiki orang lain. Gak penting! *kok gue merasa ini sama sekali nggak nyambung dengan judul dan paragraf-paragraf di atas yah? tau ah! ini kan blog gue! kalian gak boleh protes!!*

PS: jangan protes sama gue, kenapa gue taro' foto jajanan pasar dan kaktus. Coret lho!!

ime'...

Friday, September 25, 2009


Libur Lebaran: Mengenal Taman Papa

Entah sudah berapa tahun gue tinggal di rumah Papa ini. Rumah yang terletak cukup strategis di Jakarta, membuat beberapa orang envy me, my dad, my sisters and brother. Bukan hanya letaknya yang cukup strategis, namun, fakta bahwa ada rumah layak tinggal yang memiliki taman di tengah kota Jakarta, menjadi satu nilai tambah tersendiri.

Libur lebaran kali ini, gue pun mulai menjelajah taman bokap gue. Ternyata oh ternyata, ada begitu banyak pohon buah-buahan di taman rumah papa. Halaman depan ditumbuhi oleh 3 pohon mangga, 1 pohon rambutan dan 1 pohon kelengkeng serta beberapa tanaman lainnya. Taman samping rumah papa, ditumbuhi oleh pohon jambu air. Belum lagi halaman belakang yang ditumbuhi oleh pohon duren dan pohon nangka.

Papa juga memiliki koleksi tanaman lidah buaya yang entah umurnya sudah berapa. Seinget gue, lidah buaya ini mulai ditanam dalam skala besar oleh kakak tertua gue. Papa juga ternyata cukup ahli dalam masalah tanam menanam. Mungkin, ini disebabkan karena opa dulu suka juga dengan tanam menanam.

Gue inget waktu gue ke Manado waktu kecil, Opa ajak kita (gue dan kakak-kakak gue) ke empang miliknya plus kebun buah-buahan miliknya. Empang opa berisi ikan yang banyak banget sedangkan kebun buah-buahan opa ditumbuhi oleh buah-buahan yang kebanyakan adalah mangga. Itu sebabnya, gue nggak terlalu heran sih melihat kebiasaan Papa untuk meng-upgrade tamannya dengan berbagai macam tanaman buah yang baru. Contoh saja, Papa baru saja menanam pohon nangka dan beliau sedang menyemai biji pepaya untuk kemudian bisa dipindah dari pot untuk mendapatkan pohon pepaya lebat dengan buah yang manis.

Semoga aja, pohon buah-buahan yang ditanami Papa bisa tumbuh dengan subur plus berbuah. Hehehehe... seneng deh bisa lihat hijaunya tumbuhan asli di tengah kota Jakarta di halaman rumah Papa :)

ime'...

Thursday, September 24, 2009


Indonesia: Places I Went and What I Recommend

Postingan yang satu ini sebenarnya ada kaitannya dengan twitter gue, waktu nge-reply salah satu postingan temen gue tentang Indonesia, under tag #visitindonesia. Gue memang belum mengunjungi seluruh Indonesia that's so damn huge, incredibly beautiful and awesomely adventurous. Tapi, dari beberapa tempat yang gue kunjungi di Indonesia ini, gue menemukan beberapa hal, keindahan dan mungkin beberapa one-line tips and description yang mungkin menarik.

Makassar: beautiful sunset at Pantai Losari, don't miss it!

Bungin, Sulawesi Selatan: beautiful landscape at the kaki gunung Latimojong, strive for it!

Baraka, Sulawesi Selatan: drop dead gorgeous cliff on your side; stepped out from your transportation vehicle and explore it.

On your way to Baraka from Enrekang: great landscape.

Toraja: now that's incredible (Kete Kasu, Londa, and lots of more).

Pangandaran: interesting sunset from the little forest nearby.

Greencanyon: awesome rocks, need to bring a waterproof camera.

Karang Cadas, Pangandaran: go to the uphill, and watch the beautiful seashore.

Pulau Air, Kepulauan Seribu: AN AWESOME SNORKELING SPOT INDEED!!! Get the fishermen to take you to the soft-coral spot (you'll be so damn lucky if you could go there).

Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu: beautiful landscape.

Pulau Tidung: enjoy the bike-exploring-island, long bridge and the white beach.

Pulau Kelapa, Kiluan, South Lampung: BEAUTIFUL BEACH AND DOLPHINS SIGHTSEEING.

Pulau Peucang, Ujung Kulon: A MUST-SEE ISLAND!!!

mmm... gue baru inget ini aja sih. Nanti kalo' inget lagi, gue posting lagi yah? Tapi btw, semua kunjungan ini nothing lah kalo' dibandingin sama temen-temen yang laen. I just wanna share my two-cents-thought :)

Our Indonesia is indeed beautiful; so, Indonesian, be proud of it :)

*masih ada Jogja, Bali, where else yah that i've been visited??*

ime'...

Wednesday, September 23, 2009


Libur Lebaran: Bon Bill Bon Bill Bon

Layaknya orang yang tinggal dan bekerja di perusahaan Indonesia, libur lebaran menjadi salah satu waktu yang ditunggu-tunggu; sama, gue juga begitu. Kalau kebanyakan orang menunggu libur lebaran untuk entah pergi kemana, gue menunggu libur lebaran untuk istirahat di rumah; sekalian bantu-bantu kakak untuk beres-beres rumah. Setelah beradaptasi sedikit dengan aktivitas rutin beres-beres rumah, gue mulai mencoba untuk melakukan hal lain; yaitu membereskan file keuangan gue.

For your information, udah sejak lama gue punya project pribadi ini, yaitu untuk menuliskan semua pengeluaran gue dalam setahun (yes, semua!) yang pada akhirnya akan gue 'analisa' untuk tau majority pengeluaran gue itu apa, kemudian gue bisa reduksi di bagian mana aja. Semuanya ini gue harapkan bisa jadi input untuk gue menyusun budget tahunan di tahun berikutnya (seperti: possibility savings, possibility investment, segala macem deh). Emang... endaaaaannngggg!!!! Gaya banget dah!!! Tapi, yah, itulah gue, sedikit idealis sambil berpikir, lucu juga kalo' gue punya bahan penelitian pribadi (dasar peneliti!!!).



Namun, oh namun, semuanya itu nggak gampang, coy!!! Gue harus rajin-rajin buka agenda gue dan mengingat-ingat apa aja yang gue lakuin dengan uang gue, beli apa aja, mindahin tulisan-tulisan di struk belanjaan ke excel untuk lebih detail lagi. Tahun 2007-2008 sih gue cukup sukses yah. Tapi di 2009 ini... ya ampuuunnn... mampus dah gueeee!!!

Jadi yah... salah satu kerjaan gue di libur lebaran ini ya itu... recalling semua pengeluaran gue, menganalisa bon-bon gue juga. Hayaaahhhh!!!!! Semoga beneran di akhir tahun 2009, gue jadi bisa menuai hasilnya (soalnya yang 2007 ama 2008, nggak gue analisa lebih jauh juga sih... heheheh... bandel banget yah gue...).

Nantikan postingan aktivitas libur lebaran gue selanjutnya :)

Udah ah, mau mandi!!! *huh???*


ime'...

Saturday, September 19, 2009


Gempa Jawa Barat September 2009

Gempa yang terjadi pada tanggal 2 September 2009 lalu, berpusat di 142 km Barat Daya kota Tasikmalaya, meninggalkan begitu banyak kepedihan dan kehancuran di kalangan masyarakat Tasik sampai ke Jawa Barat. Entah sudah berapa banyak orang yang harus kehilangan rumahnya, dan merenungi nasib mereka mendekati Hari Raya Idul Fitri, yang pastinya mereka nantikan untuk dirayakan bersama, sekampung. Namun, sepertinya, Idul Fitri tahun ini, harus mereka lewati dengan sederhana dan sekadarnya.

Sudah berkali-kali saya menginginkan untuk mengunjungi daerah korban gempa ini. Hanya saja, saya tidak memiliki kesempatan untuk pergi, karena adanya beberapa kegiatan lainnya. Keberangkatan beberapa teman saya membuat saya iri; namun, saya pikir, pasti saya akan pergi ke salah satu tempat tersebut juga.

Tanggal 18 September 2009 ini, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke daerah Pangalengan, tepatnya di daerah Cikole, dimana saya dan kawan-kawan mengadakan kontak dengan rekan-rekan Pramuka, yang memang mendirikan posko disana. Pak Agus, kontak kami dari posko Pramuka, memberikan informasi mengenai lokasi mana yang membutuhkan bantuan, berapa banyak, dan yang kami lakukan adalah pergi ke lokasi, dengan sebelumnya membeli beberapa bahan yang dibutuhkan.

Menurut Pak Agus, beberapa daerah memang sudah mengalami kemajuan yang cukup pesat; setidaknya, mereka sudah kembali berada di dalam rumah. Sebelumnya, mereka tidak berani berada di dalam rumah, karena takut adanya gempa susulan. Beberapa memang mau tidak mau harus tinggal di bawah naungan tenda, karena rumahnya hancur berantakan. Miris bagi saya ketika menyaksikannya.

Saya juga melihat, bahwa sebenarnya rumah penduduk setempat bukanlah gubuk tak layak, namun sebuah rumah beton, yang harus hancur berkeping-keping akibat benturan lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia tersebut. Saya miris, karena saya jadi lebih memahami, seagung dan semegah apapun rumah kita, kita memiliki potensi untuk mengalami kerusakan parah; semuanya ditentukan bagaimana cara kita membangun rumah kita sendiri. Pilihan yang tidak terlalu banyak pun keterbatasan dana, sepertinya membuat masyarakat membangun rumah mereka dengan seadanya saja; asalkan bisa berteduh dari panasnya matahari, dinginnya malam serta percikan air hujan.

Banyak hal yang saya pelajari dari kunjungan kali ini. Trip yang berbau sosial ini membuat saya jadi lebih mengerti banyak hal terutama mengenai birokrasi, tim-tim yang cepat tanggap serta kesulitan dari masyarakat. Namun, satu hal yang pasti, saya berharap, trip seperti ini bisa lebih sering saya ikuti. Nge-trip sekaligus melakukan sesuatu untuk masyarakat. Kunjungi deh daerah-daerah tersebut, they're still need your hand kok...

ime'...

Sunday, September 13, 2009


Belajar dari Anak-Anak

Hari Minggu selalu menjadi hari yang paling menenangkan saya, karena pada umumnya, di hari Minggu saya nggak grasak-grusuk. Pagi bangun untuk ke gereja, siang biasanya saya olahraga, sore di rumah menikmati pemandangan alam rumah ayah saya, dan malam umumnya kami sekeluarga makan bersama.

Hari Minggu juga menjadi ajang bagi saya untuk bisa bermain bersama dengan keponakan-keponakan saya yang sudah cukup besar, tapi tanggapannya masih lucu-lucu. Tanggapan-tanggapan mereka kadang membuat saya berpikir, bahwa mereka jauh memiliki seluruh dunia, ketimbang saya. Imajinasi mereka tidak dibatasi oleh kata-kata bernama 'realita', atau 'fakta', atau apapun yang terkadang pahit. Imajinasi mereka masih liar bekeliaran di benak mereka, dan itu menjadikan mereka lebih kreatif.

Setelah makan malam bersama keluarga di luar rumah tadi, saya mengajak kedua keponakan saya untuk naik mobil yang saya kendarai, karena saya hanya sendiri. Mereka pun tertawa senang menerima ajakan saya itu. Baru naik ke atas mobil, mereka sudah bilang, "Ayo tante, cepat, kita balap Papa, Mama sama Opa." Saya tertawa (walaupun kesel juga sih). Tapi saya pikir, ya sudahlah, apa salahnya juga yah bermain.

Beberapa menit setelah kami meninggalkan restoran, keponakan saya yang paling tua berkata, "Eh, kita main ABC yuk," pada adiknya. Kontan sang adik menerima ajakan tersebut. Mainannya sederhana, dan saya yakin kita semua pernah memainkannya. Masing-masing akan menunjukkan telapak tangan mereka setelah aba-aba, lalu menghitung jumlah jari yang 'terpasang'. Jumlah jari tersebut kemudian dikorelasikan dengan alfabet; misalnya, angka 1 berarti A, 2 berarti B, 3 berarti C dan seterusnya. Setelah mereka mendapatkan alfabetnya, mereka harus menyebutkan nama binatang dan tumbuhan (plus buah) sebanyak-banyaknya.

Harus saya akui, saya ternyata tidak secepat mereka berpikir. Saya setengah mati berpikir hewan/tumbuhan/buah apa yang dimulai dengan huruf J (Jerapah sudah diambil duluan; begitu pula dengan Jambu). Rasanya frustrasi juga main itu; apalagi, lawannya anak kecil.

Hal ini membawa saya berpikir bahwa memang kita tidak seharusnya menilai anak kecil itu sebagai 'rendah' atau tidak tahu apa-apa atau tanpa pengalaman. Pada umumnya, anak kecil itu justru lebih pintar, karena mereka masih memiliki imajinasi tinggi pun semangat belajar yang super ajaib.

Saya jadi belajar untuk tidak merendahkan orang. Apapun posisinya, berapa pun umurnya, bagaimana pun penampilannya. Saya belajar, justru orang yang modest, merasa dirinya belum apa-apa, memiliki semangat belajar yang jauh lebih tinggi daripada orang yang puas diri. Saya juga belajar, supaya saya juga memiliki 'spirit' anak-anak tersebut; kreatif, mau belajar, senang bergaul, bermain, dan tidak egois. Selalu ingin tahu, banyak bertanya; tidak takut, karena mereka selalu yakin, pasti ada yang jaga.

Faith like a child ini yang kata Jars of Clay, yang bisa jadi modal kita untuk move mountains (yang biasa disinonimkan dengan masalah), crash and send it to the sea.

Would you be like a child, in terms of being humble, brave by taking all risks you probably need to do, to be creative and willing to learn?

I would... and i do hope that you guys would too...

ime'...